Berkat penemuan beberapa naskah baru di Mê-Turan (Tell Haddad), puisi ini kini lebih dipahami oleh para ahli. Namun, beberapa bagian di dalamnya masih sangat sulit diterjemahkan. Oleh karena itu, sama halnya dengan kisah "Gilgamesh dan Banteng Surga", terjemahan puisi ini masih bersifat sementara dan belum sepenuhnya pasti.
Kisah ini dibuka
dengan pemandangan Gilgamesh yang sedang terpuruk. Ia jatuh sakit dan mengigau
di ranjang kematiannya karena dicengkeram oleh Namtar, sang utusan maut. Dalam
kondisi tersebut, dewa Enki (dalam wujud Nudimmud) memberikan sebuah
penglihatan kepada Gilgamesh. Ia melihat dirinya berada dalam sidang para dewa
yang sedang memperdebatkan takdirnya. Para dewa meninjau kembali segala
pencapaian hebat sang pahlawan, mulai dari petualangannya di Hutan Aras,
perjalanannya ke ujung dunia, hingga ilmu kuno yang ia dapatkan dari Ziusudra,
sang penyintas Air Bah. Mereka menghadapi sebuah dilema. Mengingat Gilgamesh
adalah putra dari seorang dewi, apakah ia harus mati sebagai manusia biasa atau
dibiarkan hidup abadi?
Dewa Enki, yang memang
bertugas menyelesaikan berbagai persoalan, kemudian memberikan keputusan akhir.
Ia menetapkan bahwa satu-satunya manusia yang berhak mendapatkan keabadian
hanyalah Ziusudra. Walaupun Gilgamesh memiliki darah ilahi, ia tetap harus mati
dan turun ke Dunia Bawah seperti manusia pada umumnya. Namun, Gilgamesh akan
diberikan kedudukan istimewa di sana. Ia akan menjadi pemimpin roh orang mati
dan bertugas sebagai hakim, setara dengan dewa-dewa penghuni Dunia Bawah
seperti Ningishzida dan Dumuzi. Lebih dari itu, namanya akan terus dikenang di
dunia atas melalui Festival Cahaya tahunan. Pada festival yang jatuh di bulan
kelima Babilonia (sekitar bulan Agustus) ini, para pemuda akan menggelar tradisi
menyalakan obor dan bertanding gulat untuk menghormatinya. Dewa Enlil kemudian
muncul untuk menegaskan pesan mimpi tersebut dengan kata-kata yang lebih lugas.
Ia menyatakan bahwa Gilgamesh memang ditakdirkan menjadi raja agung, tetapi ia
tidak luput dari kematian. Meski begitu, ia tidak perlu bersedih karena di
Dunia Bawah ia akan berkumpul kembali dengan keluarganya serta sahabatnya,
Enkidu, dan diangkat menjadi salah satu dewa tingkat rendah.
Gilgamesh pun
terbangun dalam keadaan terkejut. Meskipun bagian teks di sini mengalami
kerusakan, sang pahlawan tampaknya pergi mencari orang bijak untuk menafsirkan
mimpinya. Puisi ini kemudian mengulang seluruh isi mimpi tersebut secara utuh.
Kemungkinan besar, bagian ini menceritakan momen saat Gilgamesh menuturkan
mimpinya kepada sang penasihat (meskipun secara tata bahasa, teksnya gagal
mengubah sudut pandang orang ketiga menjadi orang pertama). Penasihat itu lalu
menenangkan Gilgamesh dengan mengatakan bahwa kematian adalah hal yang mutlak,
bahkan bagi seorang raja. Alih-alih bersedih, Gilgamesh seharusnya bangga dan
bersukacita atas status agung yang menantinya di alam baka.
