[Enkidu] sedang duduk di hadapannya, …
Kekosongan
(lacuna) mengikuti baris pembuka dari Tablet II, dan ketika teks dilanjutkan
kembali, baris-baris tersebut masih belum sepenuhnya pulih. Tablet besar
Babilonia Lama Pennsylvania (P) mengisi celah tersebut, meskipun baris-baris
yang tumpang tindih sedikit berbeda:
Saat
Gilgamesh menceritakan mimpi itu,
Enkidu
sedang duduk di hadapan sang pelacur.
Mereka
berdua bersama-sama mulai memadu kasih,
dia
melupakan alam liar tempat dia dilahirkan.
Selama
tujuh hari dan tujuh malam
Enkidu
berdiri tegak dan bersetubuh dengan *Shamhat.
Sang
pelacur membuka mulutnya,
berkata
kepada Enkidu:
‘Saat
aku menatapmu, Enkidu, engkau sungguh seperti dewa,
mengapa
bersama binatang-binatang engkau mengembara di alam liar?
‘Mari,
aku akan menuntunmu ke Uruk sang Kota,
menuju
kuil sakral, kediaman Anu!
Enkidu,
bangkitlah, biarkan aku membawamu
menuju
kuil Eanna, kediaman Anu,
‘di
mana [para pria] sibuk dalam pekerjaan yang membutuhkan keahlian,
engkau,
juga, layaknya seorang pria, akan menemukan tempat bagi dirimu.
Engkau
diusir dari daerah-daerah yang tak memiliki gembala.’
Kata-katanya
dia dengar, ucapannya berkenan di hatinya:
nasihat
seorang wanita tepat mengenai sasarannya di dalam hatinya.
Dia
melucuti pakaiannya dan memakaikan sebagian dari pakaiannya kepadanya,
sebagian
lainnya dia kenakan sendiri.
Teks
dari Tablet II dilanjutkan kembali:
Dia
menuntunnya dengan menggandeng tangannya, bagai seorang dewa [dia
membimbingnya,]
ke
perkemahan gembala, tempat kandang domba berada.
Kawan
gembala berkumpul mengelilinginya,
memperbincangkan
tentang dia di antara mereka sendiri:
‘Orang
ini – perawakannya begitu mirip dengan Gilgamesh,
tinggi
badannya, angkuh bak puncak dinding pertahanan yang bergerigi,
Pastilah
itu Enkidu, yang lahir di dataran tinggi,
kekuatannya
sungguh dahsyat bagai batu dari langit.’
Roti
mereka hidangkan di hadapannya,
bir
mereka sajikan di hadapannya.
Enkidu
tak memakan roti itu, melainkan menatap dengan curiga.
Di
sini Tablet II kembali terpecah, dan kisah paling utuh diambil dari tablet Babilonia
Lama Pennsylvania:
Bagaimana
cara memakan roti, Enkidu tak tahu,
bagaimana
cara meminum bir, dia tak pernah diajari.
Sang
pelacur membuka mulutnya,
berkata
kepada Enkidu:
‘Makanlah
roti itu, Enkidu, penopang kehidupan,
minumlah
bir itu, anugerah negeri!’
Enkidu
memakan roti itu hingga dia merasa kenyang,
dia
meminum bir itu, genap tujuh kendi.
Suasana
hatinya menjadi bebas, dia mulai bernyanyi,
hatinya
tumbuh riang, raut wajahnya berbinar.
Tukang
pangkas merapikan tubuhnya yang begitu berbulu,
diurapi
dengan minyak dia berubah menjadi seorang manusia.
Dia
mengenakan pakaian, menjadi bak seorang prajurit,
dia
mengambil senjatanya untuk bertarung dengan singa-singa.
Teks
dari Tablet II dilanjutkan kembali:
[Saat
di malam hari para gembala berbaring tertidur,]
[dia
menumbangkan] serigala-serigala, dia [mengusir singa-singa.]
Tertidur
lelap para gembala senior,
gembala
muda mereka, Enkidu, seorang [pria yang benar-benar] terjaga.
