Mereka berdiri di sana mengagumi hutan itu,
menatap
pohon-pohon aras yang menjulang tinggi,
menatap
pintu masuk hutan itu –
di
mana Humbaba datang dan pergi terdapat sebuah jalur.
Jalan-jalannya
lurus dan setapaknya telah banyak dilalui.
Mereka
melihat Gunung Aras, singgasana para dewa dan takhta para dewi.
[Di]
permukaan tanah pohon aras menyuguhkan kelimpahannya,
naungannya
terasa manis dan penuh dengan kenikmatan.
[Lebat]
berselimut duri, hutan itu bagai kanopi yang menyelimuti,
pohon-pohon
aras dan pohon-pohon karet, [semuanya saling melilit,] tidak menyisakan jalan
masuk.
Sejauh
satu liga di semua sisi pohon-pohon aras [menjulurkan] anakan,
pohon-pohon
sanobar [tumbuh lebat] sejauh dua pertiga liga.
Pohon-pohon
aras berkeropeng resin tumbuh setinggi enam puluh hasta,
resinnya
[merembes] keluar, menetes turun bak hujan,
[mengalir
deras] untuk dibawa pergi oleh ngarai-ngarai.
[Di
seluruh] penjuru hutan seekor burung mulai berkicau,
[burung-burung
betina] menyahut, keributan yang tak henti-henti adalah bunyinya.
[Seekor]
jangkrik pohon [yang menyendiri] memulai paduan suara yang bising,
…
menyanyikan sebuah lagu, membuat … melengking keras.
Seekor
merpati hutan merintih, seekor tekukur berseru menyahut.
[Mendengar
seruan] bangau, hutan itu bersorak-sorai,
[mendengar
kokok] ayam hutan, hutan itu bersorak-sorai di tengah kelimpahan.
[Induk-induk
monyet] bernyanyi lantang, seekor monyet muda menjerit:
[bagai
sekawanan] pemusik dan penabuh genderang,
setiap
hari mereka menabuh irama di hadapan Humbaba.
Saat
pohon aras [menjatuhkan] bayangannya,
[kengerian]
menyergap Gilgamesh.
[Kekakuan
mencengkeram] lengannya,
dan
gemetar melanda kakinya.
[Enkidu]
membuka mulutnya untuk bicara,
berkata
kepada Gilgamesh:
‘[Mari
kita masuk dalam-dalam] ke tengah hutan,
[mari
kita] bergerak dan angkatlah sorak yang nyaring!’
[Gilgamesh]
membuka mulutnya untuk bicara,
berkata
kepada Enkidu:
‘[Mengapa,]
kawanku, kita gemetar bagai pengecut,
[kita
yang] telah melintasi semua gunung?
‘[Akankah]
….….. di hadapan kita?
Sebelum
kita mundur ……’
Enkidu:
‘[Kawanku]
adalah seseorang yang telah teruji dalam pertempuran,
seseorang
yang telah berada di medan perang tidak menaruh rasa takut pada maut.
‘Engkau
telah terciprat darah, jadi kau tak perlu takut maut:
[mengamuklah,]
bak seorang darwis terhanyut dalam kegilaan.
Biarkan
[teriakanmu] menggelegar nyaring [bagai] genderang ketel,
semoga
kekakuan meninggalkan lenganmu, gemetar pergi dari
kakimu!’
Gilgamesh:
‘Raih
tanganku, kawan, dan kita akan berjalan [maju] bersama-sama,
[biarkan]
pikiranmu terpaku pada pertempuran!
Lupakan
maut dan [carilah] kehidupan!
[Seseorang
yang] berjalan bersisian adalah pria yang bijaksana.
‘“[Biarkan
ia yang] berjalan lebih dulu berjaga-jaga atas dirinya dan
membawa
kawannya pada keselamatan!”
Merekalah
yang menorehkan nama [untuk hari-hari] jauh di masa depan!’
[Di
kejauhan] … mereka berdua tiba,
[mereka
menghentikan] percakapan mereka dan berhenti melangkah.
Mereka
berdiri di sana mengagumi hutan itu,
.….…….
