Kisah Epos Gilgamesh
merupakan sebuah mahakarya sastra kepahlawanan kuno yang lahir dari peradaban
kuno Mesopotamia. Cerita yang berpusat pada sosok Gilgamesh, sang Raja Uruk,
ini memiliki riwayat penulisan yang sangat panjang dengan sumber-sumber sejarah
yang tersebar dalam rentang waktu lebih dari dua milenium. Perjalanan sastra
ini bermula dari lima puisi terpisah dalam bahasa Sumeria yang diperkirakan
sudah ada sejak masa Dinasti Ketiga Ur sekitar tahun 2100 Sebelum Masehi. Pada
masa awal tersebut, nama Gilgamesh sendiri sempat diduga ditulis dalam bentuk
kuno bernama Bilgames. Alih-alih menjadi bagian dari satu kesatuan epos,
puisi-puisi Sumeria paling awal ini sebenarnya merupakan cerita-cerita mandiri
yang berdiri sendiri.
Seiring berjalannya
waktu, kisah-kisah independen tersebut kemudian diolah dan dijadikan sebagai
materi dasar untuk disatukan menjadi sebuah narasi tunggal dalam bahasa
Akkadia. Dari berbagai sumber sejarah yang berhasil ditemukan, para ahli modern
berhasil merekonstruksi sebagian dari dua versi utama epik ini. Versi gabungan
pertama yang berhasil bertahan dikenal sebagai Versi Babilonia Tua yang berasal
dari sekitar tahun 1800 Sebelum Masehi. Naskah ini dinamai berdasarkan kalimat
pembukanya, yaitu Shūtur eli sharrī yang berarti
"Melampaui Semua Raja Lainnya". Meskipun versi ini merupakan bukti
tertua dari satu narasi utuh Epik Gilgamesh, sayangnya hanya sedikit kepingan
tablet tanah liat dari masa ini yang berhasil selamat hingga sekarang.
Selanjutnya, muncul
Versi Standar Babilonia yang disusun oleh seorang editor bernama
Sîn-lēqi-unninni, yang diperkirakan hidup di antara abad ke-13 hingga ke-10
Sebelum Masehi. Versi Akkadia yang lebih baru ini mengusung kalimat pembuka Sha naqba īmuru, yang bermakna "
Dia yang menatap Samudra Dalam " atau
secara harfiah berarti "Dia yang Melihat Hal-Hal Tak Diketahui".
Secara keseluruhan, versi standar ini memiliki struktur yang lebih panjang dan
terdiri dari dua belas tablet, di mana sekitar dua pertiga bagian ceritanya
telah berhasil ditemukan kembali oleh para arkeolog. Beberapa salinan terbaik
dari versi dua belas tablet ini berhasil diselamatkan dari reruntuhan
perpustakaan milik Raja Asyur bernama Ashurbanipal yang berasal dari abad ke-7
Sebelum Masehi.
Dalam dunia akademis
modern, kedua versi utama beserta puisi-puisi Sumeria kuno ini menjadi rujukan
yang sangat krusial bagi proses penerjemahan. Melalui analisis mendalam
terhadap teks Babilonia Tua, para ahli dapat merekonstruksi kembali kemungkinan
bentuk-bentuk awal dari epik kepahlawanan ini. Selain itu, lembaran teks yang
lebih kuno tersebut juga mengemban peran penting untuk menambal kekosongan atau
bagian-bagian yang hilang pada naskah yang lebih baru. Kendati para peneliti
terus menerbitkan berbagai versi revisi seiring dengan adanya penemuan-penemuan
arkeologis mutakhir di lapangan, kisah Epik Gilgamesh secara keseluruhan tetap
bertahan dalam kondisi yang belum sepenuhnya lengkap.
Daftar Isi:
Tablet I. Kedatangan Enkidu
Tablet II. Penjinakan Enkidu
Tablet III. Persiapan Ekspedisi menuju Hutan Aras
Tablet IV. Perjalanan menuju Hutan Aras
Tablet V. Pertarungan dengan Humbaba
Tablet
VI. Ishtar dan Banteng Surga
Tablet
VII. Kematian Enkidu
Tablet
VIII. Pemakaman Enkidu
Tablet
IX. Pengembaraan Gilgamesh
Tablet
X. Di Tepi Dunia
Tablet
XI. Keabadian yang Tak Diperoleh
Tablet
XII. Lampiran
Gilgamesh dan Huwawa: ‘Sang Penguasa menuju Gunung Sang Makhluk Hidup’ dan ‘Ho, bersoraklah!’
Gilgamesh dan Banteng
Surga: ‘Pahlawan dalam pertempuran’
Gilgamesh dan Dunia Bawah: ‘Pada masa itu, pada masa yang jauh di masa silam’
Kematian Gilgamesh: ‘Banteng liar agung itu membaringkan dirinya’
Komentar
Posting Komentar