Langsung ke konten utama

Enuma Elish: Tujuh Tablet Sejarah Penciptaan

 

Cover dari terjemahan Enuma Elish

Tujuh Tablet Sejarah Penciptaan

Bagian atas loh tanah liat dari legenda Penciptaan Enuma Elish I, Neo-Asyur (Asset No. 58814001).

Bagian atas loh tanah liat dari legenda Penciptaan Enuma Elish I, Neo-Asyur (Asset No. 58814001).

Foto: © The Trustees of the British Museum. Shared under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0) licence.


Enƫma Eliƥ (berarti " Tatkala di tempat mahatinggi") adalah mitos penciptaan kuno dari Babilonia yang berasal dari akhir milenium ke-2 SM. Karya sastra epik ini merupakan salah satu catatan kosmologi Timur Dekat kuno paling lengkap yang berhasil bertahan hingga hari ini.

Pecahan loh batu bersejarah ini pertama kali ditemukan oleh arkeolog Inggris, Austen Henry Layard, pada tahun 1849 di reruntuhan Perpustakaan Ashurbanipal di Niniwe (sekarang Mosul, Irak). Teks ini kemudian diteliti lebih lanjut dan dipublikasikan untuk pertama kalinya oleh pakar Asyriologi, George Smith, pada tahun 1876.

Secara struktur, naskah ini terdiri dari sekitar seribu baris teks yang dipahat menggunakan huruf paku (cuneiform) Sumero-Akkadia di atas tujuh loh tanah liat. Secara garis besar, kisah di dalamnya menguraikan asal-usul pembentukan alam semesta, silsilah para dewa, serta dinamika tatanan kekuasaan religius di Mesopotamia kuno. Pada masanya, teks suci ini juga diperkirakan rutin dikumandangkan sebagai bagian dari ritual sakral selama Festival Akitu (perayaan tahun baru).


Tablet Pertama

1. Tatkala di tempat mahatinggi langit belum bernama,

2. Dan bumi di bawah belum menyandang nama,

3. Dan ApsĂ» purbakala, yang memperanakkan mereka,

4. Dan kekacauan, Tiamat, ibunda dari keduanya,—

5. Perairan mereka bercampur menjadi satu,

6. Dan tiada padang terbentuk, tiada rawa tampak;

7. Tatkala dari para dewa tiada yang telah diciptakan,

8. Dan tiada yang menyandang nama, dan tiada takdir [yang digariskan];

9. Maka diciptakanlah para dewa di tengah-tengah [langit],

10. Lahmu dan Lahamu diciptakan [...].

11. Zaman berganti, [...],

12. Lalu Anshar dan Kishar diciptakan, dan di atas mereka [...].

13. Panjanglah hari-hari, lalu muncullah [...]

14. Anu, putra mereka, [...]

15. Anshar dan Anu [...]

16. Dan dewa Anu [...]

17. Nudimmud, yang mana para ayah [para] leluhurnya [...]

18. Berlimpah dalam segala kebijaksanaan, [...]

19. Ia teramat kuat [...]

20. Ia tiada tertandingi [...]

21. (Demikianlah) ditetapkan dan [menjadi ... para dewa agung (?)].

22. Namun T[iamat dan ÂpsĂ»] (masih) dalam kekacauan [...],

23. Mereka gundah dan [...]

24. Dalam kekacauan(?) ... [...]

25. Kekuatan ApsĂ» tidaklah surut [...]

26. Dan Tiamat mengaum [...]

27. Ia memukul, dan perbuatan mereka [...]

28. Jalan mereka sungguh keji ... [...] ...

29. Lalu ApsĂ», sang bapak para dewa agung,

30. Berseru kepada Mummu, utusannya, dan berfirman kepadanya:

31. "Wahai Mummu, engkau utusan yang menyukakan jiwaku,

32. "Marilah, kepada Tiamat mari kita [pergi]!"

33. Maka pergilah mereka dan di hadapan Tiamat mereka merebahkan diri,

34. Mereka merundingkan sebuah siasat perihal para dewa [putra-putra mereka].

35. ApsĂ» membuka mulutnya [dan bertitah],

36. Dan kepada Tiamat, yang berkilauan, ia sampaikan [firman]:

37. "[...] jalan mereka [...],

38. "Pada siang hari aku tiada dapat beristirahat, pada malam hari [aku tiada dapat merebahkan diri (dalam damai)].

39. "Namun aku akan membinasakan jalan mereka, aku akan [...],

40. "Biarlah ada ratapan, dan mari kita merebahkan diri (kembali dalam damai)."

41. Tatkala Tiamat [mendengar] perkataan ini,

42. Ia murka dan berseru lantang [...].

43. [Ia ...] dengan pedih [...],

44. Ia mengikrarkan kutukan, dan kepada [ApsĂ» ia berucap]:

45. "Lalu apakah yang harus kita [perbuat]?

46. "Biarlah jalan mereka dipersulit, dan mari kita [merebahkan diri (kembali) dalam damai]."

47. Mummu menjawab, dan memberikan nasihat kepada ApsĂ»,

48. [...] dan penuh seteru (terhadap para dewa) nasihat yang Mu[mmu berikan]:

49. "Marilah, jalan mereka memang tangguh, namun engkau harus membinasakan [nya];

50. "Maka pada siang hari engkau akan mendapat istirahat, pada malam hari engkau akan merebahkan diri (dalam damai)."

51. ApsĂ» [mendengarkan] nya dan raut wajahnya menjadi cerah,

52. [Karena] ia (yakni Mummu) merencanakan hal keji terhadap para dewa putra-putranya.

53. [...] ia dilanda ketakutan [...],

54. Lututnya [menjadi lemah(?)], lunglai di bawah tubuhnya,

55. [Oleh sebab perbuatan keji] yang telah direncanakan anak sulung mereka.

56. [...] mereka [...] mereka ubah(?).

57. [...] mereka [...],

58. Ratapan [...] mereka duduk dalam [duka] '

59. [...]

60. Lalu Ea, yang mengetahui segala yang [ada], naik dan ia menyaksikan gerutuan mereka.

61. [...]

62. [...] ... mantera sucinya

63. [...] ... [...]

64. [...]

65. [...] kesengsaraan

66. [...]

67. [...]

[Baris 68-82 hilang.]

83. [...]

84. [...] ...

85. [...] dewa Anu,

86. [... seorang pemba]las.

87. [...]

88. [...] dan ia akan mengacaukan Tiamat.

89. [...] ia ...

90. [...] selama-lamanya.

91. [...] hal yang keji,

92. [...] ... ia berucap:

93. "[...] milikmu [...] telah ia taklukkan dan

94. " [...] ia [meratap] dan duduk dalam penderitaan(?).

95. "[...] dari ketakutan,

96. "[...] kita tidak akan merebahkan diri (dalam damai).

97. "[...] ApsĂ» telah dihancurkan(?),

98. "[...] dan Mummu, yang tertawan, di dalam [...]

99. "[...] engkau lakukan, ...

100. "[...] mari kita merebahkan diri (dalam damai).

101. "[...] ... mereka akan memukul (?) [...].

102. " [...] mari kita merebahkan diri (dalam damai).

103. "[...] engkau harus membalaskan dendam bagi mereka,

104. "[...] kepada prahara engkau harus [...]!"