Setelah sebuah bagian
teks yang terputus, cerita berlanjut saat Gilgamesh mulai membangun makamnya
atas dorongan dewa Enki. Jeda teks ini membuat cara komunikasi Enki tidak
diketahui pasti, tetapi putra Gilgamesh yang bernama Urlugal tampaknya ikut
berperan. Untuk memastikan makam tersebut aman dan tidak bisa diganggu gugat,
Enki memberikan sebuah gagasan cerdas. Gilgamesh memerintahkan para pekerjanya
untuk mengalihkan aliran sungai Efrat, lalu membangun makam dari batu di dasar
sungai yang mengering tersebut. Setelah makam siap, para selir dan pengawal
kerajaan masuk ke dalamnya untuk menemani sang raja di alam baka. Adegan ini
sangat mirip dengan praktik pemakaman massal kaum elit yang ditemukan oleh Sir
Leonard Woolley pada tahun 1920-an di Makam Kerajaan Ur. Agar kedatangan
rombongannya disambut baik di Dunia Bawah, Gilgamesh memberikan berbagai
persembahan kepada para dewa di istana Ereshkigal. Ia kemudian berbaring, dan
pintu makam disegel rapat dengan batu besar. Aliran sungai Efrat lalu
dikembalikan ke jalur aslinya sehingga lokasi makam itu tersembunyi selamanya.
Di atas tanah, rakyat Uruk meratapi kepergian raja mereka.
Saat ini, terdapat dua
versi penutup puisi yang berhasil diselamatkan. Versi pertama, yang kondisinya
kurang terjaga, berisi puji-pujian yang mengagungkan Gilgamesh sebagai raja
terbesar. Sementara itu, versi kedua memiliki nada yang lebih mendidik. Versi
ini menjelaskan bagaimana manusia bisa terus hidup dalam ingatan generasi
selanjutnya setelah kematian. Cara pertama adalah melalui pembuatan patung
persembahan di kuil, yang memastikan nama orang tersebut terus disebut dan
memberikan tempat bagi ritual pemakamannya. Cara kedua adalah melalui
keturunan, di mana para dewa telah merancang agar umat manusia membangun
keluarga untuk meneruskan garis keturunan mereka selamanya.
Banteng
liar agung itu membaringkan dirinya, tak akan pernah bangkit kembali,
sang
penguasa Gilgamesh membaringkan dirinya, tak akan pernah bangkit kembali,
dia
yang sempurna dalam pertempuran membaringkan dirinya,
tak
akan pernah bangkit kembali,
sang
pejuang yang berikatkan sabuk bahu membaringkan dirinya,
tak
akan pernah bangkit kembali,
dia
yang sempurna dalam keperkasaan membaringkan dirinya,
tak
akan pernah bangkit kembali,
dia
yang menumpas orang-orang fasik membaringkan dirinya,
tak
akan pernah bangkit kembali,
dia
yang menuturkan hikmat membaringkan dirinya, tak akan pernah bangkit kembali,
sang
penjaga negeri yang senantiasa terjaga membaringkan dirinya,
tak
akan pernah bangkit kembali,
dia
yang mendaki pegunungan membaringkan dirinya,
tak
akan pernah bangkit kembali,
penguasa
Kullab membaringkan dirinya, tak akan pernah bangkit kembali,
dia
terbaring di atas pembaringan mautnya, tak akan pernah bangkit kembali,
dia
terbaring di atas pembaringan nestapa, tak akan pernah bangkit kembali.
Dia
tak berdaya untuk berdiri, dia tak berdaya untuk duduk,
dia
hanya mampu mengerang,
dia
tak berdaya untuk makan, dia tak berdaya untuk minum,
dia
hanya mampu mengerang,
belenggu
Namtar menahannya kuat-kuat,
dia
tak berdaya untuk bangkit.
Laksana
seekor … ikan … di dalam kolam, dia diangkat ke dalam sebuah [jala,]
laksana
seekor rusa gazel yang terjerat perangkap,
dia
[tertahan kuat] di tempatnya terbaring.
