Langsung ke konten utama

Gilgamesh dan Huwawa: ‘Sang Penguasa menuju Gunung Sang Makhluk Hidup’ dan ‘Ho, bersoraklah!’

 Puisi tentang Gilgamesh dan Huwawa merupakan salah satu teks yang sangat digemari di sekolah-sekolah Babilonia Lama. Kisah ini menuturkan perjalanan ke Hutan Aras untuk menebang pohon suci dan menumbangkan Huwawa, menjadikannya cikal bakal cerita pada Tablet III–V epos Babilonia. Meski begitu, detail kisahnya sangat berbeda. Perbedaan paling mencolok adalah cara Huwawa dikalahkan: bukan lewat adu kekuatan, melainkan melalui tipu muslihat yang diajarkan oleh dewa Enki. Puisi Sumeria ini memiliki dua versi utama. Versi A (dikenal dengan judul "Sang Penguasa menuju Gunung Sang Makhluk Hidup") adalah versi yang paling utuh dan populer. Sementara itu, Versi B ("Ho, bersoraklah!") memiliki banyak kesamaan baris namun kondisinya kurang begitu lengkap.

Dihantui oleh ketakutan akan kematian, Gilgamesh bertekad mengukir prestasi abadi. Ia merencanakan ekspedisi ke Gunung Aras di ujung timur, tempat berdiamnya "Sang Makhluk Hidup", julukan untuk manusia setengah dewa Huwawa. Atas saran pelayannya, Enkidu, Gilgamesh meminta restu dari Dewa Matahari Utu (Shamash). Ia beralasan bahwa sebagai manusia fana, ia ingin meninggalkan nama besar. Utu merestuinya dan memberikan tujuh rasi bintang sebagai penunjuk jalan.

Bersama pasukan pemuda Uruk yang bersenjata, Gilgamesh melintasi tujuh rangkaian pegunungan. Ketika ia menemukan sebuah pohon aras yang memikat hatinya dan langsung menebangnya, Huwawa terbangun. Sang penjaga hutan itu seketika memancarkan "aura" gaibnya yang membuat Gilgamesh dan Enkidu jatuh pingsan. Setelah Enkidu siuman dan membangunkan Gilgamesh, ia sempat memperingatkan betapa mengerikannya Huwawa. Namun, Gilgamesh menenangkan Enkidu, meyakinkannya bahwa dengan bekerja sama, mereka bisa mengalahkan makhluk tersebut.

Saat mereka mendekat, Huwawa memerintahkan Gilgamesh untuk tidak takut dan berlutut. Gilgamesh pun memulai siasatnya. Ia berpura-pura ingin menjalin ikatan keluarga dengan menawarkan dua saudara perempuannya, Enmebaragesi dan Peshtur, sebagai istri Huwawa. Tidak hanya itu, ia menjanjikan barang-barang mewah yang tak pernah ada di pegunungan terpencil tersebut, seperti tepung halus, air dalam botol kulit, sepatu, dan batu permata. Terpedaya oleh janji-janji manis tersebut, Huwawa rela melepaskan aura pelindungnya satu per satu. Aura-aura ini berwujud pohon aras raksasa yang dengan sigap langsung ditebang oleh pasukan Uruk.

Setelah seluruh auranya habis dan Huwawa menjadi tak berdaya, Gilgamesh membeberkan niat aslinya. Ia menyerang dan menawan makhluk tersebut. Huwawa memohon ampun sambil meratapi pengkhianatan Gilgamesh kepada dewa Utu. Gilgamesh sempat luluh dan berniat memaafkannya, tetapi Enkidu dengan tegas melarang. Menurut Enkidu, membiarkan Huwawa hidup berarti mereka tidak akan pernah bisa pulang ke Uruk. Mendengar hal itu, Huwawa murka dan memaki Enkidu. Tanpa ragu, Enkidu langsung menggorok lehernya.

Keduanya kemudian membawa penggalan kepala Huwawa ke hadapan dewa Enlil. Bukannya memberi pujian, Enlil justru murka besar. Ia mengutuk tindakan mereka yang membunuh Huwawa alih-alih memperlakukannya dengan hormat. Sebagai penutup dari kisah ini, Enlil mengambil alih aura-aura Huwawa dan membagikannya.

 

 

Versi A: ‘Sang Penguasa menuju Gunung Sang Makhluk Hidup’

Sang penguasa mengalihkan benaknya menuju Gunung Sang Makhluk Hidup,

sang penguasa Gilgamesh mengalihkan benaknya menuju Gunung Sang Makhluk Hidup,

dia memanggil pelayannya, Enkidu:

‘Oh Enkidu, karena tak seorang pun luput dari akhir kehidupan,

aku akan memasuki gunung itu dan menegakkan namaku.

Di tempat nama-nama ditegakkan, aku akan menegakkan namaku,

di tempat nama-nama belum ditegakkan, aku akan menegakkan nama para dewa.’

Enkidu pelayannya menjawabnya:

‘Tuanku, jika engkau hendak memasuki gunung itu, dewa Utu haruslah diberitahu,

Utu, Pahlawan Belia Utu haruslah diberitahu!

