Kelima puisi Sumeria tentang Gilgamesh, yang dulu disalin oleh para murid di sekolah juru tulis Babilonia abad ke-18, kini semakin banyak dipahami. Bahkan, dua di antaranya kini dapat diterjemahkan dengan jauh lebih lengkap. Dalam buku ini, puisi-puisi tersebut disajikan sebagai karya sastra yang bisa dinikmati sendiri, sekaligus untuk memudahkan perbandingannya dengan epos standar Babilonia maupun teks-teks berbahasa Akkadia lainnya.
Sama
seperti epos Babilonia, puisi-puisi Sumeria ini masih terus direkonstruksi dari
ratusan serpihan prasasti tanah liat yang tersebar di berbagai museum dunia.
Semakin banyak kepingan yang ditemukan, semakin terlihat perbedaan mencolok
antara versi Sumeria dan epos Babilonia. Hal ini juga memperlihatkan betapa
jeniusnya penyair Babilonia Lama dalam merangkai kisah-kisah tradisional
menjadi satu narasi yang utuh. Sang penyair Babilonia tampaknya sangat familier
dengan kisah Sumeria ini, baik lewat pendidikan sekolah maupun tradisi lisan
dan mengadaptasinya.
Sebagai
contoh, kisah Sumeria tentang Gilgamesh dan Huwawa diadaptasi menjadi narasi
kompleks "Ekspedisi Hutan Aras" (Tablet III–V). Kisah Banteng Surga
versi Sumeria juga dikembangkan menjadi episode Ishtar dan Banteng Surga
(Tablet VI). Penemuan terbaru bahkan menunjukkan bahwa adegan pemakaman Enkidu
(Tablet VIII) meminjam banyak unsur dari puisi Sumeria Kematian Gilgamesh. Selain itu, tema tentang Gilgamesh
yang mempelajari rahasia dari Pahlawan Air Bah, guna memulihkan tradisi kuno
yang hancur, menjadi pondasi penting bagi kedua versi tersebut.
Terkait
gaya bahasa, puisi Sumeria lebih banyak menggunakan kiasan dibandingkan bahasa
Akkadia. Hal ini membuat maknanya kadang sulit ditangkap dan kaidah puitisnya
lebih misterius (latar belakang sejarahnya sendiri sudah dibahas pada pengantar
buku ini). Oleh karena itu, terjemahan di sini berusaha sedekat mungkin dengan
teks asli, namun dengan sedikit penyesuaian susunan kata agar tetap nyaman
dibaca.
Terakhir,
beberapa puisi ini ditemukan dalam versi yang berbeda-beda panjangnya.
Terkadang, juru tulis zaman dulu sengaja memotong bagian yang diulang-ulang
karena prasasti tersebut hanya berfungsi sebagai catatan pengingat (aide-mémoire). Namun, terjemahan ini memilih kebijakan
untuk menyajikan versi yang paling utuh, meskipun harus menggabungkan beberapa
manuskrip agar sesuai dengan niat awal sang penyair. Jika terdapat baris
tambahan yang tidak masuk dalam sistem penomoran baris tradisional, baris
tersebut akan ditandai secara khusus dengan format menjorok ke dalam
(indentasi).
Gilgamesh dan Akka: ‘Utusan dari Akka’
Dikenal
lewat baris pembukanya, "Utusan dari Akka", puisi ini merupakan kisah
Sumeria tentang Gilgamesh yang paling pendek namun kondisinya paling utuh. Teks
ini dulunya adalah bacaan favorit di sekolah-sekolah Babilonia Lama. Uniknya,
puisi ini tidak memiliki versi adaptasi langsung dalam bahasa Akkadia. Meski
begitu, motif "musyawarah antara tetua dan pemuda" di dalamnya juga
bisa ditemukan dengan konteks berbeda pada Tablet II epos standar Babilonia.
Kisah
ini berfokus pada perebutan kekuasaan antara negara-kota Uruk dan Kish. Suatu
hari, Akka (Raja Kish) mengirim utusan untuk memaksa Uruk tunduk. Gilgamesh
menolak dan mengumpulkan majelis tetua untuk membujuk mereka agar maju
berperang. Saat berpidato, ia melontarkan sebuah baris puitis yang misterius
tentang "mengosongkan sumur-sumur dangkal dan dalam". Banyak yang
mengartikannya secara harfiah: jika menyerah, pria Uruk akan dijadikan kuli air
untuk Kish. Namun, kiasan ini juga bisa dimaknai sebagai gambaran penderitaan
dan kerja paksa tanpa akhir jika mereka kehilangan kemerdekaan. Sayangnya, para
tetua justru menyarankan Gilgamesh untuk menyerah.
Tidak
puas dengan jawaban itu, Gilgamesh membawa usulannya kepada para pemuda Uruk,
dan mereka sepakat untuk melawan. Mereka menyindir pilihan untuk menyerah
dengan sebuah pepatah: tunduk pada raja lain itu sama menyakitkan dan
berbahayanya dengan berdiri di belakang seekor keledai. Dengan penuh
keyakinan, mereka memuji kekuatan Gilgamesh dan meramalkan kejatuhan Kish.