Namtar,
yang tak memiliki tangan, yang tak memiliki kaki,
yang
[merenggut] seorang manusia di malam hari,
Namtar,
yang menanduk […telah mencengkeram penguasa Gilgamesh …]
Selama
enam hari [dia terbaring] sakit, ……
[keringat
bercucuran] dari tubuhnya laksana lemak (yang meleleh).
Penguasa
Gilgamesh [terbaring] sakit, ……
Uruk
dan Kullab ……
tutur
kata negeri ……
Lalu
penguasa belia [Gilgamesh] ……
[saat
dia terbaring] di atas pembaringan Namtar …
…
dalam tidur … [dia mendapatkan sebuah mimpi.]
Dalam
mimpi itu, dewa [Nudimmud membuka matanya: –]
Dalam
majelis persidangan, tempat upacara [para dewa],
[penguasa]
Gilgamesh [yang telah] melangkah [mendekat,]
mereka
berkata kepadanya, penguasa [Gilgamesh, atas perkaranya:]
‘Perkaramu
– setelah menempuh setiap dan segala jalan,
setelah
membawa turun pohon aras yang tiada duanya itu dari gunungnya,
setelah
membunuh Huwawa di dalam hutannya,
setelah
menegakkan monumen-monumen untuk hari-hari di masa depan,
setelah
mendirikan kuil-kuil para dewa,
engkau
mencapai Ziusudra di kediamannya!
Ritus-ritus
Sumeria, yang terlupakan di sana sejak hari-hari kuno di masa lampau,
ritual-ritual
dan adat istiadat – engkau membawanya turun ke negeri.
Ritus-ritus
pembasuhan tangan dan pembasuhan mulut engkau tata dengan baik,
[setelah]
Air Bah telah menenggelamkan pemukiman di seluruh negeri,
‘Setelah
membawa ……
[kini
Gilgamesh] atas perkara tersebut tidak sepatutnya direnggut pergi.’
[Kehendak
Enlil kepada Enki] mereka sampaikan,
[kepada
An dan Enlil Enki] memberikan jawaban:
‘Pada
masa itu, pada masa yang jauh di masa silam,
pada
malam-malam itu, pada malam-malam yang jauh di masa silam,
pada
tahun-tahun itu, pada tahun-tahun yang jauh di masa silam,
setelah
[majelis persidangan] telah membuat Air Bah menyapu bersih,
sehingga
kita dapat membinasakan benih umat manusia,
di
tengah-tengah kita satu orang manusia masih hidup,
Ziusudra,
salah seorang umat manusia, masih hidup!
Sejak
saat itu kita bersumpah demi kehidupan langit dan kehidupan bumi,
sejak
saat itu kita bersumpah bahwa umat manusia
tidak
sepantasnya memiliki kehidupan abadi.
Dan
kini kita menatap Gilgamesh:
terlepas
dari ibunya kita tak dapat menunjukkan kepadanya belas kasihan!
Gilgamesh,
dalam wujud arwahnya, mati di Dunia Bawah,
akan
menjadi gubernur Dunia Bawah, pemimpin kaum bayang-bayang!
Dia
akan menjatuhkan putusan, dia akan memberikan vonis,
apa
yang dia katakan akan sama berbobotnya
dengan
titah Ningishzida dan Dumuzi.
Lalu
penguasa belia itu, penguasa Gilgamesh …
’
Teks menjadi kacau balau, dan terputus
setelah beberapa baris lagi. Sebuah versi yang sedikit berbeda dari petikan ini
(atau, lebih tepatnya, dari pengulangannya pada baris 174 dan seterusnya)
muncul pada prasasti-prasasti dari Nippur dan dapat dipulihkan di sini:
‘[Dewa
Mimpi Sissig, putra Utu,]
[akan
menyediakan cahaya baginya di Dunia Bawah, tempat kegelapan.]
