Shiduri adalah seorang pemilik kedai yang tinggal di tepi pantai,
di sanalah dia
berdiam, [di sebuah kedai di tepi pantai.]
Penyangga pot dia
miliki, dan [tong-tong besar yang semuanya dari emas,]
dia terbalut dalam
tudung-tudung dan [bercadar dengan] cadar-cadar.
Gilgamesh datang
mengembara ……,
dia mengenakan kulit
binatang, dan menakutkan [untuk dipandang.]
Daging para dewa dia
miliki di dalam [tubuhnya,]
namun di dalam
[hatinya] ada kesedihan.
Wajahnya menyerupai
seseorang yang datang dari jauh.
Saat pemilik kedai itu
memperhatikannya di kejauhan,
berbicara pada dirinya
sendiri dia mengucapkan sepatah kata,
berunding di dalam
benaknya sendiri:
‘Pastilah pria ini
seorang pemburu banteng liar,
namun dari manakah dia
datang, berjalan lurus menuju gerbangku?’
Demikianlah pemilik
kedai itu melihatnya, dan memalangi gerbangnya,
memalangi gerbangnya
dan naik ke atas atap.
Namun Gilgamesh
memasang telinga pada …,
dia mengangkat
dagunya, dan menoleh [kepadanya.]
[Berkatalah] Gilgamesh
kepadanya, [kepada pemilik]-kedai itu:
‘Pemilik kedai,
mengapa [engkau memalangi] [gerbang]mu
segera setelah engkau
melihat[ku?]
‘Engkau memalangi
gerbangmu, [dan naik ke atas] atap.
Aku akan menghancurkan
pintu itu,
aku akan [mematahkan gerendel-gerendelnya!]’
[Berkatalah pemilik kedai
itu] kepadanya, [kepada] Gilgamesh:
‘…… aku memalangi
gerbangku,
.….. [aku naik ke
atas] atap.
.….. biarkan aku
mengetahui tentang [perjalananmu!]’
[Berkatalah Gilgamesh
kepada]nya, [kepada pemilik]-kedai itu:
‘[Sahabatku Enkidu dan
aku ……:]
‘[adalah kita
bersama-sama yang mendaki] pegunungan,
[mencengkeram dan
membinasakan sang Banteng Surga,]
[menghancurkan
Humbaba, yang berdiam di Hutan] Aras,
[membunuh] singa-singa
[di celah-celah gunung.]’
Berkatalah [pemilik
kedai itu kepadanya,] kepada Gilgamesh:
‘[Jika engkau dan
Enkidu adalah] mereka yang membinasakan sang Penjaga,
[menghancurkan]
Humbaba, yang berdiam di Hutan Aras,
membunuh singa-singa
[di] celah-celah [gunung,]
[mencengkeram] dan
membinasakan [sang] Banteng yang turun dari surga –
‘[mengapa] pipimu
[begitu tirus,] wajahmu begitu cekung,
[suasana hatimu begitu
sengsara,] raut wajahmu [begitu] layu?
[Mengapa] di dalam
hatimu [berdiam kesedihan,]
dan wajahmu menyerupai
seseorang [yang datang dari jauh?]
[Mengapa] raut wajahmu
terbakar [oleh embun beku dan sinar mentari,]
[dan mengapa] engkau
mengembara di alam liar [dalam balutan pakaian singa?]’
[Berkatalah Gilgamesh
kepadanya,] kepada pemilik kedai itu:
‘[Mengapa pipiku tidak
tirus, wajahku tidak cekung,]
[suasana hatiku tidak
sengsara, raut wajahku tidak layu?]
‘[Tidakkah seharusnya
kesedihan berdiam di dalam hatiku,]
[dan wajahku tidak
menyerupai seseorang yang datang dari jauh?]
[Tidakkah seharusnya
raut wajahku terbakar oleh embun beku dan
sinar mentari,]
[dan tidakkah
seharusnya aku mengembara di alam liar dalam balutan pakaian singa?]
