Puisi kuno yang dikenal dengan judul "Pada masa itu, pada masa yang jauh di masa silam" merupakan bacaan favorit di sekolah juru tulis Nippur dan Ur pada zaman Babilonia Lama. Berbeda dari kisah Sumeria lainnya, puisi ini memiliki prolog mitologi. Dikisahkan pada zaman dahulu kala, saat dewa Enki berlayar menuju Dunia Bawah menembus badai dahsyat, sebatang pohon dedalu tumbang di tepi sungai Efrat. Dewi Inanna memungut pohon itu dan menanamnya di Uruk dengan harapan kayunya kelak bisa dijadikan perabotan. Namun setelah pohon itu tumbuh besar, makhluk-makhluk jahat bersarang di sana. Karena dewa matahari Utu enggan menolongnya, Inanna meminta bantuan Gilgamesh. Sang pahlawan berhasil mengusir makhluk-makhluk itu, menebang pohonnya, dan menyerahkan kayunya kepada Inanna. Dari sisa kayu tersebut, Gilgamesh membuat dua alat permainan yang diyakini oleh para ahli sebagai bola dan palu pemukul.
Gilgamesh
dan para pemuda Uruk asyik bermain dengan mainan baru itu sepanjang hari sampai
kelelahan. Para wanita yang sibuk melayani mereka akhirnya mengeluh kepada para
dewa. Akibatnya, alat permainan itu jatuh ke dalam sebuah lubang menuju Dunia
Bawah dan Gilgamesh menangis sedih karena kehilangannya. Pelayannya yang
bernama Enkidu lalu menawarkan diri untuk mengambil mainan tersebut. Gilgamesh
memperingatkan Enkidu agar bersikap sangat hati-hati, tidak mencolok, dan
menaruh rasa hormat selama berada di alam suram milik dewi Ereshkigal.
Gilgamesh juga memberitahu bahwa di sana Enkidu akan melihat pemandangan
mengerikan dewi Ereshkigal yang sedang meratapi kematian putranya dalam keadaan
pakaian terkoyak.
Sayangnya,
Enkidu bertindak gegabah dengan mengabaikan peringatan tersebut dan akhirnya
tertawan di Dunia Bawah. Gilgamesh pun memohon bantuan kepada para dewa. Dewa
Enlil menolak, tetapi dewa Enki bersedia membantu dengan memerintahkan dewa Utu
untuk mengangkat bayangan roh Enkidu saat fajar menyingsing. Keduanya pun
sempat bersatu kembali. Gilgamesh kemudian menanyakan kondisi di Dunia Bawah
kepada Enkidu. Dialog panjang mereka mengungkapkan pandangan yang sangat
pesimistis tentang alam baka, namun terselip sedikit sentuhan humor. Inti dari
percakapan itu adalah pentingnya memiliki banyak anak laki-laki. Semakin banyak
putra yang dimiliki seseorang, semakin terjamin pasokan air segar untuk rohnya
di alam baka. Sebaliknya, roh orang yang tidak memiliki anak akan sangat
menderita karena tidak ada yang memberikan persembahan.
Dialog
mereka juga membahas nasib roh-roh lainnya. Orang yang meninggal dalam keadaan
cacat tubuh atau mati tragis akan mengalami nasib yang suram. Begitu pula
dengan mereka yang mencemarkan nama baik orang tuanya. Namun ada pengecualian
untuk bayi yang lahir mati, karena roh mereka justru hidup dalam kemewahan di
alam baka. Nasib yang paling mengerikan adalah mati terbakar. Orang yang mati
terbakar akan lenyap menjadi asap dan rohnya tidak bisa masuk ke Dunia Bawah,
sehingga mereka berubah menjadi roh penasaran yang sangat ditakuti.
Pada
naskah yang berasal dari kota Ur, terdapat kelanjutan cerita yang memuat pesan
moral tentang cara mengurus orang mati. Bagian yang tampaknya disisipkan
belakangan di kota Girsu ini mengandung kiasan sejarah. Enkidu menceritakan
bahwa roh orang Sumeria dan Akkadia tergusur oleh roh suku Amori, sehingga
mereka terpaksa meminum air kotor. Hal ini mencerminkan runtuhnya dinasti Ur
akibat invasi suku Amori dan Elam. Mendengar leluhurnya menderita di alam baka,
Gilgamesh merasa malu. Ia kemudian membuat patung para leluhurnya dan
menetapkan ritual perkabungan yang layak agar roh orang mati bisa tenang.
Catatan sejarah membenarkan adanya sebuah tempat bernama "Tepian
Gilgamesh" tempat penguasa Girsu memberikan persembahan kepada roh kerabat
mereka.
Sebagai
catatan sejarah sastra, paruh kedua dari puisi ini akhirnya diterjemahkan ke
dalam bahasa Akkadia pada masa kuno dan dijadikan Tablet XII dalam epos
Gilgamesh versi Babilonia. Dalam versi adaptasi tersebut, Gilgamesh dikisahkan
memohon bantuan tambahan kepada dewa bulan, Enlil, dan Ea. Terjemahan versi
Akkadia ini biasanya diletakkan persis setelah teks puisi Sumeria aslinya.