[Manusia,
sebanyak yang diberikan nama-nama,]
[tatkala
patung-patung (pemakaman) mereka ditempa pada hari-hari di masa depan,]
[para
pemuda pejuang dan para penonton akan membuat
setengah
lingkaran di sekeliling ambang pintu,]
[dan
di hadapannya pertandingan gulat dan ujian
keperkasaan
akan dilangsungkan.]
[Di
Bulan Obor, festival kaum arwah,]
[tanpa
kehadirannya cahaya tak akan disediakan
di
hadapan mereka.]’
[Gunung
Agung Enlil, ayah para dewa,]
[berbincang
di dalam mimpi dengan penguasa Gilgamesh:]
[‘Oh
Gilgamesh, aku menjadikan takdirmu takdir sebuah
kerajaan,
namun aku tidak menjadikannya takdir kehidupan abadi.]
[Bagi
umat manusia, apa pun kehidupan yang dimilikinya, janganlah gundah di hati,]
[janganlah
putus asa, janganlah terpukul di hati!]
[Kutukan
umat manusia dengan demikian telah tiba, aku telah memberitahumu,]
[apa
yang (ditetapkan) ketika tali pusarmu dipotong dengan demikian
telah
tiba, aku telah memberitahumu.]
[Hari
paling gelap bagi manusia fana telah menyusulmu,]
[tempat
yang sunyi bagi manusia fana telah menyusulmu,]
[gelombang
air bah yang tak dapat dihadang telah menyusulmu,]
[pertempuran
yang tak dapat dihindari telah menyusulmu,]
[pertarungan
yang tak dapat ditandingi telah menyusulmu,]
[perkelahian
yang tak menunjukkan belas kasihan telah menyusulmu!]
[Namun
janganlah turun ke Kota Agung dengan hati
yang
terikat (dalam amarah),]
[biarkan
ia terlepas di hadapan Utu,]
[biarkan
ia terurai laksana serat palem dan terkelupas
laksana
sebutir bawang!]
Pergilah,
[ketika para dewa] Anunna [yang agung duduk]
pada
perjamuan pemakaman,
ke
tempat di mana para pendeta en terbaring,
di
mana para [pendeta lagar terbaring,]
ke
tempat di mana para pendeta lumah dan pendeta wanita nindingir terbaring,
ke
tempat di mana para pendeta wanita nindingir terbaring,
di
mana "dia yang sejati" terbaring,
ke
tempat di mana para pendeta guda terbaring,
di
mana para pendeta berbalut lenan terbaring,
tempat
di mana ayahmu berada, dan kakek-kakekmu,
ibumu,
saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudaramu,
temanmu
yang berharga, adik laki-lakimu,
temanmu
Enkidu, pemuda pendampingmu!
[(Di
sana) di Kota Agung, berdiam] para gubernur dan raja-raja,
di
sana para panglima pasukan [terbaring,]
[di
sana para kapten kawanan prajurit terbaring.]
[Ketika
di Kota Agung Aralli seorang pria …,]
[mereka
yang masuk tidak akan kembali.]
[Dari
rumah saudara perempuan sang saudara perempuan akan datang kepadamu,]
[dari]
rumah [saudara sang saudara akan datang kepadamu,]
milikmu
sendiri [akan datang kepadamu,
dia
yang berharga bagimu akan datang kepadamu,]
para
tetua kotamu akan datang kepadamu!
Janganlah
putus asa, janganlah terpukul di hati,
karena
kini engkau akan terhitung di antara dewa-dewa Anunna,
engkau
akan dianggap kedua setelah dewa-dewa yang agung,
engkau
akan bertindak sebagai gubernur Dunia Bawah,
engkau
akan menjatuhkan putusan, engkau akan memberikan vonis,
apa
yang [engkau katakan] akan sama berbobotnya
[dengan
titah Ningishzida dan] Dumuzi.’
Lalu
[penguasa] belia itu, penguasa Gilgamesh,
terbangun,
itu tadi sebuah [mimpi,] dia bergidik, [itu tadi
sebuah
tidur yang teramat lelap.]