Gilgamesh pun segera memerintahkan Enkidu, yang dalam versi ini diceritakan
sebagai pelayannya untuk bersiap tempur.
Tak
lama kemudian, Akka dan pasukannya tiba mengepung Uruk. Gilgamesh mencari
sukarelawan untuk menyusup dan mengacaukan rencana musuh. Penjaga pribadinya
yang gagah berani, Birhurturra, maju menerima tugas tersebut. Namun, baru saja
keluar dari kota, ia tertangkap, disiksa, dan diseret ke hadapan Akka. Saat
melihat seorang pengurus istana Uruk berdiri di atas tembok kota, Akka bertanya
kepada Birhurturra, "Apakah itu Gilgamesh?". Birhurturra menjawab
bukan, lalu dengan berani bersesumbar bahwa jika Gilgamesh yang muncul,
pertempuran akan pecah dan Akka pasti ditangkap. Karena kelancangannya ini, ia
kembali dipukuli.
Klimaks
terjadi ketika Gilgamesh sendiri akhirnya memanjat tembok kota. Wibawanya
memancarkan perlindungan, mengobarkan semangat para pemuda Uruk yang kemudian
menyerbu keluar dipimpin oleh Enkidu. Melihat sosok agung tersebut, Akka
kembali bertanya kepada Birhurturra apakah itu rajanya, dan kali ini
Birhurturra membenarkannya. Segala yang diramalkan sang penjaga pun menjadi
kenyataan: pertempuran meletus dan Akka berhasil ditawan. Di akhir cerita,
Gilgamesh menunjukkan sikap ksatria. Mengingat Akka pernah memberinya
perlindungan di masa lalu, Gilgamesh membalas budi tersebut dengan membebaskan
Akka kembali ke Kish tanpa luka.
Utusan
dari Akka, putra Enmebaragesi,
datang
dari Kish menemui Gilgamesh di Uruk.
Di
hadapan para tetua kotanya Gilgamesh
mengajukan
perkara itu, mencari sebuah penyelesaian:
‘“Untuk
mengosongkan sumur-sumur, untuk mengosongkan sumur-sumur di negeri,
untuk
mengosongkan sumur-sumur dangkal di negeri,
untuk
mengosongkan sumur-sumur dalam yang dilengkapi dengan tali kerek”:
janganlah
kita tunduk pada wangsa Kish, marilah kita maju berperang!’
Majelis
para tetua kotanya yang telah dihimpun
memberikan
jawaban kepada Gilgamesh:
‘“Untuk
mengosongkan sumur-sumur, untuk mengosongkan sumur-sumur di negeri,
untuk
mengosongkan sumur-sumur dangkal di negeri,
untuk
mengosongkan sumur-sumur dalam yang dilengkapi dengan tali kerek”:
marilah
kita tunduk pada wangsa Kish, janganlah kita maju berperang!’
Gilgamesh,
sang penguasa Kullab,
menaruh
kepercayaannya pada dewi Inanna,
tidak
mengindahkan apa yang dikatakan oleh para tetua kotanya.
Di
hadapan para pemuda kotanya Gilgamesh
mengajukan
perkara itu untuk kedua kalinya, mencari sebuah penyelesaian:
‘“Untuk
mengosongkan sumur-sumur, untuk mengosongkan sumur-sumur di negeri,
untuk
mengosongkan sumur-sumur dangkal di negeri,
untuk
mengosongkan sumur-sumur dalam yang dilengkapi dengan tali kerek”:
janganlah
kita tunduk pada wangsa Kish, marilah kita maju berperang!’
Majelis
para pemuda kotanya yang telah dihimpun memberikan
jawaban
kepada Gilgamesh:
‘Untuk
berdiri bertugas, untuk duduk melayani,
untuk
mengawal putra raja –
untuk
memegang bagian belakang seekor keledai –
seperti
kata orang, siapakah yang memiliki napas untuk hal itu?
Janganlah
kita tunduk pada wangsa Kish, marilah kita maju berperang!
Uruk,
bengkel kriya para dewa,
Eanna,
rumah yang turun dari langit –
dewa-dewa
yang agunglah yang memberikan wujud kepada mereka –
dinding
pertahanan mereka yang agung, gumpalan awan yang beristirahat di atas bumi,
kediaman
mereka yang menjulang tinggi, didirikan oleh dewa An:
mereka
diserahkan ke dalam pengawasanmu, engkaulah raja
dan
pejuang mereka!
Oh
penghancur kepala, pangeran yang dicintai oleh An,
ketika
dia tiba bagaimana mungkin dia akan menakuti kita?
Pasukan
itu kecil dan hanyalah gerombolan pengacau di barisan belakang,
pasukannya
tidak akan mampu bertahan menghadapi kita!’