Pada
masa itu, pada masa yang jauh di masa silam,
pada
malam-malam itu, pada malam-malam yang jauh di masa silam,
pada
tahun-tahun itu, pada tahun-tahun yang jauh di masa silam,
pada
zaman dahulu kala, setelah hal-hal yang azali telah menjadi nyata,
pada
zaman dahulu kala, setelah hal-hal yang azali telah diurus,
setelah
roti ditelan di tempat-tempat suci negeri,
setelah
tungku-tungku negeri telah dinyalakan,
setelah
langit dipisahkan dari bumi,
setelah
bumi dipisahkan dari langit,
setelah
nama umat manusia ditetapkan –
lalu,
setelah dewa An mengambil langit bagi dirinya sendiri,
setelah
dewa Enlil mengambil bumi bagi dirinya sendiri,
dan
setelah mereka mempersembahkan Dunia Bawah
kepada
dewi Ereshkigal sebagai mas kawin,
setelah
dia berlayar, setelah dia berlayar,
setelah
sang ayah berlayar menuju Dunia Bawah,
setelah
dewa Enki berlayar menuju Dunia Bawah,
ke
atas sang penguasa hujan es kecil turun menderas,
ke
atas Enki hujan es besar turun menderas –
yang
kecil adalah batu-batu palu,
yang
besar adalah batu-batu penghancur gelagah –
ke
dasar perahu Enki
mereka
tumpah bertumpuk laksana kura-kura yang bergelombang.
Kepada
sang penguasa air di bagian depan perahu
menerkam
dari segala arah laksana serigala-serigala,
kepada
Enki air di bagian belakang perahu
menerjang
laksana singa-singa yang haus darah.
Pada
saat itu ada sebatang pohon, ada sebatang pohon dedalu,
ada
sebatang pohon,
tumbuh
di tepi sungai Efrat yang suci,
meminum
air dari sungai Efrat.
Amukan
angin selatan mencabutnya hingga ke akar
dan
mematahkan dahan-dahannya,
air
sungai Efrat menyapunya.
Seorang
wanita, yang menghormati titah An,
yang
menghormati titah Enlil,
memungut
pohon itu di tangannya dan membawanya ke dalam Uruk,
membawanya
ke dalam taman suci Inanna.
Wanita
itu tidak menanam pohon itu dengan tangannya,
dia
menanamnya dengan kakinya,
wanita
itu tidak menyirami pohon itu dengan tangannya,
dia
menyiraminya dengan kakinya.
Dia
berkata, ‘Berapa lama lagi hingga aku duduk di atas singgasana yang suci?’
Dia
berkata, ‘Berapa lama lagi hingga aku berbaring di atas tempat tidur yang
suci?’
Setelah
lima tahun [berlalu, setelah sepuluh tahun berlalu,]
pohon
itu telah tumbuh besar, kulit kayunya tak seorang pun mampu membelahnya,
di
akar-akarnya Ular-yang-Tak-Mengenal-Mantra telah membuat sarangnya,
di
dahan-dahannya Burung-Singa telah menetaskan anak-anaknya,
di
batang tubuhnya Gadis-Iblis telah membangun rumahnya.
Gadis
yang tertawa dengan hati bahagia,
Inanna
yang suci, betapa dia menangis!
Hari
mulai menyingsing, ufuk mulai terang,
burung-burung
bernyanyi dalam paduan suara menyambut fajar,
saat
sang Dewa Matahari keluar dari kamarnya,
dan
saudara perempuannya, Inanna yang suci,
berbicara
kepada Pahlawan Belia Utu:
‘Oh
saudaraku, pada masa itu, setelah takdir ditentukan,
saat
negeri mengalir dengan kelimpahan,
saat
An telah membawa pergi langit,
Enlil
telah membawa pergi bumi,
dan
mereka telah memberikan Dunia Bawah kepada Ereshkigal
sebagai
mas kawin,
setelah
dia berlayar, setelah dia berlayar,
setelah
sang ayah berlayar menuju Dunia Bawah,
setelah
Enki berlayar menuju Dunia Bawah,
ke
atas sang penguasa hujan es kecil turun menderas,
ke
atas Enki hujan es besar turun menderas –
yang
kecil adalah batu-batu palu,
yang
besar adalah batu-batu penghancur gelagah –
ke
dasar perahu Enki
mereka
tumpah bertumpuk laksana kura-kura yang bergelombang.
Kepada
sang penguasa air di bagian depan perahu
menerkam
dari segala arah laksana serigala-serigala,
kepada
Enki air di bagian belakang perahu
menerjang
laksana singa-singa yang haus darah.
‘Pada
saat itu ada sebatang pohon, ada sebatang pohon dedalu,
ada
sebatang pohon,
tumbuh
di tepi sungai Efrat yang suci,
meminum
air dari sungai Efrat.
Amukan
angin selatan mencabutnya hingga ke akar dan
mematahkan
dahan-dahannya,
air
sungai Efrat menyapunya.
Aku,
seorang wanita yang menghormati titah An,
yang
menghormati titah Enlil,
memungut
pohon itu di tanganku dan membawanya ke dalam Uruk,
membawanya
ke dalam taman suci Inanna.
Aku,
sang wanita, tidak menanam pohon itu dengan tanganku,
aku
menanamnya dengan kakiku,
Aku,
Inanna, tidak menyirami pohon itu dengan tanganku,
aku
menyiraminya dengan kakiku.
Aku
berkata, “Berapa lama lagi hingga aku duduk di atas singgasana yang suci?”
Aku
berkata, “Berapa lama lagi hingga aku berbaring di atas tempat tidur yang
suci?”