‘[Sahabatku, seekor
keledai liar yang berlari,]
[keledai di dataran
tinggi, macan tutul di alam liar,]
[sahabatku Enkidu,
seekor keledai liar yang berlari,]
[keledai di dataran
tinggi, macan tutul di alam liar,]
‘[sahabatku, yang
begitu kusayangi,]
[yang bersamaku
melewati segala marabahaya,]
[sahabatku Enkidu,
yang begitu kusayangi,]
[yang bersamaku
melewati segala marabahaya:]
‘[takdir umat manusia
menimpanya.]
[Enam hari aku
menangisinya dan tujuh malam.]
[Aku tidak menyerahkan
tubuhnya untuk dimakamkan,]
[hingga seekor
belatung jatuh dari lubang hidungnya.]
‘[Lalu aku takut bahwa
aku juga akan mati,]
[aku tumbuh takut akan
kematian, dan maka mengembara di alam liar.]
Apa yang terjadi pada
sahabatku [terlalu berat] untuk ditanggung,
[maka di jalan yang
jauh aku mengembara di] alam liar;
apa yang terjadi pada
[sahabatku] Enkidu [terlalu berat] untuk ditanggung,
[maka di jalan setapak
yang jauh] aku mengembara [di alam liar.]
‘[Bagaimana aku bisa
berdiam diri?] Bagaimana aku bisa tetap tenang?
[Sahabatku, yang
kucintai, telah berubah] menjadi tanah liat,
sahabatku Enkidu, yang
kucintai, telah [berubah menjadi] tanah liat.
[Tidakkah aku akan
menjadi seperti] dia, dan juga berbaring,
[tak akan pernah]
bangkit lagi, sepanjang keabadian?’
Berkatalah Gilgamesh
kepadanya, kepada pemilik kedai itu:
‘Kini, Oh pemilik kedai,
di manakah jalan menuju Uta-napishti?
Apakah penandanya?
Beri tahu aku!
Berikan aku
penandanya!
Jika itu bisa
dilakukan, aku akan menyeberangi samudra,
jika itu tak bisa
dilakukan, aku akan mengembara di alam liar!’
Berkatalah pemilik
kedai itu kepadanya, kepada Gilgamesh:
‘Oh Gilgamesh, belum
pernah ada jalan untuk menyeberang,
juga sejak zaman
dahulu kala tak ada seorang pun yang bisa menyeberangi samudra.
Hanya Shamash sang
pahlawan yang menyeberangi samudra:
selain sang Dewa
Matahari, siapakah yang menyeberangi samudra?
‘Penyeberangan itu
sungguh berbahaya, jalannya penuh dengan marabahaya,
dan di tengah-tengah
terbentanglah Perairan Maut, menghalangi jalan ke depan.
Jadi selain itu,
Gilgamesh, setelah engkau menyeberangi samudra,
ketika engkau mencapai
Perairan Maut, apa yang kelak akan kau lakukan?
‘Gilgamesh, di sana
ada Ur-shanabi, tukang perahu dari Uta- napishti,
dan Makhluk-makhluk
Batu bersamanya,
saat dia mengupas
kulit pohon pinus di tengah hutan.
Pergilah, biarkan dia
melihat wajahmu!
Jika [itu dapat]
dilakukan, seberangilah bersamanya,
jika itu tak dapat
dilakukan, berbaliklah dan pulanglah!’
Gilgamesh mendengar
kata-kata ini,
dia mengangkat
kapaknya di tangannya,
dia menghunus pedang
[dari] sabuk[nya,]
ke depan dia
mengendap-endap dan menerjang [mereka.]
Laksana anak panah dia
menerjang di antara mereka,
di tengah-tengah hutan
teriakannya menggema.
Ur-shanabi melihatnya
dan membalut dirinya dalam auranya,
dia memungut sebuah
kapak, gemetar di hadapannya.
Namun dia, Gilgamesh,
memukul kepalanya dan mencengkeram rambutnya,
dia menjepit lengannya
ke dadanya.