Seketika
pedang-pedang itu ……,
dan
dari sarungnya ……
Kapak-kapak
berlumuran ……,
kapak
[dan] pedang di ……
Satu
….…..,
mereka
menyusup ke dalam ….…..
Humbaba
[berbicara pada dirinya sendiri, mengucapkan sepatah kata:]
‘Tidakkah
seekor … pergi ……?
Tidakkah
….…..?
Mengapa
… terusik dan …?
‘Mengapa
milikku sendiri ……?
Dalam
kengerian untuk ……
Bagaimana
mungkin ……?
Di
ranjangku sendiri ……
‘Pastilah
itu Enkidu ……,
dengan
itikad baik dia ……
Jika
sepatah kata untuk ……
semoga
Enlil mengutuknya ……!’
Enkidu
membuka mulutnya [untuk bicara,]
[berkata
kepada Gilgamesh:]
‘Kawanku,
Humbaba ……
Satu
kawan hanyalah seorang diri, namun [dua adalah dua!]
‘Meski
mereka lemah, dua ……,
[meski
satu orang saja tak bisa memanjat] dinding pertahanan yang miring,
dua
[akan berhasil!]
Dua
kembar tiga ….…..
sebuah
tali berjalin tiga [tak mudah diputuskan.]
‘Dua
ekor anak anjing tangguh [akan mengalahkannya.]
Pasang
kukuh kuda-kudamu ……
Kawanku,
lesatan anak panah ……,
perjalanan
yang tengah kau lakukan ……
‘Ketika
kita telah berangkat ……
…
dibawa ……
…-nya
dua ……
Kawanku,
di atas angin-angin yang Shamash …
‘Bagian
belakangnya adalah prahara, [bagian depannya adalah angin.]
Bicaralah
pada Shamash, agar dia [memberikanmu angin-anginnya!]’
Gilgamesh
menengadahkan kepalanya, [menangis di hadapan Shamash,]
[air
matanya] berlinangan di bawah sinar mentari:
‘[Jangan
lupakan] hari itu, Oh Shamash, saat aku menaruh
kepercayaanku
padamu!
Kini
datanglah menolongku dan ……
Kepada
Gilgamesh, tunas yang mekar dari tengah-tengah Uruk,
[berikanlah
perlindunganmu!]’
Shamash
mendengar apa yang telah dia ucapkan,
dengan
segera [dari langit terdengarlah] sebuah suara:
‘Jangan
takut, hadapilah dia! Humbaba tak boleh [memasuki hutannya,]
dia
tak boleh turun ke semak belukar, dia tak boleh …!
‘Dia
[tak boleh] membalut dirinya dalam ketujuh jubahnya …!
[Satu]
ia kenakan, enam telah ia tanggalkan.’
Mereka
….…..
bagai
banteng liar yang buas, siap untuk menerjang …
Dia
melenguh sekali, lenguhan yang sarat akan kengerian,
sang
penjaga hutan-hutan itu melenguh,
.….…….
Humbaba
[menggelegar] bagai Dewa Badai.
Kekosongan singkat menyela. Ketika teks
dilanjutkan kembali, para pahlawan
berhadapan langsung dengan penjaga hutan
itu:
Humbaba
membuka mulutnya untuk bicara,
berkata
kepada Gilgamesh:
‘Biarlah
para lintah darat berunding, Gilgamesh, dengan mereka yang kasar dan brutal!
Mengapa
engkau datang ke mari ke hadapanku?
‘Mari,
Enkidu, kau benih seekor ikan, yang tak mengenal ayah,
tetasan
kura-kura air dan penyu, yang tak mengisap air susu ibu!
Di
masa mudamu aku mengawasimu, namun aku tak mendekatimu,
akankah
…-mu mengenyangkan perutku?
‘[Kini]
dalam pengkhianatan engkau membawa Gilgamesh ke hadapanku,
dan
berdiri di sana, Enkidu, bagai orang asing yang gemar berperang!
Aku
akan menggorok leher dan kerongkongan Gilgamesh,
Aku
akan mengumpankan dagingnya kepada burung-burung hutan, elang yang rakus dan
nasar!’
Gilgamesh
membuka mulutnya untuk bicara, berkata kepada Enkidu:
‘Kawanku,
raut wajah Humbaba telah berubah!