[Seorang]
pria [telah diundang] ke sebuah pernikahan,
[menuju]
Uruk sang Kandang Domba [dia pergi]
untuk
[pesta perjamuan itu.]
Di
sini kekosongan lain muncul di Tablet II, yang mana tablet Babilonia Lama
Pennsylvania kembali membantu mengisinya:
Enkidu
sedang menikmati waktunya bersama *Shamhat.
Dia
mengangkat pandangannya, melihat pria itu,
dan
begitulah dia berbicara kepada sang pelacur:
‘*Shamhat,
bawa pria itu kemari:
mengapa
dia datang ke mari, biarkan aku mencari tahu alasannya.’
Sang
pelacur memanggil pria itu,
mendekatinya,
berbicara kepadanya:
‘Ke
mana engkau bergegas, kawan?
Apa
perjalananmu yang begitu melelahkan ini?’
Pria
itu membuka mulutnya,
berkata
kepada Enkidu:
‘Aku
diundang ke sebuah pesta pernikahan,
sudah
menjadi takdir umat manusia untuk mengikat sebuah pernikahan.
Aku
akan mengisi meja perayaan
dengan
hidangan-hidangan menggugah selera untuk pesta perayaan itu.
‘Bagi
raja Uruk sang Kota,
kerudung
itu akan disingkapkan untuk siapa yang memilih pertama;
bagi
Gilgamesh, raja Uruk sang Kota,
kerudung
itu akan disingkapkan untuk siapa yang memilih pertama.
‘Dia
akan bersetubuh dengan calon istri itu,
dia
yang pertama, lalu mempelai pria menyusul setelahnya.
Atas
perkenan ilahi begitulah dititahkan:
ketika
tali pusarnya dipotong, bagi dialah wanita itu ditakdirkan.’
Mendengar
kata-kata pria itu, wajahnya memucat didera amarah.
Dia
berjalan [di depan,] dengan *Shamhat mengikuti di belakangnya.
Dia
berjalan lurus masuk ke Uruk sang Kota,
dan
sebuah kerumunan berkumpul mengelilinginya.
Dia
berhenti melangkah di sebuah jalan di Uruk sang Kota,
semua
berkumpul, orang-orang memperbincangkannya:
‘Perawakannya,
dia adalah cerminan dari Gilgamesh,
namun
sedikit lebih pendek, dan bertulang lebih besar.
[Pastilah
dia yang] lahir di dataran tinggi,
susu
binatang yang dia isap sewaktu disusui.’
Di
Uruk mereka rutin menggelar festival persembahan,
para
pemuda bersuka cita, menetapkan seorang pemenang:
bagi
pria yang memiliki raut wajah elok,
bagi
Gilgamesh, yang bak dewa, ditetapkanlah seorang tandingan.
Bagi
dewi pernikahan ranjang itu disiapkan,
Gilgamesh
bertemu dengan gadis itu di malam hari.
(Enkidu)
melangkah maju, dia berdiri di tengah jalan,
menghalangi
jalannya Gilgamesh.
Teks
Tablet II dapat terbaca kembali:
Tanah
Uruk berdiri [mengelilinginya,]
tanah
berkumpul [di sekitarnya.]
Sebuah
kerumunan berkerumun di hadapan[nya,]
para
pria berdesakan [mengelilinginya.]
Bagai
bayi di dalam pelukan mereka [menciumi kakinya,]
bahkan
pria itu ……
Bagi
dewi pernikahan ranjang telah siap,
bagi
Gilgamesh, yang bak dewa, telah disiapkan seorang pengganti.
Enkidu
dengan kakinya menghalangi pintu rumah pernikahan,
tidak
mengizinkan Gilgamesh masuk.
Mereka
saling mencengkeram di ambang pintu rumah pernikahan,
di
tengah jalan mereka bergabung dalam sebuah pertarungan, di Alun-Alun Negeri.