Lalu
Gilgamesh, sang penguasa Kullab,
hatinya
bersukacita mendengar apa yang dikatakan oleh para pemuda kotanya,
suasana
hatinya berubah cerah,
dia
berbicara kepada pelayannya, Enkidu:
‘Kini
persiapkan perlengkapan dan persenjataan perang,
biarkan
senjata-senjata pertempuran kembali ke genggamanmu!
Biarkan
mereka menciptakan teror dan aura yang menakutkan,
sehingga
ketika dia tiba ketakutan akan diriku menyapunya,
sehingga
akal sehatnya menjadi kacau balau dan pertimbangannya
hancur
lebur!’
Belum
genap lima hari, belum genap sepuluh hari,
putra
Enmebaragesi, Akka, mengepung Uruk,
dan
akal sehat Uruk pun menjadi kacau balau.
Gilgamesh,
sang penguasa Kullab,
berseru
kepada para pejuang kota itu:
‘Oh
para pejuangku, aku telah memilih kalian semua,
biarlah
seseorang yang memiliki keberanian mengajukan diri, “Aku akan pergi menemui
Akka!”’
Birhurturra,
penjaga pribadi kerajaannya,
menghaturkan
sembah kepada rajanya:
‘Tuanku,
aku akan pergi menemui Akka,
sehingga
akal sehatnya menjadi kacau balau
dan
pertimbangannya hancur lebur!’
Birhurturra
melangkah maju dari gerbang kota.
Saat
Birhurturra melewati gerbang kota,
di
gerbang kota dia ditawan.
Mereka
menghajar Birhurturra dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Dia
tiba di hadapan Akka,
dia
berbicara kepada Akka.
Dia
belum selesai berbicara ketika Pengurus Istana Uruk
memanjat
ke atas tembok,
dan
mengangkat kepalanya di atas dinding pertahanan.
Akka
melihatnya,
dan
bertanya kepada Birhurturra:
‘Budak,
apakah pria itu rajamu?’
‘Pria
itu bukanlah rajaku!
Seandainya
pria itu rajaku,
seandainya
itu keningnya yang menakutkan,
seandainya
itu matanya yang serupa banteng liar,
seandainya
itu janggutnya yang serupa lapis lazuli,
seandainya
itu jari-jemarinya yang lentik,
tidakkah
selaksa orang akan gugur,
tidakkah
selaksa orang akan bangkit,
tidakkah
selaksa orang karenanya akan bergulingan dalam debu,
tidakkah
seluruh bangsa karenanya akan tersapu hancur,
tidakkah
mulut-mulut negeri ini karenanya akan
dipenuhi
dengan debu,
tidakkah
dia akan memotong tanduk perahu-perahu,
tidakkah
dia akan menjadikan Akka, raja Kish,
seorang
tawanan di tengah-tengah pasukannya?’
Mereka
memukulnya dan mereka menghajarnya,
menggebuki
Birhurturra dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Setelah
Pengurus Istana Uruk,
Gilgamesh
memanjat ke atas tembok,
auranya
yang menakutkan
menyelimuti
kaum tua dan muda dari Kullab,
dan
[meletakkan] senjata-senjata pertempuran
ke
dalam tangan para pemuda Uruk.
Di
ambang pintu gerbang kota mereka berdiri di jalanan,
Enkidu
melangkah maju dari gerbang kota.
Gilgamesh
mengangkat kepalanya di atas dinding pertahanan.
Menengadah,
Akka melihatnya:
‘Budak,
apakah pria itu rajamu?’
‘Pria
itu sesungguhnya adalah rajaku!’
Dan
sungguh terjadi seperti yang telah dikatakannya,
selaksa
orang pun gugur, selaksa orang pun bangkit,
selaksa
orang pun karenanya bergulingan dalam debu,
seluruh
bangsa pun karenanya tersapu hancur,
mulut-mulut
negeri ini pun karenanya dipenuhi dengan debu,
dia
memotong tanduk perahu itu,
di
tengah-tengah pasukannya dia menawan Akka,
raja
Kish.
Gilgamesh,
sang penguasa Kullab,
menyapa
Akka:
‘Oh
Akka, letnanku, Akka, kaptenku, Oh Akka,
komandanku,
Akka, jenderalku,
Oh
Akka, panglima lapanganku!
Oh
Akka, engkau yang memberi napas, Akka, engkau yang memberi kehidupan,
Oh
Akka, yang memeluk ke dadamu seorang pelarian,
Oh
Akka, seekor burung yang melarikan diri engkau puaskan dengan biji-bijian!’
Akka:
‘Uruk,
bengkel kriya para Dewa,
dinding
pertahanannya yang agung, gumpalan awan yang beristirahat di atas bumi,
kediamannya
yang menjulang tinggi, didirikan oleh dewa An,
diserahkan
ke dalam pengawasanmu: [balaslah] budi baikku!’
Gilgamesh:
‘Di
hadapan sang Dewa Matahari aku dengan ini membalas budi baikmu
di
masa silam!’
Dia
melepaskan Akka pergi bebas menuju Kish.
Oh
Gilgamesh, penguasa Kullab,
sungguh
manis puji-pujian bagimu!
Komentar
Posting Komentar