Perkara mengenai gunung itu adalah urusan Utu,

perkara mengenai Gunung Tebang-Aras adalah urusan Pahlawan Belia Utu, Utu haruslah diberitahu!’

Gilgamesh memegang seekor anak kambing putih di tangannya,

sebagai persembahan dia mendekap seekor anak kambing cokelat di dadanya.

Tongkat suci di tangannya dia dekatkan ke hidungnya,

dia memanjatkan seruan kepada Utu di Langit:

‘Oh Utu, aku hendak memasuki gunung itu, jadilah engkau penolongku!

Aku hendak memasuki Gunung Tebang-Aras, jadilah engkau penolongku!’

Utu menjawabnya dari langit:

‘Anak muda, di tempatmu sendiri engkau adalah seorang bangsawan, namun di gunung sana akan menjadi apakah engkau?’

‘Oh Utu, izinkan aku mengucapkan sepatah kata kepadamu,

pasang telinga pada apa yang kukatakan!

Izinkan aku memberitahumu sesuatu, semoga engkau mempertimbangkannya!

Di kotaku seorang pria mati, dan hati pun terpukul,

seorang pria binasa, dan hati merasakan kepedihan.

Aku mengangkat kepalaku di atas dinding pertahanan,

tatapanku jatuh pada sesosok mayat yang hanyut di sungai, mengambang di atas air:

aku juga akan menjadi seperti itu, tepat seperti itu pulalah aku kelak!

“Tak seorang pun mampu meraih langit, tak peduli setinggi apa pun dirinya,

tak seorang pun mampu merangkul gunung, tak peduli seluas apa pun dirinya!”

Karena tak seorang pun luput dari akhir kehidupan,

aku akan memasuki gunung itu dan menegakkan namaku.

Di tempat nama-nama ditegakkan, aku akan menegakkan namaku,

di tempat nama-nama belum ditegakkan, aku akan menegakkan nama para dewa.’

Utu menerima air matanya seakan itu sebuah persembahan,

laksana seorang yang penuh welas asih dia menunjukkan belas kasihan kepadanya.

Tujuh pahlawan mereka, putra-putra dari satu ibu,

yang pertama, yang tertua di antara mereka,

memiliki cakar seekor singa, cakar paut seekor elang,

yang kedua adalah seekor kobra bermulut [terbuka] …,

yang ketiga seekor Ular Naga yang menundukkan …,

yang keempat seekor … yang mengobarkan api …,

yang kelima seekor ular memekik yang jeritannya membelah dataran tinggi,

yang keenam serupa arus deras yang menghantam pegunungan,

yang ketujuh meledak laksana kilat sehingga tak ada yang bisa mendekatinya:

ketujuh sosok ini diberikan oleh sang pejuang, Pahlawan Belia Utu, kepada Gilgamesh:

‘… dewi Nissaba sebagai tambahan telah memberimu,

[di langit] mereka bersinar, di bumi mereka mengenali jalan-jalan itu,

[di bumi] biarkan mereka menyingkapkan jalan [ke timur …,]

biarkan mereka membawamu menuju suatu tempat di dataran tinggi di mana perahu-perahu harus disandarkan.’

Demikianlah dia membuat hati sang Penebang Aras gembira,

dia membuat hati sang penguasa Gilgamesh gembira.

Di kotanya dia membunyikan sangkakala bagai seorang diri,

dia meniupnya bagai kekuatan dua orang bersama.

‘Barang siapa yang memiliki keluarga, pulanglah kepada keluarganya! Barang siapa yang memiliki ibu, pulanglah kepada ibunya!

Biarkan para pria yang tak terikat sepertiku, lima puluh jumlahnya, berada di sisiku!’

Barang siapa yang memiliki keluarga, pulanglah kepada keluarganya. Barang siapa yang memiliki ibu, pulanglah kepada ibunya.

Para pria yang tak terikat sepertinya, lima puluh jumlahnya, berada di sisinya.

Dia melangkah menuju perapian pandai besi,

dia menyuruh mereka mengecor kapak-kapak perang dan kapak-kapak tempur dari perunggu, senjata-senjata keperkasaannya.

Dia melangkah menuju Belukar Gelap di luar kota,

dia menyuruh mereka menarah gagang-gagang kapak dari kayu ek dan gagang-gagang kapak dari kayu busus,

[dia meletakkan]nya ke dalam tangan putra-putra kotanya yang akan pergi bersamanya.

[Tujuh] pahlawan [mereka], putra-putra dari [satu] ibu,

yang pertama, yang tertua di antara mereka, memiliki cakar seekor singa, cakar paut seekor elang,

[yang kedua adalah seekor kobra bermulut terbuka …,]

[yang ketiga seekor Ular Naga yang menundukkan …,]

[yang keempat seekor … yang mengobarkan api …,]

[yang kelima seekor ular memekik yang jeritannya membelah dataran tinggi,]

[yang keenam serupa arus deras yang menghantam pegunungan,]

[yang ketujuh meledak laksana kilat sehingga tak ada yang bisa mendekatinya:]

[di langit mereka bersinar, di bumi mereka mengenali jalan-jalan itu,]

[di bumi] mereka menyingkapkan jalan [ke timur,]

mereka pun membawanya menuju suatu tempat di dataran tinggi di mana perahu-perahu harus disandarkan.