Kusen
pintu berguncang, dinding pun bergetar,
[di
tengah jalan Gilgamesh dan Enkidu bergabung dalam sebuah pertarungan, di
Alun-Alun
Negeri.]
[Kusen
pintu berguncang, dinding pun bergetar.]
Kekosongan
lain muncul, yang kembali terisi sebagian oleh tablet Babilonia Lama
Pennsylvania:
Gilgamesh
berlutut, satu kakinya menjejak tanah,
amarahnya
mereda, dia menghentikan pertarungan.
Setelah
dia menghentikan pertarungan,
berkatalah
Enkidu kepadanya, kepada Gilgamesh:
‘Sebagai
yang tunggal ibumu melahirkanmu,
sapi
liar dari kawanan, dewi Ninsun!
Tinggi
di atas para prajurit engkau diagungkan,
untuk
menjadi raja atas umat manusia, Enlil menjadikan itu takdirmu!’
Pada
titik ini tablet Babilonia Lama Pennsylvania berakhir. Setelah kekosongan
(lacuna) lainnya Tablet II dilanjutkan kembali dengan sebuah episode di mana
Gilgamesh memperkenalkan Enkidu kepada ibunya:
‘Yang
paling perkasa [di negeri ini, kekuatan yang dimilikinya.]
[Kekuatannya
sungguh dahsyat bagai] batu dari langit,
dia
tinggi [perawakannya, angkuh bak dinding pertahanan.]’
Ibu
Gilgamesh [membuka mulutnya untuk bicara,]
berkata
kepada [putranya –]
Sapi
Liar Ninsun [membuka mulutnya untuk bicara,]
[berkata
kepada Gilgamesh:]
‘Dengan
getir dia ……,
Enkidu
tak memiliki [sanak saudara.]
Rambut
lebat terurai bebas ……
dia
dilahirkan di alam liar dan tak [memiliki] [saudara laki-laki.]’
Berdiri
di sana, Enkidu mendengar [apa yang dia katakan,]
dan
merenungkannya, dia duduk [menangis.]
Kedua
matanya berlinangan [air mata,]
kedua
lengannya terkulai lemas, [kekuatan]nya [menyurut.]
Mereka
saling berpegangan dan ……,
mereka
[menautkan] tangan mereka bagai ……
Gilgamesh
….…..,
kepada
Enkidu dia mengucapkan sepatah kata, [berkata:]
‘Mengapa,
kawanku, [matamu] berlinangan [air mata,]
lenganmu
terkulai lemas, [kekuatanmu menyurut?]’
Berkatalah
Enkidu kepadanya, [kepada Gilgamesh:]
‘Kawanku,
hatiku bersedih …
‘Oleh
isak tangis [kedua kakiku] gemetar,
kengerian
telah merasuk ke dalam hatiku.’
Tablet
Babilonia Lama Yale (Y) mengisi celah lain dalam versi standar:
Gilgamesh
membuka mulutnya,
berkata
kepada Enkidu:
‘……
*Humbaba yang buas,
…
[mari kita] bunuh dia, [agar kekuasaannya] sirna!
‘Di
Hutan Aras, [tempat *Humbaba] berdiam,
[mari
kita] kejutkan dia di sarangnya!’
Enkidu
membuka mulutnya,
berkata
kepada Gilgamesh:
‘Aku
mengenalnya, kawanku, di dataran tinggi,
saat
aku mengembara ke sana kemari bersama kawanan.
Sepanjang
enam puluh liga hutan itu adalah keliaran belantara,
siapakah
gerangan yang berani bertualang ke dalamnya?
‘*Humbaba,
suaranya adalah Prahara Air Bah,
ucapannya
adalah api, dan napasnya adalah maut!
Mengapa
engkau berhasrat melakukan hal ini?
Pertarungan
yang tak mungkin dimenangkan adalah sergapan *Humbaba!’
Gilgamesh
membuka mulutnya,
berkata
kepada Enkidu:
‘Aku
akan mendaki, kawanku, lereng-lereng [hutan itu].’
