Untuk sahabatnya Enkidu Gilgamesh
menangis dengan getir
sembari mengembara di alam liar:
‘Aku akan mati, dan
tidakkah aku akan menjadi seperti Enkidu?
Kesedihan telah
merasuk ke dalam hatiku!
‘Aku takut akan
kematian, maka aku mengembara di alam liar,
untuk menemukan
Uta-napishti, putra Ubar-Tutu.
Di jalan, melangkah
dengan cepat,
aku tiba di suatu
malam di sebuah celah gunung.
‘Aku melihat beberapa
ekor singa dan menjadi ketakutan,
aku menengadahkan
kepalaku ke arah bulan dalam doa,
kepada [Ishtar,]
pelita para dewa, membubunglah permohonanku:
“[Oh SĂ®n dan Ishtar,]
jagalah keselamatanku!”’
[Malam itu dia]
berbaring, lalu terbangun dari sebuah mimpi:
… di hadapan bulan dia
bersukacita akan kehidupan,
dia mengangkat
kapaknya di tangannya,
dia menghunus [pedang
dari] sabuknya.
Bagai anak panah di
antara mereka dia menerjang,
dia menghantam
[singa-singa itu, dia] membunuh mereka dan mencerai-beraikan mereka.
Kekosongan (lacuna) yang menyela di sini
sebagian dapat diisi dengan teks dari tablet Babilonia Lama yang dilaporkan
berasal dari Sippar:
[Dia] membalut dirinya
dalam kulit mereka, dia memakan daging mereka.
Gilgamesh [menggali]
sumur-sumur yang belum pernah ada sebelumnya,
[dia] meminum airnya,
seraya dia mengejar angin.
Shamash menjadi cemas,
dan seraya membungkuk turun,
dia berbicara kepada
Gilgamesh:
‘Oh Gilgamesh, ke
manakah engkau mengembara?
Kehidupan yang kau
cari tak akan pernah kau temukan.’
Berkatalah Gilgamesh
kepadanya, kepada sang pahlawan Shamash:
‘Setelah menjelajah,
mengembara melintasi alam liar,
ketika aku memasuki
Dunia Bawah akankah istirahat menjadi langka?
Aku akan berbaring di
sana tertidur di sepanjang tahun-tahun!
‘Biarkan mataku
menatap matahari dan dipuaskan dengan cahaya!
Kegelapan itu
tersembunyi, seberapa banyak cahaya yang tersisa?
Kapankah orang mati
dapat melihat sinar matahari?’
Teks dari Tablet IX dilanjutkan kembali:
Ke pegunungan kembar
Mashu dia tiba,
yang setiap hari
menjaga [matahari] yang terbit,
yang puncak-puncaknya
[menopang] bentangan langit,
yang dasarnya
menghunjam jauh ke Dunia Bawah.
Ada manusia
kalajengking yang menjaga gerbangnya,
yang terornya menebar
kengerian, yang tatapannya adalah maut,
yang pendar cahayanya
menggetarkan jiwa, meliputi pegunungan –
di saat matahari
terbit dan terbenam mereka menjaga matahari.
Gilgamesh melihat
mereka, dalam ketakutan dan kengerian dia menutupi wajahnya,
lalu memusatkan
akalnya, dan melangkah mendekati hadapan mereka.
Manusia kalajengking
itu berseru kepada pasangannya:
‘Dia yang telah datang
kepada kita, daging para dewa adalah tubuhnya.’
Pasangan manusia
kalajengking itu menjawabnya:
‘Dua pertiga dirinya
adalah dewa, namun sepertiga manusia.’
Manusia kalajengking
itu berseru lantang,
mengucapkan sepatah
kata [kepada Raja Gilgamesh,] daging para dewa:
‘[Bagaimana engkau
datang kemari,] jalan yang begitu jauh?
[Bagaimana engkau bisa
sampai di sini,] berada di hadapanku?
[Bagaimana engkau
mengarungi sungai-sungai,] yang arusnya sungguh berbahaya?
.….. biarkan aku
mengetahui tentang [perjalananmu!]
‘…… ke mana [wajah]mu
diarahkan,
.….. biarkan aku
mengetahui [tentang perjalananmu!]’
Ketika teks dilanjutkan kembali setelah sebuah
kekosongan, Gilgamesh sedang
menjelaskan pencariannya:
‘[Aku sedang mencari]
jalan [menuju] leluhurku, Uta-napishti,
yang berdiri bersama
para dewa di dalam majelis, dan [menemukan kehidupan abadi:]
tentang kematian dan
kehidupan [dia akan menceritakan kepadaku rahasianya.]’
Manusia kalajengking
itu membuka mulutnya [untuk bicara,]
berkata kepada
[Gilgamesh:]
‘Belum pernah
[sebelumnya], Oh Gilgamesh, ada [seseorang sepertimu,]
belum pernah ada
seorang pun yang [menempuh jalan] dari pegunungan itu.
