Langsung ke konten utama

Tablet V. Pertarungan dengan Humbaba

 Mereka berdiri di sana mengagumi hutan itu,

menatap pohon-pohon aras yang menjulang tinggi,

menatap pintu masuk hutan itu –

di mana Humbaba datang dan pergi terdapat sebuah jalur.

Jalan-jalannya lurus dan setapaknya telah banyak dilalui.

Mereka melihat Gunung Aras, singgasana para dewa dan takhta para dewi.

[Di] permukaan tanah pohon aras menyuguhkan kelimpahannya,

naungannya terasa manis dan penuh dengan kenikmatan.

[Lebat] berselimut duri, hutan itu bagai kanopi yang menyelimuti,

pohon-pohon aras dan pohon-pohon karet, [semuanya saling melilit,] tidak menyisakan jalan masuk.

Sejauh satu liga di semua sisi pohon-pohon aras [menjulurkan] anakan,

pohon-pohon sanobar [tumbuh lebat] sejauh dua pertiga liga.

Pohon-pohon aras berkeropeng resin tumbuh setinggi enam puluh hasta,

resinnya [merembes] keluar, menetes turun bak hujan,

[mengalir deras] untuk dibawa pergi oleh ngarai-ngarai.

[Di seluruh] penjuru hutan seekor burung mulai berkicau,

[burung-burung betina] menyahut, keributan yang tak henti-henti adalah bunyinya.

[Seekor] jangkrik pohon [yang menyendiri] memulai paduan suara yang bising,

… menyanyikan sebuah lagu, membuat … melengking keras.

Seekor merpati hutan merintih, seekor tekukur berseru menyahut.

[Mendengar seruan] bangau, hutan itu bersorak-sorai,

[mendengar kokok] ayam hutan, hutan itu bersorak-sorai di tengah kelimpahan.

[Induk-induk monyet] bernyanyi lantang, seekor monyet muda menjerit:

[bagai sekawanan] pemusik dan penabuh genderang,

setiap hari mereka menabuh irama di hadapan Humbaba.

Saat pohon aras [menjatuhkan] bayangannya,

[kengerian] menyergap Gilgamesh.

[Kekakuan mencengkeram] lengannya,

dan gemetar melanda kakinya.

[Enkidu] membuka mulutnya untuk bicara,

berkata kepada Gilgamesh:

‘[Mari kita masuk dalam-dalam] ke tengah hutan,

[mari kita] bergerak dan angkatlah sorak yang nyaring!’

[Gilgamesh] membuka mulutnya untuk bicara,

berkata kepada Enkidu:

‘[Mengapa,] kawanku, kita gemetar bagai pengecut,

[kita yang] telah melintasi semua gunung?

‘[Akankah] ….….. di hadapan kita?

Sebelum kita mundur ……’

Enkidu:

‘[Kawanku] adalah seseorang yang telah teruji dalam pertempuran,

seseorang yang telah berada di medan perang tidak menaruh rasa takut pada maut.

‘Engkau telah terciprat darah, jadi kau tak perlu takut maut:

[mengamuklah,] bak seorang darwis terhanyut dalam kegilaan.

Biarkan [teriakanmu] menggelegar nyaring [bagai] genderang ketel,

semoga kekakuan meninggalkan lenganmu, gemetar pergi dari

kakimu!’

Gilgamesh:

‘Raih tanganku, kawan, dan kita akan berjalan [maju] bersama-sama,

[biarkan] pikiranmu terpaku pada pertempuran!

Lupakan maut dan [carilah] kehidupan!

[Seseorang yang] berjalan bersisian adalah pria yang bijaksana.

‘“[Biarkan ia yang] berjalan lebih dulu berjaga-jaga atas dirinya dan

membawa kawannya pada keselamatan!”

Merekalah yang menorehkan nama [untuk hari-hari] jauh di masa depan!’

[Di kejauhan] … mereka berdua tiba,

[mereka menghentikan] percakapan mereka dan berhenti melangkah.

Mereka berdiri di sana mengagumi hutan itu,

.….…….