[Dia
mengucek] matanya, yang ada hanyalah [keheningan]
yang
mencekam.
Mimpi
itu ………
Mimpi
itu ………
[Penguasa
Gilgamesh, penguasa] Kullab,
……
pahlawan Gunung Bercahaya,
[penguasa
Uruk,] bengkel kriya para dewa yang agung,
[meminta]
petuah kepada ……:
‘Demi
nyawa [ibu yang melahirkanku,] dewi Ninsun,
[ayahku,]
Lugalbanda [yang murni],
[dan
dewaku Enki, sang penguasa] Nudimmud!
Haruskah
aku bertingkah seolah dalam ketakutan di atas pangkuan [Ninsun,]
ibu
yang melahirkanku?
……
sebuah gunung agung …,
Namtar,
yang tak memiliki tangan, yang tak memiliki kaki,
yang
[tak tahu bagaimana] mengampuni seorang pria,
diriku
yang telah ……[aku mendapatkan sebuah mimpi.]
Dalam
mimpi itu, dewa Nudimmud membuka mataku: –
‘Dalam
majelis persidangan, tempat upacara para dewa,
penguasa
Gilgamesh telah melangkah mendekat,
mereka
berkata kepadanya, penguasa Gilgamesh, atas perkaranya:
“Perkara[mu]
– setelah menempuh setiap dan segala jalan,
setelah
membawa turun pohon aras yang tiada duanya itu dari gunungnya,
setelah
membunuh Huwawa di dalam hutannya,
setelah
menegakkan [monumen-monumen] untuk hari-hari di masa depan,
setelah
mendirikan [kuil-kuil para dewa,]
engkau
mencapai [Ziusudra di kediamannya!]
[Ritus-ritus
Sumeria,] yang terlupakan sejak hari-hari kuno di masa lampau,
[ritual-ritual
dan adat istiadat – engkau] membawanya turun ke [negeri.]
Ritus-ritus
pembasuhan tangan dan pembasuhan mulut engkau tata dengan baik,
[setelah]
Air Bah telah menenggelamkan pemukiman di seluruh negeri,
“Setelah
membawa ……
[kini]
Gilgamesh [atas perkara tersebut tidak sepatutnya direnggut pergi.]”
Kehendak
Enlil kepada Enki [mereka sampaikan,]
kepada
An dan Enlil Enki [memberikan jawaban:]
“Pada
masa itu, [pada masa yang jauh] di masa silam,
pada
malam-malam itu, [pada malam-malam yang jauh] di masa silam,
pada
tahun-tahun itu, [pada tahun-tahun yang jauh] di masa silam,
[setelah]
majelis persidangan telah membuat Air Bah menyapu bersih,
sehingga
kita dapat membinasakan benih umat manusia,
di
tengah-tengah kita satu orang manusia masih hidup,
Ziusudra,
salah seorang umat manusia, masih hidup!
Sejak
saat itu kita bersumpah demi kehidupan langit
dan
kehidupan bumi,
sejak
saat itu kita bersumpah bahwa umat manusia
tidak
sepantasnya memiliki kehidupan abadi.
Dan
kini kita menatap Gilgamesh:
terlepas
dari ibunya kita tak dapat menunjukkan kepadanya belas kasihan!
Gilgamesh,
dalam wujud arwahnya, mati di Dunia Bawah,
akan
menjadi [gubernur Dunia Bawah,] pemimpin kaum bayang-bayang!
[Dia
akan menjatuhkan putusan,] dia akan memberikan vonis,
[apa
yang dia katakan akan sama berbobotnya dengan titah]
Ningishzida
dan Dumuzi.
[Lalu
penguasa belia itu, penguasa] Gilgamesh …”
‘“Dewa
Mimpi Sissig, putra Utu,
akan
menyediakan cahaya baginya di Dunia Bawah, tempat kegelapan.