Teks
dari Tablet II dilanjutkan kembali:
Enkidu
[membuka] mulut[nya untuk bicara, berkata kepada Gilgamesh:]
‘[Kawanku],
bagaimana kita bisa [pergi ke Hutan Aras?]
Agar
pohon-pohon aras itu tetap aman,
Enlil
menjadikannya takdirnya untuk menebar teror bagi umat manusia.
‘Itu
adalah perjalanan [yang tak boleh ditempuh,]
[dia
adalah sosok yang tak boleh ditatap.]
Dia
yang menjaga [Hutan Aras, jangkauannya begitu luas,]
Humbaba,
suaranya adalah Prahara Air Bah.
‘Ucapannya
adalah api, napasnya adalah maut,
dia
mendengar gumam hutan dari jarak enam puluh liga.
Siapakah
gerangan yang berani bertualang ke dalam hutannya?
Adad
berada di urutan pertama, dan Humbaba di urutan kedua.
‘Siapakah
gerangan di antara para Igigi yang berani menentangnya?
Agar
pohon-pohon aras itu tetap aman,
Enlil
menjadikannya takdirnya untuk menebar teror bagi umat manusia;
jika
engkau menerobos hutannya engkau akan dicengkeram oleh gemetar ketakutan.’
Gilgamesh
membuka mulutnya untuk bicara,
berkata
[kepada Enkidu:]
‘Mengapa,
kawanku, engkau bicara bak seorang pengecut?
Dengan
ucapanmu yang lemah itu engkau [menggusarkan] hatiku.
‘Adapun
manusia, [hari-harinya] dapat dihitung,
apa
pun yang mungkin dilakukannya, hanyalah angin belaka,
…
tak ada bagiku ……
‘Engkau
dilahirkan dan dibesarkan [di alam liar:]
bahkan
singa-singa pun takut padamu, [engkau telah mengalami] segalanya.
Pria
dewasa lari menjauh [dari hadapanmu,]
hatimu
telah teruji dan [terbukti dalam] pertarungan.
‘Mari,
kawanku, [bergegaslah kita] ke tempat penempaan!’
Sebuah
kekosongan singkat mengikuti. Bagian ini dapat diisi dari tablet Babilonia Lama
Yale:
‘[Biarlah]
mereka menempa [kapak-kapak untuk kita] di hadapan kita!’
Mereka
berpegangan tangan dan bergegas ke tempat penempaan,
di
mana para pandai besi sedang duduk berunding.
Kapak-kapak
besar mereka tempa,
dan
kapak-kapak yang beratnya tiga talenta masing-masing.
Belati-belati
besar mereka tempa:
dua
talenta masing-masing untuk bilahnya,
setengah
talenta untuk pangkal gagangnya,
setengah
talenta masing-masing untuk lapisan emas belati itu.
Gilgamesh
dan Enkidu menanggung sepuluh talenta masing-masing.
Dia
mengunci tujuh gerbang berlapis di Uruk,
dia
menghimpun [majelis,] kerumunan berkumpul
mengelilingi.
…
di jalan di Uruk sang Kota,
Gilgamesh
[mendudukkan dirinya di atas] takhtanya.
[Di
jalan di Uruk] sang Kota,
[kerumunan
itu] duduk di hadapannya.
[Demikianlah
Gilgamesh] berbicara
[kepada
para tetua Uruk] sang Kota:
‘[Dengarkanlah
aku, Oh para tetua Uruk] sang Kota!
[Aku
hendak menapaki jalan menuju *Humbaba yang buas,]
Aku
hendak melihat sang dewa yang diperbincangkan umat manusia,
yang
namanya terus menerus diulang-ulang oleh negeri-negeri.
‘Aku
akan menaklukkannya di Hutan Aras:
biarlah
negeri ini tahu bahwa tunas Uruk sungguh perkasa!
Biarkan
aku berangkat, aku akan menebang pohon aras itu,
aku
akan menegakkan selamanya sebuah nama yang abadi!’