Makhluk-makhluk Batu
itu telah menyegel perahunya,
mereka yang tak punya
rasa takut akan Perairan Maut.
Gilgamesh melangkah ke
dalam Samudra, laut yang luas,
di dalam air dia
menghentikan perahu dan Makhluk-makhluk Batu itu.
Dia menghancurkan
Makhluk-makhluk Batu itu, menjungkirkan mereka ke dalam sungai,
dia mengikat perahu
itu dengan seutas tali,
dan … duduklah dia di
tepian.
Berkatalah Gilgamesh
kepadanya, kepada Ur-shanabi:
‘Jadi, Ur-shanabi,
engkau memungut sebuah kapak, gemetar di hadapanku!
Pertarungan dan
pertempuran yang kau cari tak akan kulancarkan kepadamu.’
Berkatalah Ur-shanabi
kepadanya, kepada Gilgamesh:
‘Mengapa pipimu begitu
tirus, [wajahmu begitu] cekung,
suasana hatimu begitu
sengsara, [raut wajahmu begitu layu?]
‘[Mengapa di dalam
hatimu] berdiam kesedihan,
dan [wajahmu
menyerupai seseorang yang] datang dari jauh?
Mengapa [raut wajahmu]
terbakar oleh embun beku dan sinar mentari,
[dan mengapa] engkau
[mengembara di alam liar dalam balutan pakaian singa?]’
Berkatalah [Gilgamesh
kepadanya,] kepada [tukang perahu Ur-shanabi:]
‘[Mengapa seharusnya]
pipiku [tidak tirus, wajahku] tidak [cekung,]
[suasana hatiku tidak
sengsara, raut wajahku] tidak layu?
‘[Tidakkah seharusnya]
kesedihan [berdiam] di [dalam hatiku,]
[dan] wajah[ku tidak
menyerupai seseorang yang datang dari jauh?]
[Tidakkah seharusnya
raut wajahku] terbakar [oleh embun beku dan sinar mentari,]
dan tidakkah
seharusnya aku [mengembara di alam liar dalam balutan pakaian singa?]
‘[Sahabatku, seekor
keledai liar yang berlari,]
[keledai di dataran
tinggi, macan tutul di alam liar,]
[sahabatku Enkidu,
seekor keledai liar yang berlari,]
[keledai di dataran
tinggi, macan tutul di alam liar –]
‘[adalah kita
bersama-sama yang mendaki pegunungan,]
[mencengkeram dan
membinasakan sang Banteng Surga,]
[menghancurkan
Humbaba, yang berdiam di Hutan Aras,]
[membunuh singa-singa]
di [celah-celah gunung –]
‘sahabatku [yang
begitu kusayangi,]
[yang bersamaku
melewati segala marabahaya,]
[sahabatku] Enkidu,
[yang begitu kusayangi,]
[yang bersamaku
melewati segala marabahaya:]
[takdir umat manusia]
menimpa[nya.]
‘Enam hari [aku menangisinya
dan tujuh malam:]
[Aku tidak menyerahkan
tubuhnya untuk dimakamkan]
hingga [seekor
belatung jatuh dari lubang hidungnya.]
Lalu aku takut [bahwa
aku juga akan mati,]
[aku tumbuh takut akan
kematian, maka mengembara di alam liar.]
‘Apa yang terjadi pada
[sahabat]ku [terlalu berat untuk ditanggung,]
maka di jalan yang
jauh aku [mengembara di alam liar;]
[apa yang terjadi pada
sahabatku Enkidu terlalu berat untuk ditanggung,]
maka di jalan setapak
yang jauh [aku mengembara di alam liar.]
‘Bagaimana aku bisa
tetap [berdiam diri? Bagaimana aku bisa tetap tenang?]
Sahabatku, yang
kucintai, telah [berubah menjadi tanah liat,]
[sahabatku Enkidu,
yang kucintai, telah berubah menjadi tanah liat.]
Tidakkah aku akan
menjadi seperti dia, dan juga [berbaring,]
[tak akan pernah
bangkit lagi, sepanjang keabadian?]’