‘Setelah
lima tahun berlalu, setelah sepuluh tahun berlalu,
pohon
itu telah tumbuh besar, kulit kayunya tak seorang pun mampu membelahnya,
di
akar-akarnya Ular-yang-Tak-Mengenal-Mantra telah membuat sarangnya,
di
dahan-dahannya Burung-Singa telah menetaskan anak-anaknya,
di
batang tubuhnya Gadis-Iblis telah membangun rumahnya.’
Gadis
yang tertawa dengan hati bahagia,
Inanna
yang suci, betapa dia menangis!
Saudara
laki-lakinya, Pahlawan Belia Utu, tidak menolongnya dalam hal ini.
Hari
mulai menyingsing, ufuk mulai terang,
burung-burung
bernyanyi dalam paduan suara menyambut fajar,
saat
sang Dewa Matahari keluar dari kamarnya,
dan
saudara perempuannya, Inanna yang suci,
berbicara
kepada pejuang Gilgamesh:
‘Oh
saudaraku, pada masa itu, setelah takdir ditentukan,
saat
negeri mengalir dengan kelimpahan,
saat
An telah membawa pergi langit,
Enlil
telah membawa pergi bumi,
dan
mereka telah memberikan Dunia Bawah kepada Ereshkigal
sebagai
mas kawin,
setelah
dia berlayar, setelah dia berlayar,
setelah
sang ayah berlayar menuju Dunia Bawah,
setelah
Enki berlayar menuju Dunia Bawah,
ke
atas sang penguasa hujan es kecil turun menderas,
ke
atas Enki hujan es besar turun menderas –
yang
kecil adalah batu-batu palu,
yang
besar adalah batu-batu penghancur gelagah –
ke
dasar perahu Enki
mereka
tumpah bertumpuk laksana kura-kura yang bergelombang.
Kepada
sang penguasa air di bagian depan perahu
menerkam
dari segala arah laksana serigala-serigala,
kepada
Enki air di bagian belakang perahu
menerjang
laksana singa-singa yang haus darah.
‘Pada
saat itu ada sebatang pohon, ada sebatang pohon dedalu,
ada
sebatang pohon,
tumbuh
di tepi sungai Efrat yang suci,
meminum
air dari sungai Efrat.
Amukan
angin selatan mencabutnya hingga ke akar
dan
mematahkan dahan-dahannya,
air
sungai Efrat menyapunya.
Aku,
seorang wanita yang menghormati titah An,
yang
menghormati titah Enlil,
memungut
pohon itu di tanganku dan membawanya ke dalam Uruk,
membawanya
ke dalam taman suci Inanna.
Aku,
sang wanita, tidak menanam pohon itu dengan tanganku,
aku
menanamnya dengan kakiku,
Aku,
Inanna, tidak menyirami pohon itu dengan tanganku,
aku
menyiraminya dengan kakiku.
Aku
berkata: “Berapa lama lagi hingga aku duduk di atas singgasana yang suci?”
Aku
berkata: “Berapa lama lagi hingga aku berbaring di atas tempat tidur yang
suci?”
‘Setelah
lima tahun berlalu, setelah sepuluh tahun berlalu,
pohon
itu telah tumbuh besar, kulit kayunya tak seorang pun mampu membelahnya,
di
akar-akarnya Ular-yang-Tak-Mengenal-Mantra telah membuat sarangnya,
di
dahan-dahannya Burung-Singa telah menetaskan anak-anaknya,
di
batang tubuhnya Gadis-Iblis telah membangun rumahnya.’
Gadis
yang tertawa dengan hati bahagia,
Inanna
yang suci, betapa dia menangis!
Saudara
perempuannya setelah berbicara demikian kepadanya,
saudara
laki-lakinya Gilgamesh menolongnya dalam hal ini.
Dia
mengikat pinggangnya dengan sabuk seberat lima puluh pon,
memperlakukan
lima puluh pon layaknya tiga puluh syikal.
Kapak
perunggunya untuk ekspedisi,
yang
seberat tujuh talenta dan tujuh pon,
dia
genggam di tangannya.
Di
akar-akarnya Ular-yang-Tak-Mengenal-Mantra dia hantam,
di
dahan-dahannya Burung-Singa mengumpulkan anak-anaknya
dan
pergi menuju pegunungan,
di
batang tubuhnya Gadis-Iblis meninggalkan rumahnya,
dan
mereka semua melarikan diri ke tanah tandus.
Adapun
pohon itu, dia mencabutnya hingga ke akar
dan
mematahkan dahan-dahannya.
Putra-putra
kotanya yang datang bersamanya
memangkas
dahan-dahannya, mengikatnya bersama-sama.
Kepada
saudara perempuannya, Inanna yang suci, dia memberikan kayu untuk
singgasananya,
dia
memberikan kayu untuk tempat tidurnya.
Bagi
dirinya sendiri akarnya dia jadikan bolanya,
dahannya
dia jadikan palu pemukulnya.
Setelah
lama mendambakan sebuah bola, dia mulai bermain dengan bola itu
di
alun-alun kota,
dia
yang menyombongkan diri sedang menyombongkan dirinya di alun-alun kota.
Para
pemuda di kotanya mendambakan bola itu.
Dia
sendiri menunggangi punggung sekelompok putra-putra janda.
‘Oh
leherku! Oh pinggulku!’ mereka mengerang.
Bagi
putra yang memiliki seorang ibu, ibunya membawakannya roti,
bagi
saudara laki-laki yang memiliki seorang saudara perempuan,
saudara
perempuannya menuangkan air untuknya.