Manusia,
sebanyak yang diberikan nama-nama,
tatkala
patung-patung (pemakaman)
mereka
ditempa pada hari-hari di masa depan,
para
pemuda pejuang dan para penonton akan membuat
setengah
lingkaran di sekeliling ambang pintu,
dan
di hadapannya pertandingan gulat dan ujian keperkasaan
akan
dilangsungkan.
Di
Bulan Obor, festival kaum arwah,
tanpa
kehadirannya cahaya tak akan disediakan
di
hadapan mereka.”’
‘Gunung Agung Enlil,
ayah para dewa,
berbincang di dalam
mimpi dengan penguasa Gilgamesh:
“Oh Gilgamesh, aku
menjadikan takdirmu takdir sebuah
kerajaan, namun aku
tidak menjadikannya [sebuah takdir] kehidupan abadi.
Bagi umat manusia, apa
pun kehidupan yang dimilikinya, janganlah gundah di hati,
janganlah putus asa,
janganlah terpukul di hati!
Kutukan umat manusia
dengan demikian telah tiba, aku telah memberitahumu,
apa yang (ditetapkan)
ketika tali pusarmu dipotong dengan demikian telah tiba,
aku telah
memberitahumu.
Hari paling gelap bagi
manusia fana telah menyusulmu,
tempat yang sunyi bagi
manusia fana telah menyusulmu,
gelombang air bah yang
tak dapat dihadang telah menyusulmu,
pertempuran yang tak
dapat dihindari telah menyusulmu,
pertarungan yang tak dapat
ditandingi telah menyusulmu,
perkelahian yang tak
menunjukkan belas kasihan telah menyusulmu!
Namun janganlah turun
ke Kota Agung dengan hati yang terikat
(dalam amarah),
biarkan ia terlepas di
hadapan Utu,
biarkan ia terurai
laksana serat palem
dan terkelupas laksana
sebutir bawang!
Pergilah, ketika para
dewa Anunna yang agung
duduk pada perjamuan
pemakaman,
ke tempat di mana para
pendeta en terbaring,
di mana para pendeta
lagar terbaring,
ke tempat di mana para
pendeta lumah dan pendeta wanita nindingir terbaring,
ke tempat di mana para
pendeta guda terbaring,
di mana para pendeta berbalut
lenan terbaring,
ke tempat di mana para
pendeta wanita nindingir terbaring,
di mana ‘dia yang sejati’
terbaring,
tempat di mana ayahmu
berada, dan kakek-kakekmu,
ibumu, saudara-saudara
perempuanmu, saudara-saudaramu,
temanmu yang berharga,
adik laki-lakimu,
temanmu Enkidu, pemuda
[pendamping]mu!
(Di sana) di Kota
Agung, berdiam para gubernur dan raja-raja,
di sana para panglima pasukan
terbaring seorang diri,
di sana para kapten
kawanan prajurit terbaring seorang diri.
Ketika di Kota Agung
Aralli seorang pria …,
mereka yang masuk
[tidak akan kembali.]
Dari rumah saudara
perempuan sang saudara perempuan akan datang kepadamu,
dari rumah saudara
sang saudara akan datang kepadamu,
milikmu sendiri akan
datang kepadamu,
dia yang berharga
bagimu akan datang kepadamu.
Para tetua kotamu akan
datang kepadamu,
…… akan datang
kepadamu,
…… akan datang
kepadamu,
…… akan datang
kepadamu!
Janganlah putus asa,
janganlah terpukul di hati,
karena kini [engkau
akan terhitung] di antara dewa-dewa Anunna,
[engkau akan dianggap]
kedua setelah dewa-dewa yang agung,
[engkau akan bertindak
sebagai gubernur Dunia Bawah,]
[engkau akan
menjatuhkan putusan, engkau akan memberikan vonis,]
[apa yang engkau
katakan] akan sama berbobotnya [dengan titah
Ningishzida dan
Dumuzi.”]’