105. [Dan Tiamat mendengarkan] perkataan dewa yang benderang itu, (dan berucap):

106. "[...] haruslah engkau percayakan! mari kita kobarkan [perang]!"

107. [...] para dewa di tengah-tengah [...]

108. [...] bagi para dewa ia ciptakan.'

109. [Mereka berhimpun bersama dan] di sisi Tiamat [mereka] merangsek maju;

110. [Mereka murka, mereka merajut petaka tanpa rehat] malam dan [siang].

111. [Mereka bersiap untuk bertempur], murka dan mengamuk;

112. [Mereka menyatukan kekuatan] dan mengobarkan perang.

113. [Ummu-Hubu]r, yang membentuk segala sesuatu,

114. [Turut membuat] senjata-senjata tak tertandingi, ia melahirkan monster-monster ular,

115. [Tajam] giginya, dan tanpa ampun taringnya;

116. [Dengan bisa sebagai ganti] darah ia penuhi tubuh [mereka].

117. [Monster-monster naga] ganas ia selimuti dengan teror,

118. [Dengan keagungan] ia dandani mereka, [ia jadikan mereka] bertubuh raksasa.

119. [Barang siapa memandang] mereka, teror akan menguasainya,

120. Tubuh mereka menjulang dan tiada yang sanggup menahan [serangan mereka].

121. [Ia bangkitkan] ular-ular berbisa, dan naga-naga, dan (monster) [Lahamu],

122. [Dan badai topan], dan anjing-anjing buas, dan manusia-kalajengking,

123. Dan [prahara] dahsyat, dan manusia-ikan, dan [domba-domba jantan];

124. [Mereka memanggul] senjata-senjata kejam, tanpa rasa takut akan [pertempuran].

125. Titahnya [sungguh perkasa], [tiada] yang sanggup menentangnya;

126. Dengan rupa demikian, bertubuh raksasa, [ia ciptakan] sebelas (monster).

127. Di antara para dewa yang adalah putra-putranya, oleh karena ia telah memberikan [dukungannya],

128. Ia meninggikan Kingu; di tengah-tengah mereka [ia mengangkat] nya [pada kekuasaan].

129. Untuk berbaris di garda depan pasukan, untuk memimpin [balatentara],

130. Untuk menggemakan isyarat tempur, untuk merangsek dalam serangan,

131. Untuk mengarahkan pertempuran, untuk mengendalikan laga,

132. Kepadanya ia percayakan; dalam [pakaian kebesaran] ia mendudukkannya, (berucap):

133. "Telah kuikrarkan manteramu, di dalam majelis para dewa telah kuangkat engkau pada kekuasaan.

134. "Tampuk kuasa atas segenap para dewa [telah kupercayakan kepadanya].

135. "Termasyhurlah engkau, wahai pasanganku yang terpilih,

136. "Semoga mereka mengagungkan namamu di atas segala [mereka ... para Anunnaki]."

137. Ia menyerahkan kepadanya Tablet Takdir, di atas dada[nya] ia meletakkannya, (berucap):

138. "Titahmu tiada akan berujung sia-sia, dan [firman dari mulutmu akan ditegakkan]."

139. Kini Kingu, (demikianlah) ditinggikan, usai menerima [kuasa Anu],

140. [Menggariskan] nasib di antara para dewa putra-putranya, (berucap):

141. "Biarlah terbukanya mulutmu [memadamkan] sang Dewa-Api;

142. "Barang siapa ditinggikan dalam pertempuran, biarlah ia [mempertontonkan kedahsyatan (nya)]!"

 

Tablet Kedua

1. Tatkala Tiamat memperberat hasil karyanya,

2. [Kejahatan] ia perbuat terhadap para dewa anak-anaknya.

3. [Untuk membalaskan] ApsĂ», Tiamat merencanakan keji,

4. Namun bagaimana ia telah mengumpulkan [kekuatan]nya, [dewa ...] membocorkannya kepada Ea.

5. Ea [mendengarkan] hal ini, dan

6. Ia teramat duka nestapa dan ia duduk dalam kesedihan.

7. [Hari-hari] berlalu, dan amarahnya mereda,

8. Dan ke [tempat] Anshar ayahnya ia melangkah[kan kakinya].

9. [Ia pergi] dan berdiri di hadapan Anshar, bapak yang memperanakkan dia,

10. [Segala yang] telah direncanakan Tiamat ia ceritakan kembali kepadanya,

11. [Seraya berucap, "Ti]amat ibunda kita telah menaruh kebencian pada kita,

12. "Dengan segenap kekuatannya ia mengamuk, penuh murka.

13. "Segenap para dewa telah berpaling kepadanya,

14. "[Bersama] mereka, yang engkau ciptakan, mereka berjalan di sisinya.

15. "Mereka berhimpun bersama dan di sisi Tiamat mereka merangsek maju;

16. "Mereka murka, mereka merajut petaka tanpa rehat malam dan siang.

17. "Mereka bersiap untuk bertempur, murka dan mengamuk;

18. "Mereka telah menyatukan kekuatan dan mengobarkan perang.

19. "Ummu-Hubur, yang membentuk segala sesuatu,

20. "Turut membuat senjata-senjata tak tertandingi, ia telah melahirkan monster-monster ular,

21. "Tajam giginya, dan tanpa ampun taringnya.

22. "Dengan bisa sebagai ganti darah ia telah memenuhi tubuh mereka.

23. "Monster-monster naga ganas ia telah selimuti dengan teror,

24. "Dengan keagungan ia telah dandani mereka, ia telah jadikan mereka bertubuh raksasa.

25. "Barang siapa memandang mereka akan dikuasai oleh teror,"

26. "Tubuh mereka menjulang dan tiada yang sanggup menahan serangan mereka.

27. "Ia telah membangkitkan ular-ular berbisa, dan naga-naga, dan

28. "Dan badai topan dan anjing-anjing buas, dan manusia-kalajengking,

29. "Dan prahara dahsyat, dan manusia-ikan dan domba-domba jantan;

30. "Mereka memanggul senjata-senjata kejam, tanpa rasa takut akan pertempuran.

31. "Titahnya sungguh perkasa, tiada yang sanggup menentangnya;

32. "Dengan rupa demikian, bertubuh raksasa, telah ia ciptakan sebelas (monster).

33. "Di antara para dewa yang adalah putra-putranya, oleh karena ia telah memberikan dukungannya,

34. "Ia telah meninggikan Kingu; di tengah-tengah mereka ia telah mengangkatnya pada kekuasaan.

35. "Untuk berbaris di garda depan pasukan, untuk memimpin balatentara,

36. "Untuk menggemakan isyarat tempur, untuk merangsek dalam serangan,

37. "[Untuk mengarahkan] pertempuran, untuk mengendalikan laga,

38. "Kepadanya [telah ia percayakan]; dalam pakaian kebesaran ia telah mendudukkannya, (berucap):

39. "'[Telah kuikrarkan] [mantera]mu, di dalam majelis para dewa telah kuangkat engkau pada kekuasaan,

40. "'[Tampuk kuasa atas segenap] para dewa telah kupercayakan [kepadamu].

41. "'[Termasyhurlah engkau], wahai [pasanganku yang terpilih],

42. "'[Semoga mereka mengagungkan namamu di atas segala mereka ...] ...'

43. "[Ia telah menyerahkan kepadanya Tablet Takdir, di atas dadanya ia] meletakkannya, (berucap):

44. "'[Titahmu tiada akan berujung sia-sia], dan [firman] dari mulutmu akan ditegakkan.'