Dia melintasi rangkaian pegunungan pertama, dia tidak menemukan pohon aras yang diinginkannya,

dia melintasi rangkaian pegunungan [kedua], [dia tidak menemukan] pohon aras yang [diinginkannya,]

dia melintasi rangkaian pegunungan ketiga, [dia tidak menemukan] pohon aras yang diinginkannya,

dia melintasi rangkaian pegunungan keempat, [dia tidak menemukan] pohon aras yang diinginkannya,

dia melintasi rangkaian pegunungan kelima, dia tidak [menemukan] pohon aras yang diinginkannya,

dia melintasi rangkaian pegunungan keenam, dia tidak menemukan pohon aras yang diinginkannya,

namun melintasi rangkaian pegunungan ketujuh, dia menemukan pohon aras yang diinginkannya.

Dia tidak bertanya apa pun, dia tidak mencari lebih jauh lagi,

Gilgamesh menghantam pohon aras itu.

Enkidu memangkas dahan-dahannya … untuk Gilgamesh,

putra-putra kotanya yang datang bersamanya menyusunnya menjadi sebuah tumpukan.

Oleh segala keributan itu Gilgamesh mengusik Huwawa di sarangnya,

dia melancarkan kepadanya aura-aura terornya.

Gilgamesh diliputi [oleh kelumpuhan], seakan dalam sebuah tidur,

[Enkidu] diserang [oleh kelesuan], seakan dalam linglung.

Putra-putra kotanya yang pergi bersamanya

laksana anak-anak anjing kecil terbaring menggigil di kakinya.

Enkidu terbangun, itu tadi sebuah mimpi, dia bergidik, itu tadi sebuah tidur yang teramat lelap.

Dia mengucek matanya, yang ada hanyalah keheningan yang mencekam.

Dia menyentuhnya dengan tangannya, namun tak bisa membangunkannya,

dia berbicara kepadanya, namun tak menerima jawaban:

‘Engkau yang terbaring, engkau yang terbaring,

Oh Gilgamesh, penguasa belia Kullab, berapa lama lagi engkau akan terbaring?

Gunung telah gelap, bayang-bayang membentang di atasnya,

segala berkas sinar mentari di waktu petang telah sirna,

dengan kepala tegak sang Matahari telah pulang ke dekapan Ningal, ibunya:

Oh Gilgamesh, berapa lama lagi engkau akan terbaring?

Putra-putra kotamu, yang datang bersamamu,

jangan biarkan mereka menunggumu di kaki gunung,

jangan sampai membuat ibu-ibu yang melahirkan mereka terpuruk memintal benang di alun-alun kotamu!’

[Pesan ini] dia letakkan di telinga kanannya,

kata-kata pejuangnya menyelimutinya bagai sehelai kain.

Dia (Gilgamesh) mengambil di tangannya tiga puluh syikal minyak

dan mengusap dadanya,

dia berdiri di atas Bumi yang Agung laksana seekor lembu jantan [merangkak dengan keempat kakinya],

dia menundukkan lehernya ke tanah dan bersuara:

‘Demi nyawa ibu yang melahirkanku, dewi Ninsun, dan ayahku, Lugalbanda yang murni!

Haruskah aku bertingkah seolah dalam ketakutan di atas pangkuan Ninsun,

ibu yang melahirkanku?’

Dan untuk kedua kalinya dia berkata kepadanya:

‘Demi nyawa ibu yang melahirkanku, dewi Ninsun, dan ayahku, Lugalbanda yang murni!

Hingga aku menyingkapkan apakah makhluk itu seorang manusia atau sesosok dewa,

kakiku yang mengarah ke gunung tak akan kuberpalingkan pulang menuju kota!’

Sang pelayan – yang membuat hidup menyenangkan, membuat hidup manis –

memberikan jawaban kepada majikannya:

‘Tuanku, engkau belum menatap makhluk itu,

hatimu belumlah terpukul,

namun aku telah menatapnya, hatiku sungguh terpukul:

dia adalah seorang pejuang, gigi-giginya adalah gigi naga,

matanya adalah mata singa!

Dadanya adalah arus deras,

keningnya melahap hutan gelagah, tak ada yang bisa mendekatinya,

(laksana) seekor singa pemakan manusia, [lidahnya] tak pernah terpuaskan

oleh darah.

Tuanku, engkau teruslah mendaki gunung itu, namun biarkan aku

pulang menuju kota:

aku akan memberi tahu ibumu engkau selamat, sehingga dia tertawa dalam sukacita,

lalu aku akan memberi tahu ibumu engkau mati, sehingga dia meratap dalam kepedihan.’

‘Bersiaplah, Oh Enkidu! Dua pria bersama-sama tak akan mati:

sebuah rakit gelagah tak bisa tenggelam,

tak seorang pun bisa memotong tali tiga pilinan,

air bah tak bisa menyapu seorang pria turun dari tembok,

api di dalam pondok gelagah tak bisa dipadamkan!

Engkau bergabung bersamaku, aku akan bergabung bersamamu, apa yang bisa

orang lakukan pada kita kemudian?