Meskipun
dengan berani kita mendatangi sarangnya untuk mengalahkannya,
namun
hati yang dilanda ketakutan tidak menjadi tenang dalam sekejap.’
Enkidu
membuka mulutnya untuk bicara,
berkata
kepada Gilgamesh:
‘Mengapa,
kawanku, [engkau] bicara bak seorang pengecut?
Dengan
ucapanmu yang lemah itu engkau menggusarkan hatiku.
‘Kini,
kawanku, hanya satu [tugas kita,]
tembaga
itu sudah mengalir ke dalam cetakan!
Menyalakan
tungku selama sejam? Meniup bara api selama sejam?
Mengirimkan
Prahara Air Bah adalah melecut cambuk!
‘[Jangan]
mundur, jangan menarik diri!
Jadikan
pukulanmu perkasa, [seperti pukulan] seekor singa!
Jangan
biarkan ….…..
.….….
dirimu.
[Biarkan]
Angin Selatan [menyanderanya!]
‘Ingatlah
akan dewamu Lugalbanda,
simpanlah
di pikiranmu semua mimpi yang kau dapat!’
Gilgamesh
melangkah [maju] atas nasihat sahabatnya,
sembilan
kali dia menghantam batu karang, gunung itu terbelah.
Dia
melancarkan serangan brutal bagai seekor singa,
dan
Enkidu menerkam bagai seekor puma.
Mereka
mencengkeram Humbaba di tengah hutan,
auranya
yang mengerikan memenuhi hutan itu.
Mereka
mencengkeram auranya dengan tangan mereka,
Humbaba
melenguh, atas kehendaknya sendiri melolong:
‘[Aku
akan] mengangkat mereka dan mendaki ke langit!
[Aku
akan] menghantam tanah agar mereka jatuh ke Samudra Bawah!’
Dia
mengangkat mereka namun langit terlalu jauh,
dia
menghantam tanah namun batu karang itu menahannya.
Di
tumit kaki mereka tanah terbelah hancur,
mereka
menghancurkan, saat mereka berputar, Gunung Sirion dan Lebanon.
Hitam
menjadi awan-awan putih, menghujani mereka maut laksana kabut.
Shamash
membangkitkan untuk melawan Humbaba angin badai yang dahsyat:
Angin
Selatan, Angin Utara, Angin Timur dan Angin Barat,
Hembusan,
Hembusan Balik, Topan, Angin Puyuh dan Prahara,
Angin
Iblis, Angin Beku, Badai dan Tornado:
maka
bangkitlah tiga belas angin dan wajah Humbaba meredup –
dia
tak bisa menerjang maju, dia tak bisa menendang mundur –
senjata-senjata
Gilgamesh lalu menaklukkan Humbaba.
Dalam
permohonan memelas demi nyawanya berkatalah Humbaba kepada Gilgamesh:
‘Engkau
masih begitu muda, Gilgamesh, ibumu baru saja melahirkanmu,
namun
sungguh engkau adalah keturunan dari [Sapi Liar Ninsun!]
Atas
titah Shamash engkau meratakan sepuluh gunung,
Oh
tunas yang mekar dari tengah-tengah Uruk, Gilgamesh sang raja!
‘Tak
pernah, Oh Gilgamesh, orang mati menyenangkan seorang majikan,
[namun
seorang budak] yang hidup [membawa keuntungan] bagi pemiliknya.
Oh
Gilgamesh, berbelas kasihanlah! Dalam kesengsaraan aku sungguh [bersujud!]
Biarkan
aku tinggal di sini di hutan ini atas panggilanmu!
‘Pohon-pohon
akan kujaga untukmu, sebanyak yang engkau minta:
aku
akan menjaga untukmu murad, aras dan sanobar,
kayu
yang elok dan tumbuh lurus, untuk menjadi kebanggaan istanamu!’
Enkidu
membuka mulutnya untuk bicara,
berkata
kepada Gilgamesh:
‘Jangan
dengarkan, [kawan]ku, kata-kata Humbaba yang memelas,
[mengapa]
permohonannya harus memasuki pikiranmu?
‘Jika
dia kembali ke rumahnya, kita tak akan pernah dilahirkan!