45. "[Kini Kingu, (demikianlah) ditinggikan], usai menerima kuasa Anu,

46. "Menggariskan nasib [di antara para dewa, putra-putranya], (berucap):

47. "'Biarlah [terbukanya mulutmu] [memadamkan] sang Dewa-Api;

48. "'[Barang siapa ditinggikan dalam pertempuran], biarlah ia mempertontonkan kedahsyatan (nya)!'"

49. [Tatkala Anshar mendengar bagaimana Tiamat] melakukan pemberontakan yang hebat,

50. [...], ia menggigit bibirnya,

51. [...], pikirannya tiada tenang,

52. Selaksa [...] nya, ia melantunkan ratapan pedih:

53. [...] pertempuran,

54. "[...] engkau ....

55. "[Mummu dan] ApsĂ» telah engkau binasakan,

56. "[Namun Tiamat telah meninggikan Kin]gu, dan di manakah ada yang sanggup menentangnya?"

57. [...] perundingan

58. [ ... sang ... dari] para dewa, N[u]di[mmud]

[Celah sekitar sepuluh baris terjadi di sini.]

(69) [...]

(70) [...]

(71) [...]

(72) [Anshar kepada] putranya menyampaikan [firman]:

(73) "[...] ... pahlawanku yang perkasa,

(74) "[Yang mana] kekuatannya [sungguh besar] dan gempurannya tiada dapat ditahan,

(75) "[Pergilah] dan berdirilah di hadapan Tiamat,

(76) "[Agar] jiwanya [dapat ditenangkan], agar hatinya menjadi penuh welas asih.

(77) "[Namun jika] ia tiada mau mendengarkan perkataanmu,

(78) "[Firman] kami harus engkau sampaikan kepadanya, agar ia menjadi damai."

(79) [Ia mendengar] perkataan Anshar ayahnya

(80) Dan [ia mengarahkan] langkahnya kepadanya, ke arahnya ia berjalan.

(81) Anu [mendekat], ia menyaksikan gerutuan Tiamat,

(82) [Namun ia tiada sanggup menahannya], dan ia berbalik pulang.

(83) [...] Anshar

(84) [...] ia berucap kepadanya:

(85) "[...] kepadaku

[Celah sekitar dua puluh baris terjadi di sini.]

(104) [...]

(105) [...] seorang pembalas [...]

(106) [...] gagah [perkasa]

(107) [...] di tempat keputusannya

(108) [...] ia berucap kepadanya:

(109) "[...] ayahmu

(110) "Engkaulah putraku, yang melembutkan hatinya.

(111) " [...] ke kancah pertempuran engkau akan mendekat,

(112) "[...] barang siapa memandangmu akan beroleh damai."

(113) Dan sang penguasa bersukacita atas perkataan ayahnya,

(114) Dan ia mendekat lalu berdiri di hadapan Anshar.

(115) Anshar memandangnya dan hatinya dipenuhi sukacita,

(116) Ia mengecup bibirnya dan ketakutannya sirna darinya.

(117) "[Wahai ayahku], jangan biarkan firman dari bibirmu dipatahkan,

(118) "Biarkan aku pergi, agar aku dapat menuntaskan segala yang ada di dalam hatimu.

(119) "[Wahai Anshar], jangan biarkan firman dari bibirmu dipatahkan,

(120) ". [Biarkan aku] pergi, agar aku dapat menuntaskan segala yang ada di dalam hatimu."

(121) "Siapakah gerangan manusia itu, yang telah membawamu maju bertempur?

(122) "[...] Tiamat, yang adalah seorang perempuan, kini bersenjata dan menyerangmu."

(123) "[...] ... bersukacitalah dan bergembiralah;

(124) "Tengkuk Tiamat akan segera engkau injak-injak di bawah kaki.

(125) "[...] ... bersukacitalah dan bergembiralah;

(126) "[Tengkuk] Tiamat akan segera engkau injak-injak di bawah kaki.

(127) "Wahai [putra]ku, yang mengetahui segala kebijaksanaan,

(128) "Tenangkanlah [Tiama]t dengan mantera sucimu.

(129) "Segeralah berangkat menempuh jalanmu,

(130) "Sebab [darahmu (?)] tidak akan tumpah, engkau akan kembali lagi."

(131) Sang penguasa bersukacita atas perkataan ayahnya,

(132) Hatinya bersorak-sorai, dan kepada ayahnya ia berucap:

(133) "Wahai Penguasa para dewa, Takdir para dewa agung,

(134) "Jika aku, pembalas kalian,

(135) "Menaklukkan Tiamat dan memberikan kalian kehidupan,

(136) "Adakanlah majelis, jadikan takdirku yang utama dan maklumkanlah.

(137) "Di Upshukkinaku duduklah bersama-sama dengan penuh sukacita,

(138) "Dengan firmanku sebagai ganti kalian, aku akan menggariskan takdir.

(139) "Semoga apa pun yang kuperbuat tetap tiada berubah,

(140) "Semoga firman dari bibirku tiada pernah diubah maupun berujung sia-sia."

 

Tablet Ketiga

1. Anshar membuka mulutnya, dan

2. [Kepada Gaga], [utusan]nya, ia menyampaikan firman:

3. "[Wahai Gaga, engkau utus]an yang menyukakan jiwaku,

4. ''[Kepada Lahmu dan Lah]amu akan kuutus engkau.

5. "[...] dapat engkau capai,

6. ''[...] engkau harus memerintahkan agar dibawa ke hadapanmu.

7. [... biarlah] para dewa, semuanya,

8. "[Bersiap-siap untuk perayaan], di sebuah perjamuan biarlah mereka duduk,

9. "[Biarlah mereka memakan roti], biarlah mereka mencampur anggur,

10. ''[Agar bagi Marduk], pembalas mereka, mereka dapat menggariskan takdir.

11. "[Pergilah,] Gaga, berdirilah di hadapan mereka,

12. ''[Dan segala yang] aku, katakan kepadamu, sampaikan kembali kepada mereka, (dan berucaplah):

13. "[Anshar], putra kalian, telah mengutusku,

14. "[Maksud] hatinya telah ia nyatakan kepadaku.

15. "[Ia berfirman bahwa Tia]mat ibunda kita telah menaruh kebencian pada kita,

16. "[Dengan segenap] kekuatannya ia mengamuk, penuh murka.

17. "Segenap para dewa telah berpaling kepadanya,

18. "Bersama mereka, yang engkau ciptakan, mereka berjalan di sisinya.

19. ''Mereka berhimpun bersama, dan di sisi Tiamat mereka merangsek maju;

20. "Template:Mereka murka, mereka merajut petaka tanpa rehat malam dan siang.

21. ''Mereka bersiap untuk bertempur, murka dan mengamuk;

22. "Mereka telah menyatukan kekuatan dan mengobarkan perang.

23. "Ummu-Hubur, yang membentuk segala sesuatu,

24. "Turut membuat senjata-senjata tak tertandingi, ia telah melahirkan monster-monster ular,

25. "Tajam giginya dan tanpa ampun taringnya.

26. "Dengan bisa sebagai ganti darah ia telah memenuhi tubuh mereka.

27. "Monster-monster naga ganas ia telah selimuti dengan teror,

28. "With splendour she hath decked them, she hath made them of lofty stature. -> 28. "Dengan keagungan ia telah dandani mereka, ia telah jadikan mereka bertubuh raksasa.