Ketika
petang menjelang
dia
membuat sebuah tanda di mana bolanya telah berhenti,
dia
mengangkatnya di hadapannya dan membawanya pergi ke rumahnya.
Saat
fajar, ketika dia menunggangi punggung
di
mana dia telah membuat tanda itu,
pada
keluhan para janda
dan
jeritan para gadis belia,
bolanya
dan palu pemukulnya keduanya jatuh turun
ke
dasar Dunia Bawah.
Dengan
… dia tak bisa meraihnya,
dia
menggunakan tangannya, namun dia tak bisa meraihnya,
dia
menggunakan kakinya, namun dia tak bisa meraihnya.
Di
Gerbang Ganzir, pintu masuk ke Dunia Bawah,
dia
duduk.
Gilgamesh
mulai menangis dan tersedu-sedu:
‘Oh
bolaku! Oh palu pemukulku!
Oh
bola, yang belum lagi kunikmati sepenuhnya!
Oh
permainan, yang belum lagi puas kumainkan!
Pada
hari ini,
seandainya
saja bolaku tetap tinggal untukku di bengkel
tukang kayu!
Oh
istri tukang kayu, layaknya seorang ibu bagiku!
Seandainya
saja ia tetap tinggal di sana!
Oh
putri tukang kayu, layaknya seorang adik perempuan bagiku!
Seandainya
saja ia tetap tinggal di sana!
Bolaku
telah jatuh turun ke Dunia Bawah,
siapa
yang akan membawanya naik untukku?
Palu
pemukulku telah jatuh turun ke Ganzir,\
siapa
yang akan membawanya naik untukku?’
Pelayannya
Enkidu menjawabnya:
‘Tuanku,
mengapa engkau menangis? Mengapa hatimu gundah?
Hari
ini aku sendiri yang akan membawa bolamu naik untukmu
dari
Dunia Bawah,
aku
sendiri yang akan membawa palu pemukulmu naik untukmu dari Ganzir!’
Gilgamesh
berbicara kepada Enkidu:
‘Jika
hari ini engkau akan turun ke Dunia Bawah,
aku
akan memberimu instruksi, engkau harus mengikuti instruksiku!
Aku
akan mengatakan kepadamu sepatah kata, pasang telinga pada kataku!
Janganlah
berpakaian dengan pakaian yang bersih,
niscaya
mereka akan menganggapnya sebagai tanda orang asing!
Janganlah
mengurapi dirimu dengan minyak wangi dari buli-buli,
karena
aromanya niscaya mereka akan mengepungmu!
Janganlah
melemparkan tongkat lempar di Dunia Bawah,
mereka
yang terkena tongkat lempar itu niscaya akan mengepungmu!
Janganlah
memegang tongkat busur di tanganmu,
bayang-bayang
orang mati akan gemetar di hadapanmu!
Janganlah
mengenakan sandal pada kakimu,
engkau
tak boleh membuat suara bising di Dunia Bawah!
Janganlah
mencium istri yang engkau cintai,
janganlah
memukul istri yang engkau benci,
janganlah
mencium putra yang engkau cintai,
janganlah
memukul putra yang engkau benci,
jeritan
Dunia Bawah akan mencengkerammu!
Kepada
dia yang terbaring, dia yang terbaring,
kepada
Ibu Ninazu yang terbaring –
tak
ada pakaian yang menutupi bahunya yang berkilau,
tak
ada kain lenan yang terbentang di atas dadanya yang berkilau,
kuku-kukunya
dia gunakan laksana penggaruk,
dia
menjambak rambutnya hingga tercabut layaknya daun bawang.’
Enkidu
tidak menaruh perhatian pada kata-kata majikannya:
dia
berpakaian dengan pakaian yang bersih,
mereka
menganggapnya sebagai tanda orang asing.
Dia
mengurapi dirinya dengan minyak wangi dari buli-buli,
karena
aromanya mereka mengepungnya.
Dia
melemparkan sebuah tongkat lempar di Dunia Bawah,
mereka
yang terkena tongkat lempar itu mengepungnya.
Dia
memegang sebatang tongkat busur di tangannya,
bayang-bayang
orang mati pun gemetar di hadapannya.
Dia
mengenakan sandal pada kakinya,
dia
membuat suara bising di Dunia Bawah.
Dia
mencium istri yang dia cintai,
dia
memukul istri yang dia benci,
dia
mencium putra yang dia cintai,
dia
memukul putra yang dia benci,
jeritan
Dunia Bawah mencengkeramnya.
Sejak
hari yang terkutuk itu hingga hari ketujuh sesudahnya,
dari
Dunia Bawah pelayannya Enkidu tak kunjung datang keluar.
Sang
raja memekikkan ratapan dan menitikkan air mata yang getir:
‘Pelayan
kesayanganku, rekan setiaku,
orang
yang menasihatiku – Dunia Bawah
[mencengkeramnya!]
Namtar
tidak mencengkeramnya, Azag tidak mencengkeramnya,
Dunia
Bawah [mencengkeramnya!]
Syerif
tanpa ampun Nergal tidak mencengkeramnya,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!
Dia
tidak gugur dalam pertempuran, medan perang para pria,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!’
Sang
pejuang Gilgamesh, putra dewi Ninsun,
melangkah
pergi seorang diri ke Ekur, rumah Enlil,
di
hadapan dewa Enlil dia menangis:
‘Oh
Ayah Enlil, bolaku jatuh ke Dunia Bawah, palu
pemukulku
jatuh ke Ganzir,
aku
mengutus Enkidu untuk membawanya naik
dan
Dunia Bawah mencengkeramnya!