“Setelah ia tenggelam, setelah ia tenggelam,

setelah perahu dari Magan tenggelam,

setelah tongkang tenggelam, perahu kargo tenggelam,

sebuah rakit gelagah adalah perahu yang menyelamatkan nyawa,

ia tak tenggelam.”

Bersiaplah, mari kita menujunya, mari kita menatapnya!

Cepat, mari kita menujunya!

“Ketakutan ditangkal dengan ketakutan,

kelicikan dengan kelicikan!”

Bagaimanapun perasaanmu, bersiaplah, mari kita menujunya!’

Tak ada pria yang mendekat lebih dari enam puluh panjang tongkat,

dan Huwawa telah menempati rumah arasnya.

Dia mengalihkan matanya pada seseorang, itu adalah mata kematian,

dia menggelengkan kepalanya pada seseorang, itu adalah isyarat yang

menyatakan orang itu bersalah.

Ketika dia menyapa seseorang, dia tidak berbasa-basi:

‘Pria cakap seperti dirimu, engkau tak akan pulang menuju

kota dari ibu yang melahirkanmu!’

Ke dalam otot-ototnya, ke dalam kaki-kakinya teror itu membanjir,

aura terornya membanjiri segalanya,

(Gilgamesh) tak bisa menggerakkan kakinya dari tanah.

Kakinya tertahan kuat oleh ibu jarinya,

di pinggangnya, di dalam … nya ia membanjir.

‘Ho, bersoraklah! Anak pohon yang tumbuh menjulang,

yang mulia yang di dalamnya para dewa bersukacita,

lembu jantan yang murka berdiri siap untuk pertempuran,

sungguh tahu ibumu bagaimana membuat seorang anak,

sungguh tahu perawatmu bagaimana menyusui seorang bayi!

Janganlah takut, letakkan kedua belah tangan di atas tanah!’

Dia meletakkan kedua belah tangan di atas tanah, lalu dia berkata kepadanya:

‘Demi nyawa ibu yang melahirkanku, dewi Ninsun, dan ayahku, Lugalbanda yang murni!

Di mana engkau berdiam di gunung, hal itu belumlah diketahui!

Di mana engkau berdiam di gunung, hal itu haruslah diketahui:

biarkan aku mengirimkan kakak perempuanku Enmebaragesi,

untuk menjadi istrimu di gunung!’

Dan lagi dia berkata:

‘Demi nyawa ibu yang melahirkanku, dewi Ninsun, dan ayahku, Lugalbanda yang murni!

Di mana engkau berdiam di gunung, hal itu belumlah diketahui!

Di mana engkau berdiam di gunung, hal itu haruslah diketahui:

biarkan aku mengirimkan adik perempuanku Peshtur,

untuk menjadi selirmu di gunung!

Berikan aku satu dari aura-aura terormu,

dan aku akan menjadi kerabatmu!’

Aura terornya yang pertama dia berikan kepadanya.

Putra-putra kotanya yang datang bersamanya

memangkas dahan-dahannya, mengikatnya bersama-sama,

dan meletakkannya di kaki gunung itu.

[Dan untuk kedua kalinya dia berkata:]

[‘Demi nyawa ibu yang melahirkanku, dewi

Ninsun, dan ayahku, Lugalbanda yang murni!]

[Di mana engkau berdiam di gunung, hal itu belumlah

diketahui! Di mana engkau berdiam di gunung, hal itu haruslah diketahui:]

[biarkan aku membawakanmu di gunung …]

[Maka tidakkah aku boleh lalu bergabung dengan keluargamu?]

[Berikan aku satu dari aura-aura terormu,

dan aku akan menjadi kerabatmu!’]

Aura terornya yang kedua dia berikan kepadanya.

Putra-putra kotanya yang datang bersamanya

memangkas dahan-dahannya, mengikatnya bersama-sama,

dan meletakkannya di kaki gunung itu.

Dan untuk ketiga kalinya dia berkata:

‘Demi nyawa ibu yang melahirkanku, dewi

Ninsun, dan ayahku, Lugalbanda yang murni!

Di mana engkau berdiam di gunung, hal itu belumlah

diketahui! Di mana engkau berdiam di gunung,

hal itu haruslah diketahui:

biarkan aku membawakanmu di gunung

tepung kualitas terbaik, seperti yang dimakan oleh dewa-dewa yang agung,

dan buli-buli air sejuk.

Maka tidakkah aku boleh lalu bergabung dengan keluargamu?

Berikan aku satu dari aura-aura terormu,

dan aku akan menjadi kerabatmu!’

Aura terornya yang ketiga dia berikan kepadanya.

Putra-putra kotanya yang datang bersamanya

memangkas dahan-dahannya, mengikatnya bersama-sama,

dan meletakkannya di kaki gunung itu.

Dan untuk keempat kalinya dia berkata:

‘Demi nyawa ibu yang melahirkanku, dewi

Ninsun, dan ayahku, Lugalbanda yang murni!

Di mana engkau berdiam di gunung, hal itu belumlah

diketahui! Di mana engkau berdiam di gunung,

hal itu haruslah diketahui:

biarkan aku membawakanmu [di gunung] sandal-sandal besar

untuk kaki-kaki besar.

Maka tidakkah aku boleh lalu bergabung dengan keluargamu?