‘Sepanjang dua belas
jam-ganda bagian dalamnya [membentang,]
kegelapannya begitu
pekat, dan [cahaya] tak ada satupun.
Bagi terbitnya
matahari ….…..,
bagi terbenamnya
matahari ….…..
‘Bagi terbenamnya
….…..,
mereka mengutus ….…..
Dan engkau, bagaimana
engkau akan ……?
Akankah engkau masuk
ke dalam ….…..?’
Setelah kekosongan yang panjang, teks
dilanjutkan kembali dengan bagian akhir
balasan Gilgamesh:
‘Melalui kesedihan
….…..
oleh embun beku dan
sinar mentari [wajahku terbakar.]
Melalui kelelahan
….…..
kini engkau ….…..’
Manusia kalajengking
[membuka mulutnya untuk bicara,]
[mengucapkan sepatah
kata] kepada Raja Gilgamesh, [daging para dewa:]
‘Pergilah, Gilgamesh!
….…..
Semoga pegunungan
Mashu [mengizinkanmu lewat!]
‘[Semoga] pegunungan
dan bukit-bukit [menjaga kepergianmu!]
Biarlah [mereka
membantumu] dalam keselamatan [untuk melanjutkan perjalananmu!]
[Semoga] gerbang
pegunungan [terbuka di hadapanmu!]’
Gilgamesh [mendengar
kata-kata ini,]
apa yang [manusia
kalajengking itu] katakan kepadanya [dia simpan di dalam hati,]
dia [menempuh] jalan
sang Dewa Matahari ……
Pada jam-ganda pertama
….…..,
kegelapannya begitu
pekat, [dan tak ada cahaya satu pun:]
itu tidak
[membiarkannya melihat ke belakangnya.]
Pada jam-ganda kedua
….…..,
kegelapannya begitu
pekat, [dan tak ada cahaya satu pun:]
itu tidak
[membiarkannya melihat ke belakangnya.]
Pada jam-ganda ketiga
….…..,
[kegelapannya begitu
pekat, dan tak ada cahaya satu pun:]
[itu tidak
membiarkannya melihat ke belakangnya.]
Pada jam-ganda keempat
….…..,
[kegelapannya] begitu
pekat, [dan tak ada cahaya satu pun:]
itu tidak
[membiarkannya melihat ke belakangnya.]
Pada jam-ganda kelima
….…..,
kegelapannya begitu
pekat, [dan tak ada cahaya satu pun:]
itu tidak
membiarkan[nya melihat ke belakangnya.]
Saat [mencapai]
jam-ganda keenam,
kegelapannya begitu
pekat, [dan tak ada cahaya satu pun:]
itu tidak
membiarkan[nya melihat ke belakangnya.]
Saat mencapai
jam-ganda ketujuh …,
kegelapannya begitu
pekat, dan [tak ada cahaya] satu pun:
itu tidak
membiarkannya melihat ke belakang[nya.]
Pada jam-ganda
kedelapan dia mulai bergegas …,
kegelapannya begitu
pekat, dan cahaya [tak ada satu pun:]
itu tidak
[membiarkannya] melihat ke belakangnya.
Pada jam-ganda
kesembilan …… angin utara,
.….…. wajahnya.
[Kegelapannya begitu
pekat, dan] cahaya [tak ada satu pun:]
[itu tidak
membiarkannya] melihat ke belakangnya.
[Saat] mencapai
[jam-ganda kesepuluh,]
.….…. sudah sangat
dekat.
[Saat mencapai
jam-ganda kesebelas tersisalah perjalanan] sejauh satu jam-ganda,
[pada jam-ganda kedua belas
Gilgamesh] muncul mendahului sang Matahari.
.….. terdapatlah
pendar cahaya:
dia berjalan lurus,
seketika dia melihatnya, menuju … pepohonan para dewa.
Sebatang pohon
karnelian tengah berbuah,
tergantung padanya
untaian buah anggur, sungguh elok dipandang.
Sebatang pohon lapis
lazuli berdaun rimbun,
sarat akan buah dan
menawan untuk ditatap.
… sanobar ……
… aras ……,
tangkai-tangkai
daunnya terbuat dari batu-pappardilĂ» dan …
Karang laut …… batu
permata,
sebagai ganti duri dan
semak berduri [tumbuhlah] buli-buli kristal.
Dia menyentuh sebatang
pohon karob, [itu adalah] batu-abashmu,
batu akik dan hematit
……
Saat Gilgamesh
berjalan ke sana kemari [dalam ketakjuban,]
dia mengangkat
[kepalanya untuk] memperhatikannya.
Komentar
Posting Komentar