[Pelayan]
kesayanganku, rekan setiaku,
orang
yang menasihatiku – [Dunia Bawah]
mencengkeramnya!
Namtar
tidak mencengkeramnya, Azag tidak mencengkeramnya,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!
Syerif
tanpa ampun Nergal tidak mencengkeramnya,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!
Dia
tidak gugur dalam pertempuran, medan perang para pria,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!’
Ayah
Enlil tidak menolongnya dalam hal ini. Dia pergi ke Eridu.
Dia
melangkah pergi seorang diri ke Eridu, rumah Enki,
di
hadapan dewa Enki dia menangis:
‘Oh
Ayah Enki, bolaku jatuh ke Dunia Bawah, palu
pemukulku
jatuh ke Ganzir,
aku
mengutus Enkidu untuk membawanya naik dan Dunia Bawah mencengkeramnya!
[Pelayan
kesayanganku, rekan setiaku, orang yang menasihatiku –
Dunia
Bawah mencengkeramnya!]
Namtar
tidak mencengkeramnya, Azag tidak mencengkeramnya,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!
Syerif
tanpa ampun Nergal tidak mencengkeramnya,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!
Dia
tidak gugur dalam pertempuran, medan perang para pria,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!’
Ayah
Enki menolongnya dalam hal ini,
dia
berbicara kepada Pahlawan Belia Utu, putra yang dilahirkan oleh Ningal:
‘Kini,
ketika (sebagai Dewa Matahari)
engkau
membuat sebuah bukaan di Dunia Bawah,
bawalah
pelayannya naik kepadanya dari Dunia Bawah!’
Dia
membuat sebuah bukaan di Dunia Bawah,
dalam
wujud arwahnya dia membawa pelayannya naik kepadanya
dari
Dunia Bawah.
Dia
memeluknya erat dan menciumnya,
dalam
saling bertanya dan menjawab mereka membuat diri mereka sendiri letih:
‘Apakah
engkau melihat bagaimana segala hal diatur di Dunia Bawah?
Seandainya
saja engkau bisa memberitahuku, temanku,
seandainya
saja engkau bisa memberitahuku!’
‘Jika
aku harus memberitahumu bagaimana segala hal diatur di Dunia Bawah,
Oh
duduklah engkau dan menangislah!’ ‘Maka biarkan aku duduk dan menangis!’
‘Hatimu
bersukacita meraba batang kemaluan,
namun
batang kemaluan itu bagaikan kayu usang, dikerumuni belatung!
Ia
berkata, “Kapan aku bisa menuju ke liang kemaluan?”
namun
liang kemaluan itu bagaikan retakan di tanah, dipenuhi debu!’
‘Ah,
celakalah!’ seru sang penguasa, dan terduduk di atas debu.
‘Apakah
engkau melihat pria yang memiliki satu putra?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Mengenai
pasak yang tertancap di dindingnya dengan getir dia meratap.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang memiliki dua putra?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Duduk
di atas dua batu bata dia memakan sepotong roti.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang memiliki tiga putra?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Dia
meminum air dari kantong kulit yang digantung pada pelana.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang memiliki empat putra?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Laksana
seorang pria dengan tim yang terdiri dari empat keledai hatinya bersukacita.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang memiliki lima putra?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Laksana
seorang juru tulis yang baik tangannya cekatan
dan
dia memasuki istana dengan mudah.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang memiliki enam putra?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Laksana
seorang pria dengan bajak yang terpasang hatinya bersukacita.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang memiliki tujuh putra?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Tepat
berada di bawah para dewa dia duduk di atas singgasana
dan
mendengarkan jalannya persidangan.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang tidak memiliki ahli waris?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Dia
memakan sepotong roti yang keras laksana batu bata yang dibakar di tungku.’
‘Apakah
engkau melihat kasim istana?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Laksana
sebatang tongkat alala yang tergores dia disandarkan di sudut.’
‘Apakah
engkau melihat wanita yang belum pernah melahirkan?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Laksana
tempayan yang cacat dia dicampakkan ke samping,
tak
seorang pria pun mendapatkan kesenangan darinya.’
‘Apakah
engkau melihat pemuda
yang
belum pernah menyingkap pangkuan istrinya?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Setelah
menyelesaikan seutas tali rajutan tangan, dia menangisinya.’
‘Apakah
engkau melihat gadis belia yang belum pernah menyingkap
pangkuan
suaminya?’ ‘Aku melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Setelah
menyelesaikan sebuah tikar gelagah rajutan tangan,
dia
menangisinya.’
‘Apakah
engkau melihat orang yang jatuh dari atap?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Mereka
tak dapat memperbaiki tulang-tulangnya.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang dimakan oleh singa?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Dengan
getir dia menangis, “Oh tanganku! Oh kakiku!”’
‘Apakah
engkau melihat pria yang dihempaskan oleh sang Dewa Badai?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Dia
mengejang laksana lembu jantan saat belatung menggerogotinya.’
‘Apakah
engkau melihat penderita kusta?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Makanannya
dipisahkan, minumannya dipisahkan,
dia
memakan makanan pahit, dia meminum air payau, dia hidup di luar kota.
Dia
mengejang laksana lembu jantan saat belatung menggerogotinya.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang terpukul oleh tongkat penambat perahu?’