Setelah [penguasa
belia itu, penguasa] Gilgamesh,
[penguasa Kullab]
menuturkan [mimpi] itu,
[para penasihat]
kepada siapa dia menuturkannya
[kepada Gilgamesh]
memberikan jawaban:
‘[Oh penguasa
Gilgamesh, apakah] yang menjadi sebab air matamu?
Karena alasan apakah
dibuat …?
[Pria yang tidak]
dicengkeram [kematian], sang Dewi Ibu
belum melahirkannya!
[Sejak benih manusia
pertama kali] … muncul,
……… tidaklah wujud.
Bahkan … sang pegulat
dapat terperangkap dalam jala lempar!
Seekor burung di
langit, tatkala telah terkurung oleh jala, tidak akan
luput dari tangan
seseorang!
Seekor ikan dari
kedalaman tak lagi melihat … gelagah,
ketika nelayan muda
menebarkan jalanya, ia terperangkap di dalamnya!
Tak seorang pun pria,
siapa pun dia, yang dapat mendaki …
dari tengah-tengah
Dunia Bawah,
dari zaman dahulu kala
siapa yang pernah melihat (hal semacam itu)?
Tak akan pernah ada
raja lain,
yang takdirnya sama
sepertimu.
Manusia, sebanyak yang
diberikan nama-nama –
di manakah dia, sang
pria … yang takdirnya [sama] sepertimu?
Jabatan gubernur Dunia
Bawah [akan menjadi milikmu,]
engkau, arwahmu, [akan
terhitung di antara dewa-dewa Anunna,]
engkau akan menjatuhkan
putusan, [engkau akan memberikan vonis,]
[apa yang engkau
katakan akan sama berbobotnya
dengan titah Ningishzida
dan Dumuzi.]’
Laksana … arsiteknya
merancang makamnya.
Karena mereka dilanda
kebingungan, dewa itu, Enki,
menyingkapkan kepada
mereka makna mimpi tersebut.
Penglihatan itu,
Urlugal menyingkapkannya,
tak ada orang lain
yang menyingkapkannya!
Sang penguasa
mengerahkan pasukan pekerja di kotanya,
sang bentara meniup
sangkakalanya di negeri-negeri:
‘Oh Uruk, bangkitlah!
Jebollah sungai Efrat!
Oh Kullab, bangkitlah!
Kosongkan Efrat dari airnya!’
Pasukan pekerja Uruk
yang dikerahkan adalah sebuah Air Bah,
pasukan pekerja Kullab
yang dikerahkan adalah kabut yang turun begitu tebal!
Bahkan pertengahan
dari satu bulan tunggal belumlah berlalu,
belum genap lima hari,
belum genap sepuluh hari,
mereka menjebol Efrat,
mereka mengosongkannya dari airnya,
batu-batu kerikilnya
menatap sang Dewa Matahari dalam ketakjuban.
Lalu di dasar sungai
Efrat tanah merekah kering.
Dia membangun makam
itu dari batu,
dia membangun
tembok-temboknya dari batu,
dia membuat
pintu-pintu batu untuk pintu masuknya.
Palang dan ambang
pintunya adalah diorit yang paling keras,
grendel-grendelnya
adalah diorit yang paling keras,
tiang-tiang
penopangnya dicor dari emas,
ke dalam … nya dia
memindahkan sebuah bongkahan batu yang berat,
… dia memindahkan
sebuah bongkahan batu yang berat,
… dia membentangkan …
dari segala jenis,
[sehingga] ……… di
hari-hari masa depan,
……… [tak akan]
menemukan,
… barang siapa yang
mencari tak akan pernah menemukan penempatannya.
[Demikianlah bagi
penguasa belia itu, penguasa] Gilgamesh
ditegakkan di
tengah-tengah Uruk sebuah kamar yang aman.