29. "Barang siapa memandang mereka, teror akan menguasainya,

30. "Tubuh mereka menjulang dan tiada yang sanggup menahan serangan mereka.

31. "Ia telah membangkitkan ular-ular berbisa, dan naga-naga, dan (monster) Lahamu,

32. "Dan badai topan, dan anjing-anjing buas, dan manusia-kalajengking,

33. "Dan prahara dahsyat, dan manusia-ikan, dan domba-domba jantan;

34. Mereka memanggul senjata-senjata kejam, tanpa rasa takut akan pertempuran.

35. "Titahnya sungguh perkasa, tiada yang sanggup menentangnya;

36. "Dengan rupa demikian, bertubuh raksasa, telah ia ciptakan sebelas (monster).

37. "Di antara para dewa yang adalah putra-putranya, oleh karena ia telah memberikan [dukungan]nya,

38. "Ia telah meninggikan Kingu; di tengah-tengah mereka ia telah mengangkat [nya] pada kekuasaan.

39. ''Untuk berbaris di garda depan pasukan, [untuk memimpin balatentara],

40. "[Untuk] menggemakan isyarat tempur, untuk merangsek [dalam serangan],

41. "[Untuk mengarahkan] pertempuran, untuk mengendalikan [laga],

42. "Kepadanya [telah ia percayakan; dalam pakaian kebesaran] ia telah mendudukkannya, (berucap):

43. "'[Telah] kuikrarkan manteramu, di dalam majelis para dewa [telah kuangkat engkau pada kekuasaan],

44. "'[Tampuk] kuasa atas segenap para dewa [telah kupercayakan kepadamu].

45. "'[Termasyhurlah] engkau, [wahai] pasanganku yang terpilih,

46. "'Semoga mereka mengagungkan namamu di atas segala [mereka ... para Anunnaki].'

47. "Ia telah menyerahkan kepadanya Tablet Takdir, di atas dadanya ia meletakkannya, (berucap):

48. "'Titahmu tiada akan berujung sia-sia, dan firman dari mulut[mu] akan ditegakkan.'

49. "Kini Kingu, (demikianlah) ditinggikan, usai menerima [kuasa Anu],

50. "Menggariskan nasib bagi para dewa, putra-putranya, (berucap):

51. "'Biarlah terbukanya mulutmu memadamkan sang Dewa-Api;

52. "'Barang siapa ditinggikan dalam pertempuran, biarlah ia mempertontonkan kedahsyatan (nya)!'

53. ''Aku telah mengutus Anu, namun ia tiada sanggup menahannya;

54. "Nudimmud dilanda ketakutan dan berbalik pulang.

55. "Namun Marduk telah berangkat, pengarah para dewa, putra kalian;

56. ''Untuk maju melawan Tiamat hatinya telah mendorong (nya).

57. "Ia membuka mulutnya dan berfirman kepadaku, (berucap):

58. "'Jika aku, pembalas kalian,

59. "'Menaklukkan Tiamat dan memberikan kalian kehidupan,

60. "'Adakanlah majelis, jadikan takdirku yang utama dan maklumkanlah.

61. "'Di Upshukkinaku duduklah bersama-sama dengan penuh sukacita;

62. "'Dengan firmanku sebagai ganti kalian, aku akan menggariskan takdir.

63. "'Semoga apa pun yang kuperbuat tetap tiada berubah,

64. "'Semoga firman dari bibirku tiada pernah diubah maupun berujung sia-sia.'

65. "Maka dari itu bergegaslah, dan segera gariskan baginya takdir yang kalian anugerahkan,

66. "Agar ia dapat pergi dan bertempur melawan musuh kalian yang tangguh!"

67. Pergilah Gaga, ia melangkahkan kakinya dan

68. Dengan rendah hati di hadapan Lahmu dan Lahamu, para dewa, para leluhurnya,

69. Ia memberi hormat, dan ia mengecup tanah di bawah kaki mereka.

70. Ia merendahkan dirinya; lalu ia bangkit berdiri dan berbicara kepada mereka, (berucap):

71. "Anshar, putra kalian, telah mengutusku,

72. ''Maksud hatinya telah ia nyatakan kepadaku.

73. "Ia berfirman bahwa Tiamat ibunda kita telah menaruh kebencian pada kita,

74. "Dengan segenap kekuatannya ia mengamuk, penuh murka.

75. "Segenap para dewa telah berpaling kepadanya,

76. "Bersama mereka, yang kalian ciptakan, mereka berjalan di sisinya.

77. "Mereka berhimpun bersama dan di sisi Tiamat mereka merangsek maju;

78. ''Mereka murka, mereka merajut petaka tanpa rehat malam dan siang.

79. "Mereka bersiap untuk bertempur, murka dan mengamuk;

80. ''Mereka telah menyatukan kekuatan dan mengobarkan perang.

81. ''Ummu-Hubur, yang membentuk segala sesuatu,

82. "Turut membuat senjata-senjata tak tertandingi, ia telah melahirkan monster-monster ular,

83. "Tajam giginya dan tanpa ampun taringnya.

84. "Dengan bisa sebagai ganti darah ia telah memenuhi tubuh mereka.

85. ''Monster-monster naga ganas ia telah selimuti dengan teror,

86. "Dengan keagungan ia telah dandani mereka, ia telah jadikan mereka bertubuh raksasa.

87. ''Barang siapa memandang mereka, teror akan menguasainya,

88. "Tubuh mereka menjulang dan tiada yang sanggup menahan serangan mereka.

89. ''Ia telah membangkitkan ular-ular berbisa, dan naga-naga, dan (monster) Lahamu,

90. "Dan badai topan, dan anjing-anjing buas, dan manusia-kalajengking,

91. ''Dan prahara dahsyat, dan manusia-ikan, dan [domba-domba jantan];

92. "Mereka memanggul senjata-senjata kejam, tanpa rasa takut akan pertempuran.

93. "Titahnya sungguh perkasa, tiada yang sanggup menentangnya;

94. ''Dengan rupa demikian, bertubuh raksasa, telah ia ciptakan sebelas (monster).

95. ''Di antara para dewa yang adalah putra-putranya, oleh karena ia telah memberikan dukungannya,

96. "Ia telah meninggikan Kingu; di tengah-tengah mereka ia telah mengangkatnya pada kekuasaan.

97. "Untuk berbaris di garda depan pasukan, untuk memimpin balatentara,

98. ''Untuk menggemakan isyarat tempur, untuk merangsek dalam serangan,

99. "Untuk mengarahkan pertempuran, untuk mengendalikan laga,

100. ''Kepadanya telah ia percayakan; dalam pakaian kebesaran ia telah mendudukkannya, (berucap):

101. "'Telah kuikrarkan manteramu, di dalam majelis para dewa telah kuangkat engkau pada kekuasaan,

102. "'Tampuk kuasa atas segenap para dewa telah kupercayakan kepadamu.

103. "'Termasyhurlah engkau, wahai pasanganku yang terpilih,

104. "'Semoga mereka mengagungkan namamu di atas segala mereka ... para Anunna[ki].'

105. "Ia telah menyerahkan kepadanya Tablet Takdir, di atas dada[nya] [ia meletakkannya], (berucap):

106. "'Titahmu tiada akan berujung sia-sia, [dan firman dari mulutmu akan ditegakkan].