[‘Aku
melihatnya.’] ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Entah
seorang pria berkata untuknya, “Oh ibuku!” atau berkata
“Aduh!”
saat tongkat penambat perahu dicabut,
bagian
atas … makanan sehari-harinya.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang tidak menghormati kata-kata
ibu
dan ayahnya?’ ‘Aku melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘“Oh
diriku! Oh anggota tubuhku!” dia tak bisa berhenti menjerit.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang dikutuk oleh ibu dan ayahnya?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Dia
diluputkan dari ahli waris, arwahnya masih bergentayangan.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang menganggap remeh nama dewanya?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Arwahnya
memakan makanan pahit, meminum air payau.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang gugur dalam pertempuran?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Ayah
dan ibunya tak bisa menimang kepalanya, istrinya menangis.’
‘Apakah
engkau melihat bayang-bayang dia
yang
tidak memiliki seorang pun untuk memberikan persembahan pemakaman?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Dia
memakan sisa-sisa pengerokan dari periuk
dan
remah-remah roti yang dibuang di jalanan.’
‘Apakah
engkau melihat bayi-bayi kecil yang lahir mati,
yang
tak mengenal nama mereka sendiri?’
‘Aku
melihat mereka.’ ‘Bagaimana keadaan mereka?’
‘Mereka
bermain di tengah sirup dan mentega jernih
di
meja-meja perak dan emas.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang menemui ajal dewanya?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Dia
terbaring di atas tempat tidur para dewa.’
‘Apakah
engkau melihat pria yang mati terbakar?’ ‘Aku tidak melihatnya.
Arwahnya
tidak ada di sana, asapnya naik ke langit langit.’
Versi puisi yang dikenal di Nippur berakhir
tiba-tiba di sini. Versi kedua, yang dikenal dari pusat provinsi Mê-Turan,
menambahkan tiga baris yang menghubungkan teks itu dengan permulaan puisi
tentang Gilgamesh dan Huwawa:
Hati
itu terpukul, benaknya putus asa.
Sang
raja mencari kehidupan,
sang
penguasa mengalihkan benak[nya] menuju Gunung Sang Makhluk Hidup.
Resensi ketiga, yang dikenal dari
prasasti-prasasti dari Ur, melanjutkan
dialog itu:
‘Apakah
engkau melihat dia yang menipu sesosok dewa dan bersumpah palsu?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Di
puncak Dunia Bawah di mana curahan air dipersembahkan,
dia
minum namun tetap dahaga.’
‘Apakah
engkau melihat warga Girsu di tempat desah napas ayah dan ibunya?’
‘Aku
melihatnya.’ ‘Bagaimana keadaannya?’
‘Di
hadapan tiap orang ada seribu orang Amori,
bayang-bayangnya
tak bisa menepis mereka dengan tangannya,
dia
tak bisa menerjang mereka jatuh dengan dadanya.
Di
puncak Dunia Bawah di mana curahan air dipersembahkan,
orang
Amori didahulukan.’
‘Apakah
engkau melihat putra-putra Sumeria dan Akkadia?’
‘Aku
melihat mereka.’ ‘Bagaimana keadaan mereka?’
‘Mereka
meminum air dari tempat pembantaian, air yang kotor.’
‘Apakah
engkau melihat di mana ayah dan ibuku berdiam?’
‘Aku
melihat mereka.’ ‘[Bagaimana keadaan mereka?]’
‘[Keduanya]
dari mereka meminum air dari tempat pembantaian, [air yang kotor.]’
Dia
membawa mereka kembali ke [Uruk,]
dia
membawa mereka kembali ke kotanya.
Berikatkan
perkakas dan perlengkapan, kapak dan tombak,
dia
melangkah [masuk,]
dia
menempatkan mereka dengan sukacita di istananya.
Para
pemuda dan wanita Uruk, para bangsawan dan matron Kullab,
memandang
patung-patung itu dan hati mereka bersukacita.
Dia
menengadahkan kepalanya kepada sang Dewa Matahari
yang
keluar dari kamarnya,
dia
mengeluarkan instruksi:
‘Oh
ayah dan ibuku,
aku
akan membiarkan kalian meminum air yang jernih!’
Hari
belum berlalu setengahnya, … menganyam mahkota-mahkota mereka,
Gilgamesh
menyelenggarakan ritus-ritus perkabungan.
Selama
sembilan hari dia menyelenggarakan ritus-ritus perkabungan,
para
pemuda dan wanita Uruk, para bangsawan dan matron Kullab menangis.
Dan
sungguh terjadi seperti yang telah dikatakannya,
dia
mendorong mundur warga-warga Girsu:
‘Oh
ayah dan ibuku, aku akan membiarkan kalian meminum air yang jernih!’
Oh
pejuang Gilgamesh, putra dewi Ninsun,
sungguh
manis puji-pujian bagimu!
Tablet XII dari epos standar Babilonia
melestarikan sebuah
versi yang sedikit berbeda dari baris 172– 303
dalam sebuah terjemahan prosa Akkadia:
‘Hari
ini, seandainya saja aku meninggalkan bolaku di bengkel tukang kayu!
[Oh
istri tukang kayu yang layaknya seorang ibu] bagiku!
Seandainya
saja aku [meninggalkannya!]
Oh
[putri tukang kayu yang layaknya seorang] adik perempuan [bagiku!]
Seandainya
saja [aku meninggalkannya!]