Istri yang dia kasihi,
anak yang dia kasihi,
istri tua dan istri
muda yang dia kasihi,
penyanyi keliling,
pengurus istana dan …. yang dia kasihi,
tukang cukur yang dia
kasihi, […. yang dia kasihi,]
para pelayan dan abdi
[yang dia kasihi,]
barang-barang [yang
dia] kasihi ….,
dibaringkan di
tempat-tempat mereka, seakan-akan [menghadiri]
parade istana di
tengah-tengah Uruk.
Gilgamesh, putra dewi
Ninsun,
menyajikan
hadiah-hadiah pertemuan mereka untuk Ereshkigal,
menyajikan
persembahan-persembahan mereka untuk Namtar,
menyajikan
kejutan-kejutan mereka untuk Dimpikug,
menyajikan
hadiah-hadiah mereka untuk Bitti,
menyajikan hadiah-hadiah
mereka untuk Ningishzida dan Dumuzi,
untuk Enki dan Ninki,
Enmul dan Ninmul,
untuk Endukuga dan
Nindukuga,
untuk Endashurimma dan
Nindashurimma
untuk Enutila dan
Enmesharra,
para ibu dan ayah dari
Enlil,
untuk Shulpae, sang
penguasa meja perjamuan,
untuk Shakkan dan
Ninhursanga,
untuk dewa-dewa Anunna
dari Gundukan Suci,
untuk dewa-dewa Igigi
dari Gundukan Suci,
untuk [para pendeta
en] yang mati, [untuk] para pendeta lagar yang mati,
[untuk] para pendeta
lumah dan pendeta wanita nindingir [yang mati],
[untuk] para pendeta
guda [yang mati], para pendeta berbalut lenan dan …
Hadiah-hadiah
pertemuan yang dia sajikan ……,
… yang baik dia ……,
dia menyaji[kan]
persembahan-persembahan mereka untuk …
Dia membaringkan
dirinya di atas … yang dilapisi dengan …
Gilgamesh, putra dewi
Ninsun,
di mana dia
mencurahkan (persembahan) air.
… Mereka mengambil …
ke dalam (makam), mereka [menyegel]
ambang pintunya.
Mereka membuka sungai
Efrat,
airnya menyapu
melintasi,
[tempat
peristirahatan]nya disingkirkan oleh air (dari pandangan).
[Lalu bagi] penguasa
belia [itu,] penguasa Gilgamesh,
para pemuda kotanya
menggaruk wajah mereka,
para gadis kotanya
menjambak rambut mereka.
Para pria dan wanita
tua kotanya bergulingan dalam debu,
tidak menempatkan ……
mereka sendiri,
ketika kabar itu
disampaikan rakyatnya bergulingan dalam debu.
Lalu bagi [penguasa]
belia itu, penguasa Gilgamesh,
suasana hati putus
asa, hati pun terpukul.
Manusia, sebanyak yang
diberikan nama-nama,
patung-patung
(pemakaman)
mereka telah ditempa
sejak hari-hari kuno di masa lampau,
dan ditempatkan di
tempat-tempat suci di dalam kuil-kuil para dewa:
bagaimana nama mereka
dilafalkan tak akan pernah dilupakan!
Dewi Aruru, kakak
perempuan Enlil,
demi nama mereka
memberikan (kepada manusia) keturunan:
patung-patung mereka
telah ditempa sejak hari-hari kuno di masa lampau,
dan (nama mereka
tetap) dituturkan di negeri.
Oh Ereshkigal, ibu
Ninazu, sungguh manis puji-pujian bagimu!
Sebuah manuskrip lain memberikan kesimpulan
yang berbeda:
Gilgamesh, putra dewi
Ninsun,
sepanjang waktu yang
akan datang Nintu tak akan pernah melahirkan
seorang raja yang
menandinginya,
entah dengan melawan
dirinya maupun dengan melampaui dirinya!
Oh Gilgamesh, penguasa
Kullab, sungguh manis puji-pujian bagimu!
Komentar
Posting Komentar