107. "Kini Kingu, (demikianlah) ditinggikan, [usai menerima kuasa Anu],

108. "[Menggariskan nasib] bagi para dewa, putra-putranya, (berucap):

109. "'Biarlah terbukanya mulutmu [memadamkan] sang Dewa-Api;

110. "'Barang siapa ditinggikan dalam pertempuran, [biarlah ia mempertontonkan] kedahsyatan (nya)!'

111. "Aku telah mengutus Anu, namun ia tiada sanggup [menahannya];

112. "Nudimmud dilanda ketakutan dan [berbalik pulang].

113. "Namun Marduk telah berangkat, pengarah [para dewa, putra kalian];

114. "Untuk maju melawan Tiamat [hatinya telah mendorong (nya)].

115. "Ia membuka mulutnya [dan berfirman kepadaku], (berucap):

116. "'Jika aku, [pembalas kalian],

117. "'Menaklukkan Tiamat dan [memberikan kalian kehidupan],

118. "'Adakanlah majelis, [jadikan takdirku yang utama dan maklumkanlah].

119. "'Di Upshukkinaku [duduklah bersama-sama dengan penuh sukacita];

120. "'Dengan firmanku sebagai ganti [kalian, aku akan menggariskan takdir].

121. "'Semoga apa pun yang [ku]perbuat tetap tiada berubah,

122. "'Semoga firman dari [bibirku] tiada pernah diubah maupun berujung sia-sia.'

123. ''Maka dari itu bergegaslah, dan segera [gariskan baginya] takdir yang kalian anugerahkan,

124. "Agar ia dapat pergi dan bertempur melawan musuh kalian yang tangguh!"

125. Lahmu dan Lahamu mendengar dan berseru lantang,

126. Segenap para Igigi meratap dengan pedih, (berucap):

127. ''Apakah yang telah diubah sehingga mereka harus ... [...]

128. ''Kami tiada memahami per[buatan] Tiamat!"

129. Lalu mereka berhimpun dan pergi,

130. Para dewa agung, semuanya, yang menggariskan [takdir].

131. Mereka masuk ke hadapan Anshar, mereka memenuhi [...];

132. Mereka saling mengecup, di dalam majelis [...].

133. Mereka bersiap-siap untuk perayaan, di perjamuan [mereka duduk];

134. Mereka memakan roti, mereka mencampur [anggur-wijen].

135. Minuman manis, anggur madu, mengacaukan [...] mereka,

136. Mereka mabuk karena minum, tubuh mereka terisi penuh.

137. Mereka sepenuhnya berlega hati, jiwa mereka melambung;

138. Lalu bagi Marduk, pembalas mereka, mereka menggariskan takdir.

 

Tablet Keempat

1. Mereka mempersiapkan baginya sebuah ruangan penguasa,

2. Di hadapan para ayah leluhurnya sebagai pangeran ia mengambil tempatnya.

3. "Engkaulah yang paling utama di antara para dewa agung,

4. "Takdirmu tiada tertandingi, firmanmu adalah Anu!

5. "Wahai Marduk, engkaulah yang paling utama di antara para dewa agung,

6. "Takdirmu tiada tertandingi, firmanmu adalah Anu!

7. "Semenjak saat ini tiada akan berujung sia-sia titahmu,

8. "Dalam kekuasaanmulah untuk meninggikan dan merendahkan.

9. "Akan ditegakkan firman dari mulutmu, tak tertahankan kelak titahmu;

10. "Tiada satu pun di antara para dewa akan melanggar batasmu.

11. "Kelimpahan, dambaan kuil-kuil para dewa,

12. "Akan ditegakkan di tempat sucimu, kendati mereka kekurangan (persembahan).

13. "Wahai Marduk, engkaulah pembalas kami!

14. "Kami serahkan kepadamu kedaulatan atas seluruh dunia.

15. "Duduklah engkau di malam hari, ditinggikanlah dalam titahmu.

16. "Senjatamu tiada akan pernah kehilangan kekuatannya, ia akan meremukkan musuhmu.

17. "Wahai penguasa, selamatkanlah nyawa ia yang menaruh kepercayaannya padamu,

18. "Namun adapun dewa yang memulai pemberontakan itu, tumpahkanlah nyawanya."

19. Lalu mereka meletakkan sehelai jubah di tengah-tengah mereka,

20. Dan kepada Marduk anak sulung mereka, mereka berucap:

21. "Semoga takdirmu, wahai penguasa, menjadi yang tertinggi di antara para dewa,

22. "Untuk membinasakan dan menciptakan; ucapkanlah firman, dan (titahmu) akan digenapi.

23. "Bertitahlah sekarang dan biarkan jubah itu lenyap;

24. "Dan ucapkanlah firman sekali lagi dan biarkan jubah itu muncul kembali!"

25. Lalu ia berfirman dengan mulutnya, dan jubah itu pun lenyap;

26. Kembali ia bertitah, dan jubah itu pun muncul kembali.

27. Tatkala para dewa, para ayah leluhurnya, menyaksikan (penggenapan) firmannya,

28. Mereka bersukacita, and mereka memberikan penghormatan (kepadanya, berucap), "Marduk adalah raja!"

29. Mereka menganugerahkan kepadanya tongkat kerajaan, dan takhta, dan cincin,

30. Mereka memberikannya senjata tak tertandingi, yang menundukkan musuh.

31. "Pergilah, dan putuskanlah nyawa Tiamat,

32. "Dan biarlah angin membawa darahnya ke tempat-tempat yang tersembunyi."

33. Usai para dewa para ayah leluhurnya menggariskan takdir bagi sang penguasa,

34. Mereka menyuruhnya berangkat menempuh jalan kemakmuran dan keberhasilan.

35. Ia menyiapkan busurnya, ia memilih senjatanya,

36. Ia menyelempangkan tombak pada tubuhnya dan mengikatkannya . . .

37. Ia mengangkat gada, di tangan kanannya ia menggenggam (nya),

38. Busur dan tabung panah ia gantungkan di sisinya.

39. Ia menempatkan kilat di hadapannya,

40. Dengan nyala api yang berkobar ia penuhi tubuhnya.

41. Ia merajut jaring untuk mengurung bagian dalam Tiamat,

42. Keempat angin ia tempatkan agar tiada satu pun dari dirinya dapat lolos;

43. Angin Selatan dan angin Utara dan angin Timur dan angin Barat

44. Ia bawa mendekat ke jaring itu, anugerah dari ayahnya, Anu.

45. Ia menciptakan angin jahat, dan prahara, dan badai topan,

46. Dan angin lipat-empat, dan angin lipat-tujuh, dan angin puyuh, dan angin yang tiada tandingannya;

47. Ia melepaskan angin-angin yang telah ia ciptakan, ketujuh angin itu;

48. Untuk mengacaukan bagian dalam Tiamat, mereka mengikutinya.

49. Lalu sang penguasa mengangkat petir, senjata perkasanya,

50. Ia menaiki kereta perang, badai yang tiada tertandingi kedahsyatannya,

51. Ia memasangkan dan menambatkan kepadanya empat ekor kuda,

52. Penghancur, ganas, menundukkan, dan berpacu lincah;

53. [...] gigi-gigi mereka, mulut mereka berbusa;

54. Mereka terlatih dalam [...], mereka telah dilatih untuk menginjak-injak di bawah kaki.

55. [...], perkasa dalam pertempuran,

56. Kiri dan [kanan ...

57. Jubahnya adalah [...], ia diselimuti dengan teror,

58. Dengan cahaya yang menundukkan kepalanya dimahkotai.

59. Lalu ia berangkat, ia menempuh jalannya,

60. Dan ke arah Tiamat yang [meng]amuk ia menatap.

61. Di bibirnya ia menahan [...],

62. ... [...] ia menggenggam di tangannya.