Berikan aku satu dari aura-aura terormu,

dan aku akan menjadi kerabatmu!’

Aura terornya yang keempat dia berikan kepadanya.

Putra-putra kotanya yang datang bersamanya

memangkas dahan-dahannya, mengikatnya bersama-sama,

dan meletakkannya di kaki gunung itu.

Dan untuk kelima kalinya dia berkata:

‘Demi nyawa ibu yang melahirkanku, dewi

Ninsun, dan ayahku, Lugalbanda yang murni!

Di mana engkau berdiam di gunung, hal itu belumlah

diketahui! Di mana engkau berdiam di gunung,

hal itu haruslah diketahui:

biarkan aku membawakanmu di gunung sandal-sandal kecil untuk

kaki-kakimu yang kecil.

Maka tidakkah aku boleh lalu bergabung dengan keluargamu?

Berikan aku satu dari aura-aura terormu,

dan aku akan menjadi kerabatmu!’

Aura terornya yang kelima dia berikan kepadanya.

Putra-putra kotanya yang datang bersamanya

memangkas dahan-dahannya, mengikatnya bersama-sama,

dan meletakkannya di kaki gunung itu.

Dan untuk keenam kalinya dia berkata:

‘Demi nyawa ibu yang melahirkanku, dewi

Ninsun, dan ayahku, Lugalbanda yang murni!

Di mana engkau berdiam di gunung, hal itu belumlah

diketahui! Di mana engkau berdiam di gunung,

hal itu haruslah diketahui:

biarkan aku membawakanmu di gunung

kristal batu, kalsedon dan lapis lazuli.

Maka tidakkah aku boleh lalu bergabung dengan keluargamu?

Berikan aku satu dari aura-aura terormu,

dan aku akan menjadi kerabatmu!’

Aura terornya yang keenam dia berikan kepadanya.

Putra-putra kotanya yang datang bersamanya

memangkas dahan-dahannya, mengikatnya bersama-sama,

dan meletakkannya di kaki gunung itu.

[Dan untuk ketujuh kalinya dia berkata:]

[‘Demi nyawa ibu yang melahirkanku, dewi

Ninsun, dan ayahku, Lugalbanda yang murni!]

[Di mana engkau berdiam di gunung, hal itu belumlah

diketahui! Di mana engkau berdiam di gunung,

hal itu haruslah diketahui:]

[biarkan aku membawakanmu di gunung …]

[Maka tidakkah aku boleh lalu bergabung dengan keluargamu?]

[Berikan aku satu dari aura-aura terormu,

dan aku akan menjadi kerabatmu!’]

[Aura terornya yang ketujuh dia berikan kepadanya.]

[Putra-putra kotanya yang datang bersamanya]

[memangkas dahan-dahannya, mengikatnya bersama-sama,]

[dan meletakkannya di kaki gunung itu.]

Setelah menelanjanginya dari ketujuh aura terornya,

dia mendekati sarangnya.

Laksana seekor ular di pelabuhan anggur,

dia mengikuti di belakangnya,

dan berbuat seakan hendak menciumnya,

memukul pipinya dengan tinjunya.

Huwawa memamerkan gigi-giginya yang cemerlang, mengerutkan keningnya.

Bagai menawan seekor banteng liar dia melemparkan seutas tali kepadanya,

bagai seorang prajurit yang ditawan dia mengikat kedua lengannya.

Huwawa berbicara kepada Gilgamesh:

‘Oh pejuang yang penuh tipu daya, [engkau berbuat curang padaku!]’

Keduanya [memasang] tali hidung … padanya.

[Menyeret] pejuang itu keluar dari sarangnya, ‘Duduklah!’

dia [berkata] kepadanya,

[menyeret] Huwawa keluar dari sarangnya, ‘Duduklah!’ dia

[berkata] kepadanya.

Sang pejuang duduk, menangis dan tersedu-sedu,

Huwawa duduk, menangis dan tersedu-sedu.

Huwawa [memanjatkan] permohonan kepada Gilgamesh:

‘Oh Gilgamesh, lepaskanlah aku!

Kepada sang Dewa Matahari izinkan aku mengucapkan sepatah kata!

Oh Utu, aku tak pernah tahu seorang ibu yang melahirkanku, aku tak pernah tahu

seorang ayah yang membesarkanku,

aku terlahir di pegunungan, engkaulah yang membesarkanku!

Gilgamesh telah bersumpah demi langit, dia telah bersumpah demi bumi, dia

telah bersumpah demi Dunia Bawah!’

Mencengkeramnya pada tangannya, dia merebahkan diri bersujud.

Lalu Gilgamesh yang mulia, hatinya menaruh belas kasihan kepadanya,

dia berbicara kepada pelayannya Enkidu:

‘Oh Enkidu, biarkan burung tawanan itu pergi ke tempatnya,

biarkan prajurit tawanan itu kembali ke pelukan ibunya!’

Enkidu memberikan jawaban kepada Gilgamesh:

‘Ho, bersoraklah! Anak pohon yang tumbuh menjulang,

yang mulia yang di dalamnya para dewa bersukacita,

lembu jantan yang murka berdiri siap untuk pertempuran,

penguasa belia Gilgamesh, yang dihormati di Uruk,

sungguh tahu ibumu bagaimana membuat seorang anak,

sungguh tahu perawatmu bagaimana menyusui seorang bayi!