Seketika pedang-pedang itu ……,

dan dari sarungnya ……

Kapak-kapak berlumuran ……,

kapak [dan] pedang di ……

Satu ….…..,

mereka menyusup ke dalam ….…..

Humbaba [berbicara pada dirinya sendiri, mengucapkan sepatah kata:]

‘Tidakkah seekor … pergi ……?

Tidakkah ….…..?

Mengapa … terusik dan …?

‘Mengapa milikku sendiri ……?

Dalam kengerian untuk ……

Bagaimana mungkin ……?

Di ranjangku sendiri ……

‘Pastilah itu Enkidu ……,

dengan itikad baik dia ……

Jika sepatah kata untuk ……

semoga Enlil mengutuknya ……!’

Enkidu membuka mulutnya [untuk bicara,]

[berkata kepada Gilgamesh:]

‘Kawanku, Humbaba ……

Satu kawan hanyalah seorang diri, namun [dua adalah dua!]

‘Meski mereka lemah, dua ……,

[meski satu orang saja tak bisa memanjat] dinding pertahanan yang miring,

dua [akan berhasil!]

Dua kembar tiga ….…..

sebuah tali berjalin tiga [tak mudah diputuskan.]

‘Dua ekor anak anjing tangguh [akan mengalahkannya.]

Pasang kukuh kuda-kudamu ……

Kawanku, lesatan anak panah ……,

perjalanan yang tengah kau lakukan ……

‘Ketika kita telah berangkat ……

… dibawa ……

…-nya dua ……

Kawanku, di atas angin-angin yang Shamash …

‘Bagian belakangnya adalah prahara, [bagian depannya adalah angin.]

Bicaralah pada Shamash, agar dia [memberikanmu angin-anginnya!]’

Gilgamesh menengadahkan kepalanya, [menangis di hadapan Shamash,]

[air matanya] berlinangan di bawah sinar mentari:

‘[Jangan lupakan] hari itu, Oh Shamash, saat aku menaruh

kepercayaanku padamu!

Kini datanglah menolongku dan ……

Kepada Gilgamesh, tunas yang mekar dari tengah-tengah Uruk,

[berikanlah perlindunganmu!]’

Shamash mendengar apa yang telah dia ucapkan,

dengan segera [dari langit terdengarlah] sebuah suara:

‘Jangan takut, hadapilah dia! Humbaba tak boleh [memasuki hutannya,]

dia tak boleh turun ke semak belukar, dia tak boleh …!

‘Dia [tak boleh] membalut dirinya dalam ketujuh jubahnya …!

[Satu] ia kenakan, enam telah ia tanggalkan.’

Mereka ….…..

bagai banteng liar yang buas, siap untuk menerjang …

Dia melenguh sekali, lenguhan yang sarat akan kengerian,

sang penjaga hutan-hutan itu melenguh,

.….…….

Humbaba [menggelegar] bagai Dewa Badai.

 

Kekosongan singkat menyela. Ketika teks dilanjutkan kembali, para pahlawan

berhadapan langsung dengan penjaga hutan itu:

 

Humbaba membuka mulutnya untuk bicara,

berkata kepada Gilgamesh:

‘Biarlah para lintah darat berunding, Gilgamesh, dengan mereka yang kasar dan brutal!

Mengapa engkau datang ke mari ke hadapanku?

‘Mari, Enkidu, kau benih seekor ikan, yang tak mengenal ayah,

tetasan kura-kura air dan penyu, yang tak mengisap air susu ibu!

Di masa mudamu aku mengawasimu, namun aku tak mendekatimu,

akankah …-mu mengenyangkan perutku?

‘[Kini] dalam pengkhianatan engkau membawa Gilgamesh ke hadapanku,

dan berdiri di sana, Enkidu, bagai orang asing yang gemar berperang!

Aku akan menggorok leher dan kerongkongan Gilgamesh,

Aku akan mengumpankan dagingnya kepada burung-burung hutan, elang yang rakus dan nasar!’

Gilgamesh membuka mulutnya untuk bicara, berkata kepada Enkidu:

‘Kawanku, raut wajah Humbaba telah berubah!