[Dia
akan mengikat] kita kuat-kuat di Hutan Aras,
[lalu]
memasuki semak belukar dan mengenakan [auranya.]’
Humbaba
[mendengar bagaimana Enkidu] mencaci maki [dirinya.]
Humbaba
[menengadahkan kepalanya, menangis di hadapan Shamash,]
[air
matanya] berlinangan [di bawah sinar mentari:]
‘Engkau
berpengalaman akan jalan-jalan di hutanku, jalan-jalan
…,
juga
engkau mengetahui segala seni berbicara.
Seandainya
saja aku menggantungmu tinggi-tinggi di atas sebuah anakan pohon di pintu masuk
hutanku,
seandainya
saja aku mengumpankan dagingmu kepada burung-burung hutan,
elang
yang rakus dan nasar.
‘Kini,
Enkidu, pembebasan[ku] ada di tanganmu:
katakan
pada Gilgamesh untuk mengampuni nyawaku!’
Enkidu
membuka mulutnya untuk bicara,
berkata
kepada Gilgamesh:
‘Kawanku,
Humbaba yang menjaga Hutan [Aras:]
habisi
dia, binasakan dia, singkirkan kekuasaannya!
Humbaba
yang menjaga Hutan [Aras:]
habisi
dia, binasakan dia, singkirkan kekuasaannya!
‘Sebelum
Enlil yang terdepan mendengar apa yang kita lakukan,
dan
para dewa [yang agung] memusuhi kita dalam amarah,
Enlil
di Nippur, Shamash di [Larsa] …,
tegakkan
selamanya [sebuah nama] yang abadi,
bagaimana
Gilgamesh [membinasakan] Humbaba [yang buas!]’
Humbaba
mendengar [bagaimana Enkidu mencaci maki dirinya.]
Humbaba
[menengadahkan] kepalanya, [menangis di hadapan Shamash.]
Permohonan belas kasihan ketiga Humbaba
telah hilang, namun sebuah fragmen Babilonia Tengah dari Ugarit memuat
baris-baris yang sangat cocok di sini:
Ketika
Humbaba mendengar hal ini,
dia
menengadahkan kepalanya, menangis di hadapan [Shamash,]
air
mata[nya] berlinangan di bawah sinar mentari:
‘Ketika
Enkidu berbaring tertidur bersama binatang-binatangnya, aku tak memanggil [nya;]
gunung-gunung
[Sirion] dan Lebanon, penumbuh aras, tak pernah [dirusak.]
‘[Karena
engkau], Oh Shamash, [adalah] dewaku dan hakimku,
aku
tak mengenal ibu yang melahirkanku,
[aku
tak mengenal ayah yang membesarkanku,]
[itu
adalah sebuah] gunung yang melahirkanku dan engkau yang membesarkanku!
‘Oh
Enkidu, pembebasanku ada [di tanganmu,]:
[katakan
pada Gilgamesh] untuk mengampuni nyawaku!’
Balasan Enkidu dapat dipulihkan seperti
sebelumnya:
[Enkidu
membuka mulutnya untuk bicara,]
[berkata
kepada Gilgamesh:]
‘[Kawanku,
Humbaba yang menjaga Hutan Aras:]
[habisi
dia, binasakan dia, singkirkan kekuasaannya!]
[Humbaba
yang menjaga Hutan Aras:]
[habisi
dia, binasakan dia, singkirkan kekuasaannya!]
‘[Sebelum
Enlil yang terdepan mendengar apa yang kita lakukan,]
[dan
para dewa yang agung memusuhi kita dalam amarah,]
[Enlil
di Nippur, Shamash di Larsa …,]
[tegakkan
selamanya sebuah nama yang abadi,]
[bagaimana
Gilgamesh membinasakan Humbaba yang buas!]’
[Humbaba]
mendengar [bagaimana Enkidu mencaci maki dirinya.]
Humbaba
menengadahkan kepalanya, [menangis di hadapan Shamash,]
[air
matanya berlinangan] di bawah sinar mentari:
‘Engkau
melangkah masuk, Oh Enkidu, ……
Dalam
adu benturan senjata seorang pangeran …,
namun
bagi pelayan istananya permusuhan itu …
‘Engkau
duduk di hadapan[nya] bagai seorang gembala,
bagai
pekerja sewaannya [melakukan titahnya.]