Bahkan yang paling jangkung sekalipun, jika kurang akan petuah yang baik,

Namtar akan melahapnya dan dia tak akan menyadarinya!

Jika burung tawanan itu pergi ke tempatnya,

prajurit tawanan itu kembali ke pelukan ibunya,

maka engkau tak akan kembali ke kota ibu yang melahirkanmu!

Seorang pejuang tawanan diberikan kebebasan, seorang pendeta wanita

tawanan [dikembalikan] ke biara,

seorang pendeta tawanan dikembalikan ke rambut palsunya, dari zaman dahulu

kala [siapa yang pernah melihat hal semacam itu?]

[Jalan] pegunungan akan dia [kacaukan di hadapanmu,]

[jalur pegunungan] akan dia [buat membingungkan di hadapanmu.]’

[Sang pejuang memasang] telinga pada apa yang telah dia katakan,

Huwawa berbicara kepada Enkidu:

‘Oh Enkidu, tentangku engkau mengucapkan kata-kata yang jahat kepadanya!

Prajurit bayaran, yang melayani musuh untuk mendapatkan sepotong roti!

Engkau mengucapkan kata-kata yang jahat kepadanya!’

Namun tepat saat dia mengucapkan kata-kata ini,

dalam murka dan amarah Enkidu memenggal kepalanya pada lehernya.

Mereka memasukkannya ke dalam sebuah karung kulit,

dan membawanya ke hadapan dewa Enlil dan Ninlil.

Setelah mencium tanah di hadapan Enlil,

dia melemparkan karung itu dan menumpahkan kepala itu.

Mereka meletakkannya di hadapan Enlil.

Ketika Enlil melihat kepala Huwawa,

apa yang telah dilakukan Gilgamesh membuatnya murka:

‘Mengapa engkau melakukan hal ini?

Apakah pernah dititahkan agar namanya dihapuskan dari muka bumi?

Seharusnya dia duduk di hadapanmu,

seharusnya dia memakan roti yang engkau makan,

seharusnya dia meminum air yang engkau minum!

Kini dia akan menghiasi [rumah-rumah] dewa-dewa [yang agung!]’

Dari singgasananya Enlil membagikan aura surgawinya:

aura pertamanya dia berikan kepada padang rumput,

aura keduanya dia berikan kepada sungai,

aura ketiganya dia berikan kepada hutan gelagah,

aura keempatnya dia berikan kepada singa,

aura kelimanya dia berikan kepada pepohonan,

aura keenamnya dia berikan kepada istana,

aura ketujuhnya dia berikan kepada dewi Nungal,

sisa aura-aura itu dia ambil untuk dirinya sendiri.

Kehormatan bagi Gilgamesh yang perkasa,

puji-pujian bagi dewi Nissaba!

 

Versi B: ‘Ho, bersoraklah!’

Versi puisi Gilgamesh dan Huwawa yang lebih pendek dan kurang populer ini belum berhasil dipulihkan secara utuh. Selain jauh lebih ringkas dibandingkan Versi A, Versi B juga memiliki banyak variasi kecil. Namun, perbedaan yang paling mencolok di antara keduanya terletak pada alur ceritanya.

Pada momen krusial saat Gilgamesh tersadar dari pingsannya akibat pengaruh aura Huwawa, ia sama sekali tidak menunjukkan keperkasaan untuk menenangkan Enkidu yang sedang ketakutan. Sebaliknya, sang pahlawan justru meragukan kemampuannya sendiri untuk menandingi kekuatan monster tersebut. Ia kemudian berseru kepada dewanya, Enki, dan memohon agar sang dewa sudi "mengemuka" di dalam setiap ucapannya.

Frasa ini dapat diartikan sebagai permohonan agar dewa tipu muslihat itu memberinya ilham untuk menaklukkan musuh lewat kata-kata manipulatif. Melalui perantara Enkidu yang seolah melontarkan kata-kata yang seharusnya diucapkan oleh Gilgamesh, Enki benar-benar mengabulkan permohonan tersebut. Setelah itu, alur cerita langsung bergerak maju menuju pertemuan dengan Huwawa, di mana Gilgamesh mulai melancarkan taktik diplomasinya untuk memikat hati sang penjaga hutan.

 

Ho, bersoraklah! Anak pohon yang tumbuh menjulang,

yang mulia yang di dalamnya para dewa bersukacita,

lembu jantan yang murka berdiri siap untuk pertempuran,

penguasa belia Gilgamesh, yang dihormati di Uruk!

Gilgamesh:

‘Di Uruk seorang pria mati, dan benak pun terpukul,

seorang pria binasa, dan hati merasakan kepedihan.

Aku mengangkat kepalaku di atas dinding pertahanan,

aku melihat sesosok mayat yang hanyut di atas air.