Meskipun dengan berani kita mendatangi sarangnya untuk mengalahkannya,

namun hati yang dilanda ketakutan tidak menjadi tenang dalam sekejap.’

Enkidu membuka mulutnya untuk bicara,

berkata kepada Gilgamesh:

‘Mengapa, kawanku, [engkau] bicara bak seorang pengecut?

Dengan ucapanmu yang lemah itu engkau menggusarkan hatiku.

‘Kini, kawanku, hanya satu [tugas kita,]

tembaga itu sudah mengalir ke dalam cetakan!

Menyalakan tungku selama sejam? Meniup bara api selama sejam?

Mengirimkan Prahara Air Bah adalah melecut cambuk!

‘[Jangan] mundur, jangan menarik diri!

Jadikan pukulanmu perkasa, [seperti pukulan] seekor singa!

Jangan biarkan ….…..

.….…. dirimu.

[Biarkan] Angin Selatan [menyanderanya!]

‘Ingatlah akan dewamu Lugalbanda,

simpanlah di pikiranmu semua mimpi yang kau dapat!’

Gilgamesh melangkah [maju] atas nasihat sahabatnya,

sembilan kali dia menghantam batu karang, gunung itu terbelah.

Dia melancarkan serangan brutal bagai seekor singa,

dan Enkidu menerkam bagai seekor puma.

Mereka mencengkeram Humbaba di tengah hutan,

auranya yang mengerikan memenuhi hutan itu.

Mereka mencengkeram auranya dengan tangan mereka,

Humbaba melenguh, atas kehendaknya sendiri melolong:

‘[Aku akan] mengangkat mereka dan mendaki ke langit!

[Aku akan] menghantam tanah agar mereka jatuh ke Samudra Bawah!’

Dia mengangkat mereka namun langit terlalu jauh,

dia menghantam tanah namun batu karang itu menahannya.

Di tumit kaki mereka tanah terbelah hancur,

mereka menghancurkan, saat mereka berputar, Gunung Sirion dan Lebanon.

Hitam menjadi awan-awan putih, menghujani mereka maut laksana kabut.

Shamash membangkitkan untuk melawan Humbaba angin badai yang dahsyat:

Angin Selatan, Angin Utara, Angin Timur dan Angin Barat,

Hembusan, Hembusan Balik, Topan, Angin Puyuh dan Prahara,

Angin Iblis, Angin Beku, Badai dan Tornado:

maka bangkitlah tiga belas angin dan wajah Humbaba meredup –

dia tak bisa menerjang maju, dia tak bisa menendang mundur –

senjata-senjata Gilgamesh lalu menaklukkan Humbaba.

Dalam permohonan memelas demi nyawanya berkatalah Humbaba kepada Gilgamesh:

‘Engkau masih begitu muda, Gilgamesh, ibumu baru saja melahirkanmu,

namun sungguh engkau adalah keturunan dari [Sapi Liar Ninsun!]

Atas titah Shamash engkau meratakan sepuluh gunung,

Oh tunas yang mekar dari tengah-tengah Uruk, Gilgamesh sang raja!

‘Tak pernah, Oh Gilgamesh, orang mati menyenangkan seorang majikan,

[namun seorang budak] yang hidup [membawa keuntungan] bagi pemiliknya.

Oh Gilgamesh, berbelas kasihanlah! Dalam kesengsaraan aku sungguh [bersujud!]

Biarkan aku tinggal di sini di hutan ini atas panggilanmu!

‘Pohon-pohon akan kujaga untukmu, sebanyak yang engkau minta:

aku akan menjaga untukmu murad, aras dan sanobar,

kayu yang elok dan tumbuh lurus, untuk menjadi kebanggaan istanamu!’

Enkidu membuka mulutnya untuk bicara,

berkata kepada Gilgamesh:

‘Jangan dengarkan, [kawan]ku, kata-kata Humbaba yang memelas,

[mengapa] permohonannya harus memasuki pikiranmu?

‘Jika dia kembali ke rumahnya, kita tak akan pernah dilahirkan!