Hari
ini bola[ku] jatuh turun ke Dunia Bawah,
palu
pemukulku jatuh [turun] ke Dunia Bawah!’
Enkidu
[menjawab] Gilgamesh:
‘Oh
majikan, mengapa engkau menangis [gundah] di hati?
Hari
ini aku sendiri yang akan [membawakanmu]
bola
itu naik dari Dunia Bawah,
aku
sendiri yang akan [membawakanmu]
palu
pemukul itu naik dari Dunia Bawah!’
Gilgamesh
[menjawab] Enkidu:
‘Jika
[engkau akan turun] ke Dunia Bawah,
[engkau
harus menaruh perhatian pada] instruksiku!
[Engkau
tidak boleh berpakaian dengan] pakaian yang bersih,
mereka
akan mengidentifikasi [dirimu] sebagai orang asing!
Engkau
tidak boleh mengurapi dirimu dengan minyak wangi dari buli-buli,
karena
aromanya mereka akan berkumpul di sekelilingmu!
Engkau
tidak boleh melemparkan tongkat lempar di Dunia Bawah,
mereka
yang terkena tongkat lempar itu akan mengepungmu!
Engkau
tidak boleh membawa tongkat di tanganmu,
bayang-bayang
orang mati akan gemetar di hadapanmu!
Engkau
tidak boleh mengenakan sandal pada kakimu,
engkau
tidak boleh membuat suara bising di Dunia Bawah!
Engkau
tidak boleh mencium istri yang engkau cintai,
engkau
tidak boleh memukul istri yang engkau benci,
engkau
tidak boleh mencium putra yang engkau cintai,
engkau
tidak boleh memukul putra yang engkau benci,
jeritan
Dunia Bawah akan mencengkerammu!
Dia
yang terbaring, dia yang terbaring, Ibu Ninazu yang terbaring,
bahunya
yang berkilau tidak dibalut oleh kain,
payudaranya
telanjang laksana buli-buli dari batu.’
[Saat
Enkidu] turun [ke Dunia Bawah,]
dia
tidak menaruh perhatian [pada instruksi Gilgamesh:]
dia
berpakaian dengan [pakaian yang bersih,]
mereka
mengidentifikasi[nya sebagai] orang asing.
Dia
mengurapi dirinya dengan minyak wangi dari buli-buli,
karena
aroma[nya] mereka berkumpul di sekelilingnya.
Dia
melemparkan sebuah tongkat lempar di [Dunia Bawah,]
[bayang-bayang
orang mati] pun gemetar,
mereka
yang [terkena] tongkat lempar itu mengepungnya.
Dia
membawa sebatang tongkat di tangan[nya,]
[bayang-bayang
orang mati pun] gemetar.
[Dia
mengenakan] sandal pada [kakinya,]
[dia
membuat] suara bising [di Dunia Bawah.]
[Dia
mencium] istri yang [dia cintai,]
[dia
memukul] istri yang dia benci,
dia
[mencium] putra yang dia cintai,
dia
[memukul] putra yang dia benci,
jeritan
Dunia Bawah mencengkeramnya.
Dia
yang terbaring, [dia yang] terbaring,
Ibu
Ninazu yang terbaring,
bahu[nya]
yang berkilau tidak dibalut oleh kain,
payudaranya
telanjang laksana buli-buli dari batu.
Dari
Dunia Bawah Enkidu [tidak datang keluar] ke dunia atas:
Namtar
[tidak] mencengkeramnya, Asakku tidak mencengkeram
nya,
Dunia Bawah [telah mencengkeram]nya!
Syerif
[Nergal] yang tanpa ampun tidak mencengkeramnya,
Dunia
Bawah [telah mencengkeram]nya!
Dia
tidak gugur di mana para pria bertempur,
Dunia
Bawah telah mencengkeramnya!
Lalu
sang raja, putra Ninsun, menangisi pelayannya,
Enkidu,
melangkah pergi seorang diri ke Ekur, rumah Enlil:
‘Oh
Ayah [Enlil], hari ini bolaku jatuh ke Dunia Bawah,
palu
pemukulku jatuh ke Dunia Bawah!
Enkidu,
yang [turun] untuk membawa[nya naik,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!]
Namtar
tidak mencengkeramnya, Asakku tidak mencengkeramnya,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!
Syerif
Nergal yang tanpa ampun tidak mencengkeramnya,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!
Dia
tidak gugur di mana para pria ber[tempur],
Dunia
Bawah mencengkeramnya!’
Ayah
Enlil tidak menjawabnya sepatah kata pun.
Dia
melangkah pergi [seorang diri ke Ur, rumah Sîn:]
‘Oh
Ayah Sîn, hari ini bolaku jatuh ke Dunia Bawah,
palu
pemukulku jatuh [ke Dunia Bawah!]
Enkidu,
yang [turun] untuk membawa[nya naik],
Dunia
Bawah mencengkeramnya!
Namtar
tidak mencengkeramnya, Asakku tidak mencengkeramnya,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!
Syerif
Nergal yang tanpa ampun [tidak mencengkeram]nya,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!
Dia
tidak gugur di mana [para pria bertempur],
Dunia
Bawah mencengkeramnya!’
Ayah
[Sîn tidak menjawabnya sepatah kata pun.]
[Dia
melangkah pergi seorang diri] ke [Eridu, rumah Ea:]
‘Oh
[Ayah Ea, hari ini bolaku jatuh ke Dunia Bawah,]
palu
pemukulku [jatuh ke Dunia Bawah,]
Enkidu,
[yang turun untuk membawanya naik,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!]