63. Lalu mereka memandangnya, para dewa memandangnya,

64. Para dewa para ayah leluhurnya memandangnya, para dewa memandangnya.

65. Dan sang penguasa mendekat, ia menatap bagian dalam Tiamat,

66. Ia mengamati gerutuan Kingu, pasangannya.

67. Tatkala (Marduk) menatap, (Kingu) menjadi goyah langkahnya,

68. Niatnya hancur dan gerakannya terhenti.

69. Dan para dewa, para penolongnya, yang berbaris di sisinya,

70. Memandang [...] pemimpin mereka, dan pandangan mereka menjadi nanar.

71. Namun Tiamat [...], ia tiada memalingkan lehernya,

72. Dengan bibir yang tiada goyah ia mengikrarkan kata-kata pemberontakan:

73. "[...] kedatanganmu sebagai penguasa para dewa,

74. "Dari tempat mereka, mereka telah berhimpun, di tempatmu mereka berada!"

75. Lalu sang penguasa [mengangkat] petir, senjata perkasanya,

76. [Dan terhadap] Tiamat, yang sedang mengamuk, demikianlah ia mengirimkan (firman):

77. "[Engkau] telah menjadi besar, engkau telah meninggikan dirimu sendiri di tempat tinggi,

78. "Dan [hatimu telah mendorong] mu untuk menantang pertempuran.

79. "[...] ayah leluhur mereka [...],

80. "[...] [...] mereka, engkau membenci [...].

81. "[Engkau telah meninggikan King]u menjadi pasangan[mu],

82. "[Engkau telah . . . ] dia, agar, sama seperti Anu, ia mengeluarkan titah.

83. "[...] engkau telah mengikuti yang keji,

84. "Dan [terhadap] para dewa para ayah leluhurku engkau telah merajut siasat kejimu.

85. "Biarlah pasukanmu bersiap, biarlah senjatamu disandang!

86. "Berdirilah! Aku dan engkau, mari kita beradu dalam pertempuran!"

87. Tatkala Tiamat mendengar perkataan ini,

88. Ia menjadi bak orang yang kerasukan, ia kehilangan akal sehatnya.

89. Tiamat menggemakan pekikan liar yang menyayat hati,

90. Ia gemetar dan terguncang hingga ke dasar wujudnya.

91. Ia merapalkan sebuah mantera, ia melantunkan tenungnya,

92. Dan para dewa pertempuran berseru meminta senjata-senjata mereka.

93. Lalu majulah Tiamat dan Marduk, penasihat para dewa;

94. Ke kancah laga mereka maju, ke medan pertempuran mereka mendekat.

95. Sang penguasa membentangkan jaringnya dan menjeratnya,

96. Dan angin jahat yang berada di belakang (nya) ia lepaskan ke arah wajahnya.

97. Tatkala Tiamat membuka mulutnya selebar-lebarnya,

98. Ia mendesakkan angin jahat ke dalamnya, selagi ia belum mengatupkan bibirnya.

99. Angin yang mengerikan memenuhi perutnya,

100. Dan keberaniannya terenggut darinya, dan mulutnya ia buka lebar-lebar.

101. Ia meraih tombak dan merobek perutnya,

102. Ia mencabik-cabik bagian dalamnya, ia menembus jantung (nya).

103. Ia menaklukkannya dan memutuskan nyawanya;

104. Ia mencampakkan tubuhnya dan berdiri di atasnya.

105. Tatkala ia telah membinasakan Tiamat, sang pemimpin,

106. Kekuatannya dipatahkan, balatentaranya dicerai-beraikan.

107. Dan para dewa para penolongnya, yang berbaris di sisinya,

108. Gemetar, dan dilanda ketakutan, dan berbalik pulang.

109. Mereka melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa mereka;

110. Namun mereka telah dikepung, sehingga mereka tiada dapat meloloskan diri.

111. Ia menawan mereka, ia mematahkan senjata-senjata mereka;

112. Di dalam jaring mereka terjerat dan di dalam perangkap mereka terduduk.

113. [...] ... dunia mereka penuhi dengan jeritan duka nestapa.