Berkatalah Gilgamesh
kepadanya, kepada Ur-[shanabi, sang tukang perahu:]
‘Kini, Ur-shanabi, di
manakah [jalan menuju Uta-napishti?]
Apakah penandanya?
Beri tahu aku!
Berikan [aku
penandanya!]
Jika itu bisa dilakukan,
aku akan menyeberangi samudra,
jika itu tak bisa
dilakukan, [aku akan mengembara di alam liar!]’
Berkatalah Ur-shanabi
kepadanya, kepada Gilgamesh:
‘Tanganmu sendiri, Oh
Gilgamesh, telah menghalangi [penyeberanganmu:]
engkau menghancurkan
Makhluk-makhluk Batu, menjungkirkan [mereka ke dalam sungai,]
Makhluk-makhluk Batu
itu telah hancur, dan pinus itu belum [dikupas.]
‘Ambillah, Oh
Gilgamesh, kapakmu di [tanganmu,]
masuklah ke dalam
hutan dan [tebanglah tiga ratus] galah-
penolak, masing-masing
lima tongkat panjangnya.
Pangkaslah dan
lengkapi masing-masing dengan sebuah bonggol,
lalu bawa [kemari ke
hadapanku.]’
Gilgamesh mendengar
kata-kata ini,
dia mengangkat
kapaknya di tangannya,
dia menghunus [pedang
dari sabuknya,]
dia masuk ke dalam
hutan dan [menebang tiga ratus]
galah-penolak,
masing-masing lima tongkat panjangnya.
Dia memangkasnya dan
melengkapi masing-masing dengan sebuah bonggol,
lalu dia membawa[nya
kepada Ur-shanabi, sang tukang perahu.]
Gilgamesh dan
Ur-shanabi menaiki [perahu itu,]
mereka meluncurkan
perahu itu, dan [mengawakinya] sendiri.
Dalam tiga hari,
mereka menempuh jarak perjalanan
yang biasanya memakan
waktu satu bulan setengah,
dan Ur-shanabi tiba di
Perairan [Maut.]
[Berkatalah]
Ur-shanabi kepadanya, [kepada Gilgamesh:]
‘Mulailah, Oh
Gilgamesh! Ambil [galah-penolak] pertama!
Jangan biarkan
tanganmu menyentuh Perairan Maut, jangan sampai engkau [melumpuhkan]
[tanganmu]!
‘Ambil galah-penolak
kedua, Gilgamesh, ketiga dan keempat!
Ambil galah-penolak
kelima, Gilgamesh, keenam dan ketujuh!
Ambil galah-penolak
kedelapan, Gilgamesh, kesembilan dan kesepuluh!
Ambil galah-penolak
kesebelas, Gilgamesh, dan kedua belas!’
Pada jarak seratus dua
puluh furlong ganda
Gilgamesh telah
menggunakan semua galah-penolak itu,
maka dia,
[Ur-shanabi,] melonggarkan pakaiannya,
Gilgamesh melucuti
pakaian[nya],
dengan lengan
terangkat tinggi dia membuat sebuah tiang layar.
Uta-napishti
memperhatikan [mereka] di kejauhan,
berbicara pada dirinya
sendiri dia [mengucapkan] sepatah kata,
[berunding] di dalam
benaknya sendiri:
‘Mengapa
[Makhluk-makhluk Batu] perahu itu hancur semuanya,
dan yang berada di
atasnya seseorang yang bukan majikannya?
‘Dia yang datang
bukanlah anak buahku,
namun di sebelah kanan
……
Aku memperhatikan, namun
dia bukan [anak buah]ku …’
‘Tukang perahu itu
….…..,
pria yang kuperhatikan
……,
Seseorang yang
kuperhatikan ……’
Gilgamesh [mendekat]
ke dermaga.
Berkatalah Gilgamesh
kepadanya, [kepada Uta-napishti:]
‘[Panjang] umur
Uta-napishti, putra Ubar-[Tutu!]
… yang setelah Prahara
Air Bah ……
.….. apa ……?