Namtar
tidak [mencengkeramnya, Asakku tidak mencengkeramnya,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!]
Syerif
Nergal yang tanpa ampun [tidak mencengkeramnya,
Dunia
Bawah mencengkeramnya!]
[Dia
tidak gugur] di mana para pria bertempur,
[Dunia
Bawah mencengkeramnya!]’
Ayah
Ea [menolongnya] dalam [hal ini,]
[dia
berbicara] kepada Pahlawan Belia [Shamash:]
‘Oh
Pahlawan Belia Shamash, [putra Ningal, saat engkau terbit ke langit,]
barangkali
[engkau dapat membuka] sebuah celah [di Dunia Bawah,]
[agar
dapat membawa naik] bayangan Enkidu
[dari
Dunia Bawah sebagai sesosok arwah!]’
Atas
titah [Ea] ………
Pahlawan
Belia Shamash, putra Ningal, [terbit ke langit,]
dia
membuka sebuah celah di Dunia Bawah,
agar
dapat membawa naik bayangan Enkidu
dari
Dunia Bawah sebagai sesosok arwah.
Mereka
saling berpelukan dan saling berciuman,
berbagi
pikiran dan bertukar pertanyaan:
‘Oh
katakanlah kepadaku, temanku! Katakanlah kepadaku, temanku!
Katakanlah
kepadaku apa yang engkau lihat mengenai aturan-aturan Dunia Bawah!’
‘Aku
tak dapat memberitahumu, temanku, aku tak dapat memberitahumu!
Jika
aku memberitahumu apa yang kulihat mengenai aturan-aturan Dunia Bawah,
Oh
duduklah engkau dan menangislah!’
‘Maka
aku akan duduk dan menangis!’
‘[Temanku,]
batang kemaluan yang engkau raba hingga hatimu bersukacita,
[batang
kemaluan bagaikan] kayu usang niscaya digerogoti belatung.
[Temanku,
liang kemaluan yang engkau] rasakan hingga hatimu bersukacita,
[laksana
retakan di tanah] telah dipenuhi dengan debu.’
[‘Ah,
celakalah!’] seru [sang penguasa,] dan menjatuhkan dirinya [di atas] debu,
[‘Ah,
celakalah!’] seru [Gilgamesh], dan menjatuhkan dirinya [di atas debu.]
‘Apakah
[engkau melihat pria yang memiliki satu putra?]’ ‘Aku melihatnya.
[Sebuah
pasak] tertancap [di dindingnya] dan dia menangisi[nya dengan getir.]’
‘[Apakah
engkau melihat pria yang memiliki dua putra?’ ‘Aku] melihatnya.
[Duduk
di atas dua batu bata] dia memakan sepotong roti.’
‘[Apakah
engkau melihat pria yang memiliki tiga putra?]’ ‘Aku melihatnya.
Dia
meminum air [dari kantong kulit yang digantung pada pelana.]’
‘Apakah
[engkau melihat pria yang memiliki empat putra?]’ ‘Aku melihatnya.
[Laksana
pemilik tim keledai] hatinya bersukacita.’
‘Apakah
engkau melihat [pria yang memiliki lima putra?]’ ‘Aku melihatnya.
[Laksana]
seorang [juru tulis] yang baik tangannya cekatan,
dia
memasuki istana [dengan mudah.]’
‘Apakah
engkau melihat [pria yang memiliki enam putra?]’ ‘Aku melihatnya.
[Laksana
seorang pembajak hatinya bersukacita.]’
‘[Apakah
engkau melihat pria yang memiliki tujuh putra?’ ‘Aku melihatnya.]
[Tepat
berada di bawah para dewa dia duduk di atas singgasana
dan
mendengarkan jalannya persidangan.’]
[‘Apakah
engkau melihat orang yang tidak memiliki ahli waris?’ ‘Aku melihatnya.]
[Dia
memakan sepotong roti yang keras laksana batu bata yang dibakar di tungku.’]
[‘Apakah
engkau melihat kasim istana?’ ‘Aku melihatnya.]
Laksana
sebuah panji yang baik dia disandarkan di sudut,
laksana
………’
‘Apakah
engkau melihat orang yang terpukul oleh tongkat penambat perahu?’
‘Aku
[melihatnya.]
Aduh
bagi ibu [dan ayah]nya! Ketika pasak-pasak dicabut
[dia]
mengembara ke sana kemari.’
‘Apakah
engkau melihat orang yang [mati] menemui ajal dewanya?’
‘[Aku
melihatnya.]
Dia
terbaring di atas tempat tidur [bersama para dewa,] meminum air jernih.’
‘Apakah
engkau melihat orang yang terbunuh dalam pertempuran?’ ‘Aku [melihatnya.]
Ayah
dan ibunya menghormati kenangannya dan istrinya
[menangisi][nya.]’
‘Apakah
engkau melihat orang yang mayatnya dibiarkan tergeletak di atas
dataran?’
‘Aku melihatnya.
Bayang-bayangnya
tidak beristirahat dengan tenang di Dunia Bawah.’
‘Apakah
engkau melihat orang yang bayang-bayangnya tak memiliki seorang pun untuk
memberikan persembahan pemakaman?’
‘Aku
melihatnya.
Dia
memakan sisa-sisa pengerokan dari periuk dan remah-remah roti
yang dibuang di jalanan.’
Komentar
Posting Komentar