114. Mereka menerima hukuman darinya, mereka ditahan dalam belenggu.

115. Dan kepada kesebelas makhluk yang telah ia penuhi dengan kekuatan untuk menebarkan teror,

116. Kepada pasukan iblis, yang berbaris di [...] nya,

117. Ia menimpakan penderitaan, kekuatan mereka [ia ...];

118. Mereka dan perlawanan mereka ia injak-injak di bawah kakinya.

119. Lebih dari itu, Kingu, yang telah ditinggikan atas mereka,

120. Ia taklukkan, dan bersama dewa Dug-ga ia menggolongkannya.

121. Ia merampas darinya Tablet Takdir yang bukan haknya,

122. Ia memeteraikannya dengan sebuah meterai dan di dadanya sendiri ia meletakkannya.

123. Kini usai sang pahlawan Marduk menaklukkan dan mencampakkan musuh-musuhnya,

124. Dan telah menjadikan musuh yang angkuh itu bak ...,

125. Dan telah sepenuhnya menegakkan kejayaan Anshar atas sang musuh,

126. Dan telah mencapai tujuan Nudimmud,

127. Atas para dewa yang tertawan ia memperkuat belenggunya,

128. Dan kepada Tiamat, yang telah ia taklukkan, ia kembali.

129. Dan sang penguasa berdiri di atas bagian belakang Tiamat,

130. Dan dengan gadanya yang tanpa ampun ia meremukkan tengkoraknya.

131. Ia memutus aliran-aliran darahnya,

132. Dan ia menyuruh angin Utara membawanya pergi ke tempat-tempat yang tersembunyi.

133. Para ayah leluhurnya memandang, dan mereka bersukacita dan bergembira;

134. Persembahan dan hadiah mereka bawa kepadanya.

135. Lalu sang penguasa beristirahat, menatap jasadnya yang mati,

136. Sembari ia membelah daging dari ..., dan merajut sebuah rencana yang cerdik.

137. Ia membelahnya bak seekor ikan pipih menjadi dua bagian;

138. Satu bagian dari dirinya ia tetapkan sebagai penutup bagi langit.

139. Ia memasang palang pintu, ia menempatkan seorang penjaga,

140. Dan memerintahkan mereka untuk tiada membiarkan airnya memancar keluar.

141. Ia melintasi langit-langit, ia meninjau wilayah-wilayah (nya),

142. Dan tepat di hadapan Samudra Dalam ia mendirikan tempat kediaman Nudimmud.

143. Dan sang penguasa mengukur bangun dari Samudra Dalam,

144. Dan ia mendirikan E-shara, sebuah kediaman yang serupa dengannya.

145. Kediaman E-shara yang ia ciptakan sebagai langit,

146. Ia menyebabkan Anu, BĂȘl, dan Ea untuk mendiami wilayah-wilayah mereka.


Tablet Kelima

1. Ia (yakni Marduk) membuat tempat-tempat kedudukan bagi para dewa agung;

2. Bintang-bintang, citra-citra mereka, sebagai bintang-bintang Zodiak, ia tetapkan.

3. Ia menetapkan tahun dan ke dalam bagian-bagian ia membaginya;

4. Untuk kedua belas bulan ia menetapkan tiga bintang.

5. Usai ia telah [...] hari-hari dalam tahun [...] citra-citra,

6. Ia mendirikan tempat kedudukan Nibir untuk menentukan batas-batas mereka;

7. Agar tiada yang keliru maupun tersesat,

8. Ia menempatkan kedudukan BĂȘl dan Ea bersama dengannya.

9. Ia membuka gerbang-gerbang agung di kedua sisi,

10. Ia memperkuat palang pintu di sebelah kiri dan di sebelah kanan.

11. Di tengah-tengahnya ia menetapkan titik puncak;

12. Sang Dewa-Bulan ia jadikan bersinar terang, malam ia percayakan kepadanya.

13. Ia menunjuknya, sesosok wujud malam, untuk menentukan hari-hari;

14. Setiap bulan tanpa henti dengan mahkota ia menutupi(?)nya, (berucap):

15. "Pada permulaan bulan, tatkala engkau bersinar ke atas negeri,

16. "Engkau menitahkan tanduk-tanduk untuk menentukan enam hari,

17. "Dan pada hari ketujuh untuk [membagi] mahkota.

18. "Pada hari keempat belas engkau akan berdiri berhadapan, separuh [...].

19. "Tatkala sang Dewa-Matahari di dasar langit [...] mu,

20. "[...] akan engkau jadikan ..., dan engkau akan membuat [...] nya.

21. "[...] ... ke jalan sang Dewa-Matahari akan engkau bawa mendekat,

22. "[Dan pada hari ke ...] engkau akan berdiri berhadapan, dan sang Dewa-Matahari akan ... [...]

23. "[...] untuk melintasi jalannya.

24. "[...] akan engkau bawa mendekat, dan engkau akan menghakimi yang benar.

25. "[...] untuk membinasakan

26. "[...] ku.

"..."

 

(66) [...]

(67) [...]

(68) Dari [...]

(69) Di E-sagil [...]

(70) Untuk menegakkan [...]

(71) Kedudukan dari [...]

(72) Para dewa agung [...]

(73) Para dewa [...]

(74) Ia mengambil dan [...]

(75) Para dewa [para ayah leluhurnya] memandang jaring yang telah ia buat,

(76) Mereka memandang busur itu dan bagaimana [karyanya] telah diselesaikan.

(77) Mereka memuji karya yang telah ia buat [...]

(78) Lalu Anu mengangkat [...] di dalam majelis para dewa.

(79) Ia mengecup busur itu, (berucap), "Itu adalah [...]!"

(80) Dan demikianlah ia menamai nama-nama busur itu, (berucap),

(81) "'Kayu-Panjang' akan menjadi satu nama, dan nama kedua [akan menjadi ...]

(82) "Dan nama ketiganya adalah Bintang-Busur, di langit [ia akan ...]"

(83) Lalu ia menetapkan sebuah kedudukan baginya [...]

(84) Kini usai takdir dari [...]

(85) [Ia menempatkan] sebuah takhta [...]

(86) [...] di langit [...]

(87) [...] ... [...]

 

(128) "[...] dia [...]"

(129) "[...] mereka [...]"

(130) "[...] dia [...]"

(131) "[...] mereka [...]"

(132) "[...] mereka [...] semoga [...]"

(133) [...] para dewa berucap,

(134) [...] langit [...]: 1

(135) "[... putra] kalian [...]"

(136) "[...] kami [...] telah ia [...]"

(137) "[...] ia telah karuniakan kehidupan [...]"

(138) "[...] keagungan [...]"

(139) "[...] tiada [...]!"

(140) "[...] kami [...]!"

 

Tablet Keenam

1. Tatkala Marduk mendengar firman para dewa,

2. Hatinya mendorongnya dan ia merajut [sebuah rencana yang cerdik].

3. Ia membuka mulutnya dan kepada Ea [ia berucap],

4. [Apa yang] telah ia gagas di dalam hatinya ia sampaikan [kepadanya]:

5. "Darahku akan kuambil dan tulang akan ku[bentuk],

6. "Aku akan menjadikan manusia, agar manusia dapat ... [...].

7. "Aku akan menciptakan manusia yang akan mendiami [bumi],"

8. "Agar pengabdian kepada para dewa dapat ditegakkan, dan agar kuil-kuil [mereka] [dapat didirikan].

9. "Namun aku akan mengubah jalan-jalan para dewa, dan aku akan mengganti [haluan mereka];

10. "Bersama-sama mereka akan ditindas, dan kepada yang keji akan [mereka ...]."

11. Dan Ea menjawabnya dan menyampaikan firman:

12. "[...] [...] dari para dewa telah ku[ubah]

13. [...] ... dan satu ... [...]

14. [...akan di]binasakan dan manusia akan ku[...]

15. [...] dan para dewa [...]

16. [...] ... dan mereka [...]

17. [...] ... dan para dewa [...]

18. [...] .... [...]

19. [...] para dewa [...]

20. [...] para Anunnaki [...]

21. [...] ... [...]

[Sisa dari teks ini hilang 1 dengan pengecualian beberapa baris terakhir dari Tablet tersebut, yang berbunyi sebagai berikut.]

138. [...] ... [...]

139. [...] ... [...]

140. Tatkala [...] ... [...]

141. Mereka bersukacita [...] ... [...]

142. Di Upshukkinnaku mereka menetapkan [tempat kediaman mereka].

143. Perihal putra yang gagah berani, pembalas mereka, [mereka berseru]:

144. "Kami, yang telah ia tolong, ... [...]!"

145. Mereka duduk dan di dalam majelis mereka menamai[nya ...],

146. Mereka semua [berseru lantang (?), mereka meninggikan [nya ...].

 

Tablet Ketujuh

1. Wahai Asari, "Penganugerah penanaman," "[Pendiri penaburan],"

2. "Pencipta gandum dan tetumbuhan," "yang menumbuhkan [rumput hijau]!"

3. Wahai Asaru-alim, "yang dihormati di dalam balai musyawarah," "[yang berlimpah dalam nasihat],"

4. Para dewa memberikan penghormatan, ketakutan [menguasai mereka]!

5. Wahai Asaru-alim-nuna, "yang perkasa," "Cahaya dari [bapak yang memperanakkan dia],"

6. Yang mengarahkan ketetapan-ketetapan Anu, Bel, [dan Ea]!"

7. Ia adalah pelindung mereka, ia menggariskan [mereka . . . . ];

8. Ia, yang persediaannya adalah kelimpahan, melangkah maju [...]!

9. Tutu [adalah] 1 "Dia yang menciptakan mereka menjadi baru;"

10. Apabila keinginan mereka murni, maka mereka pun [terpuaskan];

11. Apabila ia merapalkan mantera, maka para dewa pun [ditenangkan];

12. Apabila mereka menyerangnya dalam amarah, ia menahan [gempuran mereka]!

13. Maka dari itu biarlah ia ditinggikan, dan di dalam majelis para dewa [biarlah ia ...];

14. Tiada satu pun di antara para dewa sanggup [menandinginya]!

15. Tutu adalah Zi-ukkina, "Kehidupan dari balatentara [para dewa],"

16. Yang menegakkan bagi para dewa langit yang benderang.

17. Ia mengarahkan mereka pada jalan mereka, dan menggariskan [jalan mereka (?)]

18. Tiada akan pernah perbuatannya [...] dilupakan di antara manusia.

19. Tutu sebagai Zi-azag, ketiganya, mereka namai, "Pembawa 1 Penyucian,"

20. "Dewa Angin Hembusan Suka Cita," "Penguasa Pendengaran dan Welas Asih,"

21. "Pencipta Kesejahteraan dan Kelimpahan," "Pendiri Kemakmuran,"

22. "Yang menumbuhkan segala yang kecil."