.….….…’
[Berkatalah
Uta-napishti kepada]nya, kepada [Gilgamesh:]
‘[Mengapa] pipimu
[begitu tirus, wajahmu begitu] cekung,
[suasana hatimu]
begitu sengsara, [raut wajahmu] begitu layu?
‘[Mengapa di dalam
hatimu] berdiam kesedihan,
[dan wajahmu
menyerupai] seseorang yang datang dari jauh?
[Mengapa raut wajahmu
terbakar] oleh embun beku dan sinar mentari,
dan [mengapa engkau
mengembara di alam liar] dalam balutan pakaian singa?’
[Berkatalah] Gilgamesh
kepadanya, [kepada Uta-napishti:]
‘Mengapa seharusnya
pipiku tidak tirus, [wajahku tidak cekung,]
suasana hatiku tidak
sengsara, raut wajahku tidak layu?
‘Tidakkah seharusnya
kesedihan berdiam di dalam hatiku,
dan [wajah]ku tidak
menyerupai seseorang yang datang dari jauh?
[Tidakkah seharusnya]
raut wajahku [terbakar] oleh embun beku dan sinar mentari,
[dan tidakkah
seharusnya aku] mengembara di alam liar dalam balutan pakaian singa?
‘Sahabatku, seekor
keledai liar yang berlari,
[keledai di dataran
tinggi,] macan tutul di alam liar,
[sahabatku Enkidu,]
seekor keledai liar yang berlari,
[keledai di dataran
tinggi, macan tutul di alam liar –]
‘adalah kita
bersama-sama yang mendaki pegunungan,
[mencengkeram dan]
membinasakan [sang Banteng] Surga,
menghancurkan [Humbaba,
yang] berdiam [di] Hutan Aras,
membunuh singa-singa
[di celah-celah gunung –]
‘[sahabatku, yang
begitu kusayangi,]
[yang bersamaku
melewati] segala marabahaya,
[sahabatku Enkidu,
yang begitu kusayangi,]
[yang bersamaku]
melewati segala marabahaya:
[takdir umat manusia
menimpanya.]
‘[Enam hari] aku
menangisinya [dan tujuh malam:]
[Aku tidak menyerahkan
tubuhnya untuk] dimakamkan
[hingga seekor
belatung jatuh dari] lubang hidung[nya.]
[Lalu aku takut bahwa
aku juga akan mati,]
[aku tumbuh] takut
akan kematian, [maka mengembara di] alam liar.
‘Apa yang terjadi pada
[sahabatku terlalu berat] untuk [ditanggung,]
maka di jalan yang
jauh [aku mengembara di] alam liar;
apa yang terjadi pada
sahabatku Enkidu [terlalu berat untuk ditanggung,]
maka di jalan setapak
yang jauh [aku mengembara di alam liar.]
‘Bagaimana aku bisa
berdiam diri? Bagaimana aku bisa tetap tenang?
Sahabatku, yang
kucintai, telah berubah menjadi tanah liat,
sahabatku Enkidu,
[yang kucintai, telah berubah menjadi tanah liat.]
[Tidakkah] aku akan
menjadi seperti dia dan juga berbaring,
tak akan pernah
bangkit lagi, sepanjang [keabadian?]’
Berkatalah Gilgamesh
kepadanya, kepada Uta-napishti:
‘Aku berpikir, “Aku
akan menemukan Uta-napishti yang Jauh,
yang tentangnya orang-orang
bercerita”,
dan aku mengembara
melakukan perjalanan melintasi setiap negeri.
Berulang kali aku
melewati pegunungan yang mengerikan,
berulang kali aku
menyeberangi semua samudra.
‘Dari tidur yang lelap
wajahku terlalu sedikit mereguknya,
aku menyiksa diriku
dengan tak tertidur.
Aku telah memenuhi
urat nadiku dengan kesedihan,
dan apa yang telah
kucapai dengan jerih payahku ini?
‘Belum lagi aku
mencapai pemilik kedai itu, pakaianku telah usang.