Teks
dari Tablet II dilanjutkan kembali:
[Lalu
Gilgamesh berbicara]
[kepada
para pemuda Uruk sang Kandang Domba:]
‘Dengarkanlah
aku, Oh para pemuda [Uruk sang Kandang Domba,]
Oh
para pemuda Uruk, yang mengerti [pertarungan!]
Dengan
keberanianku aku akan menapaki jalan yang jauh [menuju kediaman
Humbaba,]
Aku
akan menghadapi pertarungan yang tidak aku ketahui.
‘[Aku
akan menyusuri] jalan [yang tidak aku ketahui:]
berikanlah
aku restumu saat aku memulai perjalananku,
[agar
aku bisa melihat kembali] wajah-wajah kalian [dengan selamat,]
dan
kembali [dengan hati bersukacita] melalui gerbang Uruk!
‘Sekembalinya
aku [aku akan merayakan] Tahun Baru [dua kali lipat,]
aku
akan merayakan perayaan itu dua kali dalam setahun.
Lalu
perayaan akan berlangsung, kegembiraan akan dimulai,
dan
genderang akan bergema di hadapan [Sapi Liar] Ninsun!’
Enkidu
[memberikan] nasihat kepada para tetua,
dan
para pemuda Uruk, yang mengerti pertarungan:
‘Katakan
padanya untuk tidak pergi ke Hutan Aras!
Itu
adalah perjalanan yang tak boleh ditempuh,
dia
adalah sosok [yang tak boleh] ditatap.
Dia
yang menjaga Hutan Aras, [jangkauan]nya begitu luas.
‘Humbaba
ini, [suaranya adalah Prahara Air Bah,]
[ucapannya
adalah api,] napasnya adalah maut!
[Dia
mendengar] gumam hutan [dari jarak enam puluh liga:]
[siapakah
gerangan yang berani bertualang] ke dalam hutannya?
‘[Adad
berada di urutan pertama, dan Humbaba] di urutan kedua:
[siapakah
gerangan yang berani menentangnya] di antara para Igigi?
[Agar
pohon-pohon aras itu tetap aman,]
Enlil
menjadikannya takdirnya untuk menebar teror bagi umat manusia;
jika
engkau menerobos hutannya engkau akan dicengkeram oleh gemetar ketakutan.’
Para
penasihat senior bangkit,
nasihat
yang baik mereka tawarkan kepada Gilgamesh:
‘Engkau
masih muda, Gilgamesh, terbawa oleh gejolak rasa,
segala
yang engkau bicarakan tidaklah engkau pahami.
‘Humbaba
ini, suaranya adalah Prahara Air Bah,
ucapannya
adalah api, napasnya adalah maut!
Dia
mendengar gumam hutan dari jarak enam puluh liga:
siapakah
gerangan yang berani bertualang ke dalam hutannya?
‘Adad
berada di urutan pertama, dan Humbaba di urutan kedua:
siapakah
gerangan yang berani menentangnya di antara para Igigi?
Agar
pohon-pohon aras itu tetap aman,
Enlil
menjadikannya takdirnya untuk menebar teror bagi umat manusia.’
Gilgamesh
mendengar kata-kata para penasihat senior itu,
dia
memandang dengan [tawa kepada sahabatnya] Enkidu:
[‘Kini,
sahabatku, betapa takutnya diriku!]
[Dalam
ketakutan akan dia haruskah aku mengubah niatku?’]
Sisa
dari Tablet II, mungkin dua puluh baris yang berisi kelanjutan dari balasan
Gilgamesh kepada para penasihatnya, telah hilang.
Catatan:
...kapak-kapak
seberat dua talenta masing-masing adalah kapak mereka...
(Talenta
(dalam bahasa Akkadia disebut biltu) merujuk pada standar ukuran berat
kuno. 1 talenta diperkirakan setara dengan 30 kg. Kapak seberat 3 talenta (±90
kg) adalah bentuk hiperbola sastra untuk menekankan kekuatan para pahlawan epik
ini.)
Komentar
Posting Komentar