[Dia akan mengikat] kita kuat-kuat di Hutan Aras,

[lalu] memasuki semak belukar dan mengenakan [auranya.]’

Humbaba [mendengar bagaimana Enkidu] mencaci maki [dirinya.]

Humbaba [menengadahkan kepalanya, menangis di hadapan Shamash,]

[air matanya] berlinangan [di bawah sinar mentari:]

‘Engkau berpengalaman akan jalan-jalan di hutanku, jalan-jalan

…,

juga engkau mengetahui segala seni berbicara.

Seandainya saja aku menggantungmu tinggi-tinggi di atas sebuah anakan pohon di pintu masuk

hutanku,

seandainya saja aku mengumpankan dagingmu kepada burung-burung hutan,

elang yang rakus dan nasar.

‘Kini, Enkidu, pembebasan[ku] ada di tanganmu:

katakan pada Gilgamesh untuk mengampuni nyawaku!’

Enkidu membuka mulutnya untuk bicara,

berkata kepada Gilgamesh:

‘Kawanku, Humbaba yang menjaga Hutan [Aras:]

habisi dia, binasakan dia, singkirkan kekuasaannya!

Humbaba yang menjaga Hutan [Aras:]

habisi dia, binasakan dia, singkirkan kekuasaannya!

‘Sebelum Enlil yang terdepan mendengar apa yang kita lakukan,

dan para dewa [yang agung] memusuhi kita dalam amarah,

Enlil di Nippur, Shamash di [Larsa] …,

tegakkan selamanya [sebuah nama] yang abadi,

bagaimana Gilgamesh [membinasakan] Humbaba [yang buas!]’

Humbaba mendengar [bagaimana Enkidu mencaci maki dirinya.]

Humbaba [menengadahkan] kepalanya, [menangis di hadapan Shamash.]

 

Permohonan belas kasihan ketiga Humbaba telah hilang, namun sebuah fragmen Babilonia Tengah dari Ugarit memuat baris-baris yang sangat cocok di sini:

 

Ketika Humbaba mendengar hal ini,

dia menengadahkan kepalanya, menangis di hadapan [Shamash,]

air mata[nya] berlinangan di bawah sinar mentari:

‘Ketika Enkidu berbaring tertidur bersama binatang-binatangnya, aku tak memanggil [nya;]

gunung-gunung [Sirion] dan Lebanon, penumbuh aras, tak pernah [dirusak.]

‘[Karena engkau], Oh Shamash, [adalah] dewaku dan hakimku,

aku tak mengenal ibu yang melahirkanku,

[aku tak mengenal ayah yang membesarkanku,]

[itu adalah sebuah] gunung yang melahirkanku dan engkau yang membesarkanku!

‘Oh Enkidu, pembebasanku ada [di tanganmu,]:

[katakan pada Gilgamesh] untuk mengampuni nyawaku!’

 

Balasan Enkidu dapat dipulihkan seperti sebelumnya:

 

[Enkidu membuka mulutnya untuk bicara,]

[berkata kepada Gilgamesh:]

‘[Kawanku, Humbaba yang menjaga Hutan Aras:]

[habisi dia, binasakan dia, singkirkan kekuasaannya!]

[Humbaba yang menjaga Hutan Aras:]

[habisi dia, binasakan dia, singkirkan kekuasaannya!]

‘[Sebelum Enlil yang terdepan mendengar apa yang kita lakukan,]

[dan para dewa yang agung memusuhi kita dalam amarah,]

[Enlil di Nippur, Shamash di Larsa …,]

[tegakkan selamanya sebuah nama yang abadi,]

[bagaimana Gilgamesh membinasakan Humbaba yang buas!]’

[Humbaba] mendengar [bagaimana Enkidu mencaci maki dirinya.]

Humbaba menengadahkan kepalanya, [menangis di hadapan Shamash,]

[air matanya berlinangan] di bawah sinar mentari:

‘Engkau melangkah masuk, Oh Enkidu, ……

Dalam adu benturan senjata seorang pangeran …,

namun bagi pelayan istananya permusuhan itu …

‘Engkau duduk di hadapan[nya] bagai seorang gembala,

bagai pekerja sewaannya [melakukan titahnya.]