[Aku membunuh]
beruang, dubuk, singa, macan tutul, cheetah,
rusa, kambing gunung,
binatang-binatang dan hewan buruan di alam liar:
aku memakan daging
mereka, bulu-bulu mereka aku kuliti.
‘Kini biarkanlah
gerbang kesedihan dipalangi,
biarkanlah [pintunya
disegel] dengan ter dan gala-gala,
demi diriku mereka tak
akan lagi [menghentikan] tarian,
[demi] diriku, yang
bahagia dan tak bersusah hati ……’
Berkatalah
Uta-napishti kepadanya, kepada [Gilgamesh:]
‘Mengapa, Gilgamesh,
engkau selalu [mengejar] kesedihan?
Engkau, yang merupakan
campuran dari daging dewa dan manusia,
yang mana para [dewa]
telah membentuk laksana ayah dan ibumu!
‘Pernahkah mereka,
Gilgamesh, membangun [istana] untuk seorang yang bebal,
menempatkan sebuah
singgasana di majelis, dan berkata [kepadanya,] “Duduklah!”?
Orang yang bebal
mendapat sisa ragi sebagai ganti minyak samin [segar,]
dedak dan gandum
giling sebagai ganti [tepung terbaik.]
‘Dia terbalut dalam
kain usang, sebagai ganti [pakaian yang megah,]
sebagai ganti sabuk
pinggang, dia diikat [dengan tali usang.]
Karena dia tak
memiliki penasihat [untuk membimbingnya,]
urusan-urusannya tak
beroleh petuah ……
‘Renungkanlah
untuknya, Gilgamesh, ……,
[yang merupakan]
majikan mereka, sebanyak ……?
.….…….
… bulan dan dewa-dewa
[malam.]
‘[Di] malam hari bulan
menjelajah ……,
para dewa tetap
terjaga, dan ……
Terjaga, tak tertidur,
……
sejak zaman dahulu
kala telah ditetapkan ……
‘Kini pertimbangkanlah
……,
sokonganmu ….…..
Jika, Gilgamesh,
kuil-kuil para dewa [tak memiliki]
penyedia kebutuhan,
kuil-kuil para dewi
……’
‘[Enkidu sungguh]
telah mereka bawa menuju ajalnya.
‘[Namun engkau,]
engkau bekerja keras, dan apa yang kau capai?
Engkau melelahkan
dirimu dengan jerih payah yang tiada henti.
Engkau memenuhi urat
nadimu dengan kesedihan,
membawa maju akhir
dari hari-harimu.
‘Manusia dipatahkan
bagai gelagah di ladang tebu!
Pemuda yang elok, pemudi
yang cantik –
terlalu [cepat di]
masa [jaya] mereka Maut menculik mereka!
‘Tak seorang pun
pernah melihat Maut,
tak seorang pun pernah
melihat wajah [Maut,]
tak seorang pun pernah
[mendengar] suara Maut,
Maut yang begitu buas,
yang membabat habis manusia.
‘Pernahkah kita
membangun rumah tangga kita (selamanya),
pernahkah kita membuat
sarang kita (selamanya),
pernahkah saudara
laki-laki membagi warisan mereka (selamanya),
pernahkah perseteruan
timbul di negeri ini (selamanya).
‘Pernahkah sungai
meluap dan membawakan kita air bah,
lalat capung
mengambang di atas air.
Di atas wajah matahari
raut wajahnya menatap,
lalu tiba-tiba tak ada
apa-apa di sana!
‘Mereka yang diculik
dan yang mati, serupa nasib mereka!
Namun tak pernah
digambarkan rupa Maut,
tak pernah di negeri
ini orang mati menyapa seorang pria.
‘Para Anunnaki,
dewa-dewa yang agung, menggelar sebuah majelis,
Mammitum, sang pembuat
takdir, menetapkan nasib bersama mereka:
baik Kematian maupun
Kehidupan mereka tetapkan,
namun hari Kematian
tidak mereka singkapkan.’
Komentar
Posting Komentar