Benak putus asa, hati pun terpukul:

karena akhir kehidupan tak dapat dielakkan –

liang kubur, Dunia Bawah yang menindas,

yang tak mengampuni seorang pria pun:

“Tak seorang pun mampu meraih melintasi gunung,

tak peduli setinggi apa pun itu,

tak seorang pun mampu merangkul gunung,

tak peduli seluas apa pun dirinya!” –

karena tak seorang pun luput dari akhir kehidupan,

demi nyawa ibu yang melahirkanku, dewi

Ninsun, ayahku, Lugalbanda [yang murni],

dewaku Enki, sang penguasa Nudimmud,

adik perempuanku Enmebaragesi dan saudara perempuanku Peshtur,

aku akan [mendaki] gunung itu!

Aku akan [mendaki] gunung pohon aras yang tiada duanya!

Di dasarnya aku akan membangun sebuah kuil untuk dewaku,

aku akan mengambil alih dahan-dahannya,

aku akan memasuki tiang-tiang gerbangnya

yang terbalut dalam kemegahan!’

Pelayannya Enkidu berbicara kepadanya:

‘[Tuanku, jika] engkau hendak memasuki [gunung itu,]

dewa Utu haruslah diberitahu!

Jika engkau hendak memasuki [Gunung] Tebang-Aras,

Utu haruslah diberitahu!

Perkara mengenai gunung itu adalah urusan Utu,

perkara mengenai Gunung Tebang-Aras adalah urusan Pahlawan Belia Utu.’

Utu Surgawi mengenakan kilau lapis-lazulinya,

melangkah keluar dengan kepala tegak.

Gilgamesh, sang penguasa Kullab, memegang tongkat suci di

tangannya di depan hidungnya:

‘Oh Utu, aku hendak memasuki gunung itu, jadilah engkau penolongku!

Aku hendak memasuki Gunung Tebang-Aras, jadilah engkau penolongku!’

[Tujuh pahlawan mereka, putra-putra dari satu ibu,]

[ketujuh sosok ini diberikan oleh sang pejuang, Pahlawan Belia Utu, kepada Gilgamesh:]

‘[Yang pertama, yang tertua di antara mereka, memiliki cakar singa dan cakar paut elang,]

[yang kedua adalah seekor kobra bermulut terbuka …,]

[yang ketiga seekor Ular Naga yang menundukkan …,]

[yang keempat seekor … yang mengobarkan api …,]

[yang kelima] seekor ular memekik

yang jeritannya membelah dataran tinggi,

[yang keenam] serupa arus deras yang menghantam [pegunungan,]

yang ketujuh meledak laksana kilat sehingga tak ada yang bisa mendekatinya:

di langit mereka bersinar, di bumi mereka mengenali jalan-jalan itu,

di langit mereka adalah bintang-bintang yang berkobar di tempat tinggi,

di bumi [mereka mengenali] jalan menuju Aratta,

[laksana] para saudagar mereka mengenali jalur-jalur,

laksana burung merpati mereka mengenali ceruk dan celah pegunungan:

melalui celah-celah pegunungan biarkan mereka membimbingmu.’

Di kotanya Gilgamesh mengerahkan pasukan tempur,

di [tengah-tengah] Kullab dia membunyikan sangkakala:

‘Oh kota, barang siapa yang memiliki istri, pulanglah kepada istrinya!

Barang siapa yang memiliki anak, pulanglah kepada anaknya!

Oh para pejuang yang dikenal, Oh para pejuang yang tak dikenal,

yang tidak memiliki istri, yang tidak memiliki anak,

biarkan pria-pria semacam itu berada di sisiku, bersama Gilgamesh!’

Sang raja melangkah keluar dari kota,

Gilgamesh melangkah keluar dari Kullab.

Menempuh jalan menuju Gunung Tebang-Aras,

dia melintasi rangkaian pegunungan pertama, dia tidak menemukan

pohon aras yang diinginkannya,

[dia melintasi rangkaian] pegunungan kedua[, dia tidak menemukan pohon aras yang diinginkannya,]

[dia melintasi rangkaian] pegunungan ketiga[, dia tidak menemukan pohon aras yang diinginkannya,]

[dia melintasi rangkaian] pegunungan keempat[, dia tidak menemukan pohon aras yang diinginkannya,]

[dia melintasi rangkaian] pegunungan [kelima, dia tidak menemukan pohon aras yang diinginkannya,]

[dia melintasi rangkaian pegunungan keenam, dia tidak menemukan pohon aras yang diinginkannya,]

namun melintasi rangkaian pegunungan ketujuh,

dia menemukan pohon aras yang diinginkannya.

Gilgamesh menebang pohon aras itu,

pelayannya Enkidu memotongnya menjadi gelondongan kayu,

putra-putra kotanya yang datang bersamanya

menyusunnya menjadi sebuah tumpukan.

Lalu saat pejuang yang satu mendekati yang lainnya,

aura [Huwawa] membentang laksana permadani.

[Gilgamesh diliputi, sebuah kelumpuhan] mencengkeramnya laksana sebuah tidur.

[Enkidu berbicara kepada Gilgamesh:]

‘[Engkau] yang terbaring, [engkau] yang terbaring,

Oh penguasa belia Gilgamesh, berapa lama [engkau akan] terbaring?

Gunung telah menjadi [gelap,] bayang-bayang [membentang di atasnya,]

[berkas sinar mentari di waktu petang telah sirna.]’