23. "Dalam penderitaan pedih kami merasakan hembusan suka citanya,"

24. Biarlah mereka berucap, biarlah mereka memberikan penghormatan, biarlah mereka menunduk dalam kerendahan hati di hadapannya!

25. Tutu sebagai Aga-azag semoga umat manusia, keempatnya, mengagungkan!

26. "Penguasa Mantera Suci," "Pembangkit Mereka yang Mati,"

27. "Yang berbelas kasih kepada para dewa yang tertawan,"

28. "Yang menyingkirkan kuk dari atas para dewa musuh-musuhnya,"

29. "Demi pengampunan merekalah ia menciptakan umat manusia,"

30. "Yang Maha Welas Asih, yang padanya ada penganugerahan kehidupan!"

31. Semoga perbuatannya kekal abadi, semoga tiada pernah dilupakan

32. Di mulut umat manusia 1 yang tangan-Nya telah ciptakan!

33. Tutu sebagai Mu-azag, kelimanya, semoga mulut mereka memaklumkan "Mantera Suci" miliknya,

34. "Yang melalui Mantera Sucinya telah membinasakan semua yang keji!"

35. Shag-zu, "yang mengetahui isi hati para dewa," "yang menembus hingga ke lubuk terdalam!"

36. "Pembuat kejahatan tidak ia biarkan melangkah maju bersamanya!"

37. "Pendiri majelis para dewa," "[yang ...] hati mereka!"

38. "Penunduk mereka yang membangkang," "[...]!"

39. "Yang memberontak dan [...]!"

41. Tutu sebagai Zi-si, "[...,

42. "Yang mengakhiri amarah," "[yang ...]!"

43. Tutu sebagai Suh-kur, ketiganya, "[Penyirna musuh],"

44. "Yang mengacaukan rencana-rencana mereka," "[...],"

45. "Yang membinasakan semua yang keji," "[...],"

46. [...] biarlah mereka [...]!

47. [...] ... [...]

[Ia menamai keempat penjuru (dunia)], umat manusia [ia ciptakan],

[Dan ke atas] nya pemahaman [...]

[...] ... [...]

[...] Tiamat [...]

[...] ... [...]

[...] nun jauh [...]

[...] semoga [...].

 

[...]

(10) [...]

"Yang perkasa [...]!"

... Agi[l ...],

"Pencipta [bumi ...]!"

Zulummu ... [...],

"Pemberi nasihat dan apa pun juga [...]!"

Mummu, "Pencipta [dari ...]!"

Mulil, langit [...], "Yang bagi ... [...]!"

Gishkul, biarlah [...],

(10) "Yang melenyapkan para dewa [...]!"

Lugal-ab-[...],

"Yang dalam [ ............ ]!"

Pap-[...],

"Yang dalam [...]!"

[...]

 

[...].

[...] ...

[... Sang Pemimpin (?)] segenap penguasa,"

[... tertinggi] lah kekuatannya!

[Lugal-durmah, "Raja] rombongan para dewa," "Penguasa para pemimpin,"

"Yang ditinggikan dalam kediaman agung,"

"[Yang] di antara para dewa teramat agung dan tertinggi!"

[Adu-nuna], "Penasihat Ea," yang menciptakan para dewa ayah leluhurnya,

Kepada jalan keagungannya

[Tiada] dewa yang sanggup mencapainya!

[... di] Dul-azag ia memaklumkannya,

[...] suci kediamannya!

[... dari] mereka yang tiada memiliki pemahaman adalah Lugal-dul-azaga!

[...] tertinggi lah kekuatannya!

[...] [...] mereka di tengah-tengah Tiamat,

[...] ... pertempuran!

 

105. [...] ... [...] nya,

106. [...] ... bintang, yang [bersinar di langit].

107. Semoga ia memegang Permulaan dan Masa Depan, semoga mereka memberikan penghormatan kepadanya,

108. Berucap, "Ia yang meretas jalannya menembus bagian dalam Tiamat [tanpa rehat],

109. "Biarlah namanya menjadi Nibiru, 'Pencengkeram Bagian Tengah'!

110. "Bagi bintang-bintang di langit ia menegakkan jalan-jalannya,

111. "Ia menggembalakan segenap para dewa bak kawanan domba!

112. "Ia menaklukkan Tiamat, ia mengacaukan dan mengakhiri nyawanya,"

113. Di masa depan umat manusia, tatkala hari-hari bertambah tua,

114. Semoga hal ini didengar tanpa henti, semoga ia berkuasa selama-lamanya!

115. Oleh karena ia menciptakan alam (langit) dan membentuk bumi yang kukuh,

116. "Penguasa Dunia," sang bapak BĂȘl telah menyebut namanya.

117. Gelar (ini), yang dimaklumkan oleh segenap Roh Langit,

118. Didengar oleh Ea, dan jiwanya pun bersukacita, (dan ia berucap):

119. "Ia yang namanya telah diagungkan oleh para ayah leluhurnya,

120. "Akan menjadi sama sepertiku, namanya akan menjadi Ea!

121. "Ikatan atas segala ketetapanku akan ia kendalikan,

122. "Segala titahku akan ia maklumkan! "

123. Dengan nama "Lima Puluh" para dewa agung

124. Memaklumkan kelima puluh namanya, mereka menjadikan jalannya yang paling utama."

 

Epilog

 

125. Biarlah mereka selalu dikenang, dan biarlah manusia pertama memaklumkan mereka;

126. Biarlah orang bijak dan mereka yang memiliki pemahaman merenungkannya bersama-sama!

127. Biarlah sang ayah mengulangnya dan mengajarkannya kepada putranya;

128. Biarlah mereka mengalun di telinga sang gembala dan pemelihara ternak!

129. Biarlah manusia bersukacita di dalam Marduk, Penguasa para dewa,

130. Agar ia dapat menyebabkan tanahnya berbuah lebat, dan agar ia sendiri beroleh kemakmuran!

131. Firmannya berdiri teguh, titahnya tiada berubah;

132. Sabda dari mulutnya tiada pernah dibatalkan oleh dewa mana pun.

133. Ia menatap dalam amarahnya, ia tiada memalingkan lehernya;

134. Tatkala ia murka, tiada dewa yang sanggup menahan keberangannya.

135. Lapang hatinya, luas welas asihnya;

136. Orang berdosa dan pembuat kejahatan di hadapannya [...].

137. Mereka menerima petunjuk, mereka berucap di hadapannya,

138. [...] kepada [...].

139. [...] dari Marduk semoga para dewa [...].

140. [Semoga] mereka [... nama ] nya [...]!

141. [...] mereka mengambil dan [...];

142. [...]!

Komentar