Kini, Enkidu, [pembebasanku] ada di tanganmu …,

katakan pada Gilgamesh untuk [mengampuni] nyawaku!’

Enkidu membuka mulutnya untuk bicara,

berkata [kepada Gilgamesh:]

‘Kawanku, Humbaba yang menjaga Hutan [Aras:]

[habisi dia,] binasakan dia, [singkirkan kekuasaannya!]

‘Sebelum [Enlil] yang terdepan mendengar apa yang kita lakukan,

dan para dewa [yang agung] memusuhi kita dalam amarah,

Enlil di Nippur, Shamash di [Larsa] …

tegakkan selamanya [sebuah nama] yang abadi,

bagaimana Gilgamesh membinasakan Humbaba [yang buas!]’

Humbaba mendengar [bagaimana Enkidu mencaci maki dirinya.]

Humbaba menengadahkan [kepalanya, menangis di hadapan Shamash,]

[air matanya berlinangan] di bawah [sinar mentari:]

‘Semoga mereka berdua tak bertambah tua,

selain Gilgamesh sahabatnya, tak ada yang akan memakamkan Enkidu!’

Enkidu membuka mulutnya untuk bicara,

berkata kepada Gilgamesh:

‘Kawanku, aku berbicara padamu namun engkau tak mendengarku!

Selagi kutukan-kutukan itu ….…..,

[biarkan kutukan-kutukan itu kembali] ke dalam mulutnya.’

[Gilgamesh mendengar kata-kata] sahabatnya,

dia menghunus [pedang di] sisinya.

Gilgamesh [menikamnya] di leher,

Enkidu memotong [jantungnya,] menariknya keluar bersama paru-parunya.

.….. melompat bangun,

[dari] kepalanya dia mengambil gading-gadingnya sebagai pampasan.

[Darah] berlimpah jatuh di atas gunung itu,

[darah kental] berlimpah jatuh di atas gunung itu.

 

Kekosongan singkat menyela, di mana para pahlawan menodai hutan itu. Lalu:

 

Gilgamesh [pergi menginjak-injak melintasi] hutan itu,

untuk mengambil resin dari pohon-pohon aras [bagi meja] Enlil.

[Enkidu] membuka mulutnya untuk bicara,

berkata kepada Gilgamesh:

‘[Kawanku,] kita telah mengubah hutan ini [menjadi] tanah tandus,

[bagaimana] kita akan menjawab Enlil di Nippur?

“[Dalam] keperkasaanmu engkau membinasakan sang penjaga,

amarah macam apa dirimu ini hingga engkau pergi menginjak-injak hutan itu?”’

Setelah mereka membinasakan ketujuh putranya,

Jangkrik, Pemekik, Topan, Penjerit, Licik, …, Badai –

kapak-kapak seberat dua talenta masing-masing adalah kapak mereka,

.….…. mereka tebang,

tiga setengah hasta (panjangnya) serpihan yang terbuat oleh tiap tebasan.

Gilgamesh sedang menebang pohon-pohon itu,

Enkidu sedang mencari kayu terbaik.

Enkidu membuka mulutnya untuk bicara,

berkata kepada Gilgamesh:

‘Kawanku, kita telah menebang sebatang pohon aras yang menjulang tinggi,

yang puncaknya menembus ke langit.

‘Aku sedang membuat sebuah pintu, enam tongkat tingginya, dua tongkat lebarnya, satu hasta ketebalannya,

yang tiang dan porosnya, atas dan bawah, semuanya utuh menyatu.

Menuju rumah Enlil di Nippur Sungai Efrat akan membawanya,

[dan] tempat suci Nippur pun [bersukacita!]’

Mereka membuat sebuah rakit dari gelondongan kayu [aras dan] sanobar,

mereka mengikat rakit itu kuat-kuat, mereka meletakkan [pohon aras di atasnya.]

Enkidu menunggangi ……,

dan Gilgamesh menunggangi [juga, membawa] kepala Humbaba.

Komentar