Gilgamesh bangkit, itu tadi sebuah mimpi,

dia bergidik, itu tadi sebuah tidur yang teramat lelap.

Dia mengucek matanya dengan kedua tangannya,

yang ada hanyalah keheningan yang mencekam.

‘Demi nyawa ibu yang melahirkanku, dewi

Ninsun, dan ayahku, Lugalbanda yang murni,

[semoga] dewaku [Enki, sang penguasa Nudimmud,]

[mengemuka di dalam kata-kataku!]

Aku [telah menatapnya, aku dapat] memahami:

dia adalah seorang pejuang, matanya adalah mata singa!

Dadanya adalah arus deras,

keningnya melahap hutan gelagah, tak ada yang bisa mendekatinya,

laksana seekor singa pemakan manusia, lidahnya tak pernah terpuaskan oleh darah:

aku tak memiliki daya untuk (menandingi) pejuang itu,

siapa sesungguhnya yang memilikinya?’

Pelayannya Enkidu berbicara kepadanya:

‘Demi nyawa [ibu yang melahirkanmu, dewi

Ninsun], dan ayahmu, [Lugalbanda yang murni,]

[semoga] dewamu Enki-[Nudimmud mengemuka] di dalam kata-katamu:

“Oh pejuang, [di mana engkau berdiam di] gunung,

hal itu haruslah diketahui:

[untuk] kaki-kakimu yang kecil biarkan sandal [kecil] [dibuatkan,]

[untuk] kaki-kakimu yang besar [biarkan] sandal [besar] dibuatkan!”’

Beberapa baris hilang, dan teks dilanjutkan kembali dengan seruan

Gilgamesh kepada Huwawa:

‘[Demi nyawa] ibu yang melahirkanku, dewi

Ninsun, dan ayah yang membuahi aku, Lugalbanda yang murni,

[semoga] [dewa]ku Enki-Nudimmud mengemuka [di dalam

kata-kataku!]

Oh pejuang, di mana engkau berdiam di gunung,

hal itu haruslah diketahui:

untuk kaki-kakimu yang kecil [biarkan] sandal-sandal kecil dibuatkan,

untuk kakimu yang besar [biarkan] sandal-sandal besar dibuatkan!’

[Aura pertama]

[dia berikan kepadanya.]

[Putra-putra kotanya yang datang bersamanya]

[menyusunnya menjadi sebuah tumpukan.]

[Aura kedua,]

[aura ketiga,]

[aura keempat,]

[aura kelima,]

[aura keenam,]

mereka [menumpuk]nya menjadi tumpukan-tumpukan di gunung itu.

Setelah menelanjanginya dari ketujuh auranya,

dia mendekati sarangnya,

dia memukul telinganya dengan tinjunya.

Huwawa mengerutkan keningnya, memamerkan gigi-giginya kepadanya.

Bagai menawan seekor banteng liar dia melemparkan seutas tali pada nya,

bagai seorang prajurit yang ditawan dia mengikat kedua sikunya (di belakangnya).

Sang pejuang mulai menangis dan tersedu-sedu,

Huwawa mulai menangis dan tersedu-sedu:

‘Oh pejuang, engkau menipuku, engkau meletakkan tanganmu padaku,

padahal engkau telah bersumpah kepadaku.

Demi nyawa [ibu yang melahirkanmu], dewi

Ninsun, dan ayahmu, Lugalbanda yang murni,

dewa[mu] [Enki]-Nudimmud mengemuka di dalam kata-katamu!

[Bagai menawan seekor banteng liar] engkau melemparkan seutas tali pada ku,

[bagai seorang prajurit yang ditawan engkau mengikat] kedua sikuku (di belakangku)!’

[Lalu] Gilgamesh [yang] mulia, hatinya [menaruh] belas kasihan [padanya,]

dia berbicara kepada pelayannya Enkidu:

‘Kemarilah, aku akan membebaskan sang pejuang,

dia akan menjadi pemandu kita, yang akan memata-matai rute

bagi kita, dia akan menjadi pemandu kita,

dia akan menjadi [kuli panggul]ku, dia akan membawa bebanku.’

Pelayannya Enkidu memberikan jawaban kepada Gilgamesh:

‘Bahkan yang paling jangkung sekalipun dapat kurang akan petuah yang baik.’

‘Seorang pejuang tawanan diberikan kebebasan,

seorang pendeta wanita tawanan dikembalikan ke biara,

seorang pendeta tawanan dikembalikan ke rambut palsunya,

dari zaman dahulu kala siapa yang pernah melihat hal semacam itu?

Jalan pegunungan akan dia kacaukan di hadapanmu,

jalur pegunungan akan dia buat membingungkan di hadapanmu,

kita tak akan [kembali ke kota] dari ibu-ibu yang melahirkan kita!’

Huwawa memberikan [jawaban] kepada [Gilgamesh:]

‘Ibu yang melahirkanku adalah sebuah gua di pegunungan,

ayah yang membuahi aku adalah sebuah gua di dataran tinggi!

Oh Utu, engkau membuatku berdiam seorang diri di gunung!’

Gilgamesh berbicara kepada Huwawa:

‘Kemarilah, …’

Sisa teks ini hilang.

 

Komentar