Kini,
Enkidu, [pembebasanku] ada di tanganmu …,
katakan
pada Gilgamesh untuk [mengampuni] nyawaku!’
Enkidu
membuka mulutnya untuk bicara,
berkata
[kepada Gilgamesh:]
‘Kawanku,
Humbaba yang menjaga Hutan [Aras:]
[habisi
dia,] binasakan dia, [singkirkan kekuasaannya!]
‘Sebelum
[Enlil] yang terdepan mendengar apa yang kita lakukan,
dan
para dewa [yang agung] memusuhi kita dalam amarah,
Enlil
di Nippur, Shamash di [Larsa] …
tegakkan
selamanya [sebuah nama] yang abadi,
bagaimana
Gilgamesh membinasakan Humbaba [yang buas!]’
Humbaba
mendengar [bagaimana Enkidu mencaci maki dirinya.]
Humbaba
menengadahkan [kepalanya, menangis di hadapan Shamash,]
[air
matanya berlinangan] di bawah [sinar mentari:]
‘Semoga
mereka berdua tak bertambah tua,
selain
Gilgamesh sahabatnya, tak ada yang akan memakamkan Enkidu!’
Enkidu
membuka mulutnya untuk bicara,
berkata
kepada Gilgamesh:
‘Kawanku,
aku berbicara padamu namun engkau tak mendengarku!
Selagi
kutukan-kutukan itu ….…..,
[biarkan
kutukan-kutukan itu kembali] ke dalam mulutnya.’
[Gilgamesh
mendengar kata-kata] sahabatnya,
dia
menghunus [pedang di] sisinya.
Gilgamesh
[menikamnya] di leher,
Enkidu
memotong [jantungnya,] menariknya keluar bersama paru-parunya.
.…..
melompat bangun,
[dari]
kepalanya dia mengambil gading-gadingnya sebagai pampasan.
[Darah]
berlimpah jatuh di atas gunung itu,
[darah
kental] berlimpah jatuh di atas gunung itu.
Kekosongan singkat menyela, di mana para
pahlawan menodai hutan itu. Lalu:
Gilgamesh
[pergi menginjak-injak melintasi] hutan itu,
untuk
mengambil resin dari pohon-pohon aras [bagi meja] Enlil.
[Enkidu]
membuka mulutnya untuk bicara,
berkata
kepada Gilgamesh:
‘[Kawanku,]
kita telah mengubah hutan ini [menjadi] tanah tandus,
[bagaimana]
kita akan menjawab Enlil di Nippur?
“[Dalam]
keperkasaanmu engkau membinasakan sang penjaga,
amarah
macam apa dirimu ini hingga engkau pergi menginjak-injak hutan itu?”’
Setelah
mereka membinasakan ketujuh putranya,
Jangkrik,
Pemekik, Topan, Penjerit, Licik, …, Badai –
kapak-kapak
seberat dua talenta masing-masing adalah kapak mereka,
.….….
mereka tebang,
tiga
setengah hasta (panjangnya) serpihan yang terbuat oleh tiap tebasan.
Gilgamesh
sedang menebang pohon-pohon itu,
Enkidu
sedang mencari kayu terbaik.
Enkidu
membuka mulutnya untuk bicara,
berkata
kepada Gilgamesh:
‘Kawanku,
kita telah menebang sebatang pohon aras yang menjulang tinggi,
yang
puncaknya menembus ke langit.
‘Aku
sedang membuat sebuah pintu, enam tongkat tingginya, dua tongkat lebarnya, satu
hasta ketebalannya,
yang
tiang dan porosnya, atas dan bawah, semuanya utuh menyatu.
Menuju
rumah Enlil di Nippur Sungai Efrat akan membawanya,
[dan]
tempat suci Nippur pun [bersukacita!]’
Mereka
membuat sebuah rakit dari gelondongan kayu [aras dan] sanobar,
mereka
mengikat rakit itu kuat-kuat, mereka meletakkan [pohon aras di atasnya.]
Enkidu
menunggangi ……,
dan
Gilgamesh menunggangi [juga, membawa] kepala Humbaba.
Komentar
Posting Komentar