Langsung ke konten utama

Tablet X. Di Tepi Dunia

 Shiduri adalah seorang pemilik kedai yang tinggal di tepi pantai,

di sanalah dia berdiam, [di sebuah kedai di tepi pantai.]

Penyangga pot dia miliki, dan [tong-tong besar yang semuanya dari emas,]

dia terbalut dalam tudung-tudung dan [bercadar dengan] cadar-cadar.

Gilgamesh datang mengembara ……,

dia mengenakan kulit binatang, dan menakutkan [untuk dipandang.]

Daging para dewa dia miliki di dalam [tubuhnya,]

namun di dalam [hatinya] ada kesedihan.

Wajahnya menyerupai seseorang yang datang dari jauh.

Saat pemilik kedai itu memperhatikannya di kejauhan,

berbicara pada dirinya sendiri dia mengucapkan sepatah kata,

berunding di dalam benaknya sendiri:

‘Pastilah pria ini seorang pemburu banteng liar,

namun dari manakah dia datang, berjalan lurus menuju gerbangku?’

Demikianlah pemilik kedai itu melihatnya, dan memalangi gerbangnya,

memalangi gerbangnya dan naik ke atas atap.

Namun Gilgamesh memasang telinga pada …,

dia mengangkat dagunya, dan menoleh [kepadanya.]

[Berkatalah] Gilgamesh kepadanya, [kepada pemilik]-kedai itu:

‘Pemilik kedai, mengapa [engkau memalangi] [gerbang]mu

segera setelah engkau melihat[ku?]

‘Engkau memalangi gerbangmu, [dan naik ke atas] atap.

Aku akan menghancurkan pintu itu,

aku akan [mematahkan gerendel-gerendelnya!]’

[Berkatalah pemilik kedai itu] kepadanya, [kepada] Gilgamesh:

‘…… aku memalangi gerbangku,

.….. [aku naik ke atas] atap.

.….. biarkan aku mengetahui tentang [perjalananmu!]’

[Berkatalah Gilgamesh kepada]nya, [kepada pemilik]-kedai itu:

‘[Sahabatku Enkidu dan aku ……:]

‘[adalah kita bersama-sama yang mendaki] pegunungan,

[mencengkeram dan membinasakan sang Banteng Surga,]

[menghancurkan Humbaba, yang berdiam di Hutan] Aras,

[membunuh] singa-singa [di celah-celah gunung.]’

Berkatalah [pemilik kedai itu kepadanya,] kepada Gilgamesh:

‘[Jika engkau dan Enkidu adalah] mereka yang membinasakan sang Penjaga,

[menghancurkan] Humbaba, yang berdiam di Hutan Aras,

membunuh singa-singa [di] celah-celah [gunung,]

[mencengkeram] dan membinasakan [sang] Banteng yang turun dari surga –

‘[mengapa] pipimu [begitu tirus,] wajahmu begitu cekung,

[suasana hatimu begitu sengsara,] raut wajahmu [begitu] layu?

[Mengapa] di dalam hatimu [berdiam kesedihan,]

dan wajahmu menyerupai seseorang [yang datang dari jauh?]

[Mengapa] raut wajahmu terbakar [oleh embun beku dan sinar mentari,]

[dan mengapa] engkau mengembara di alam liar [dalam balutan pakaian singa?]’

[Berkatalah Gilgamesh kepadanya,] kepada pemilik kedai itu:

‘[Mengapa pipiku tidak tirus, wajahku tidak cekung,]

[suasana hatiku tidak sengsara, raut wajahku tidak layu?]

‘[Tidakkah seharusnya kesedihan berdiam di dalam hatiku,]

[dan wajahku tidak menyerupai seseorang yang datang dari jauh?]

[Tidakkah seharusnya raut wajahku terbakar oleh embun beku dan

sinar mentari,]

[dan tidakkah seharusnya aku mengembara di alam liar dalam balutan pakaian singa?]

‘[Sahabatku, seekor keledai liar yang berlari,]

[keledai di dataran tinggi, macan tutul di alam liar,]

[sahabatku Enkidu, seekor keledai liar yang berlari,]

[keledai di dataran tinggi, macan tutul di alam liar,]

‘[sahabatku, yang begitu kusayangi,]

[yang bersamaku melewati segala marabahaya,]

[sahabatku Enkidu, yang begitu kusayangi,]

[yang bersamaku melewati segala marabahaya:]

‘[takdir umat manusia menimpanya.]

[Enam hari aku menangisinya dan tujuh malam.]

[Aku tidak menyerahkan tubuhnya untuk dimakamkan,]

[hingga seekor belatung jatuh dari lubang hidungnya.]

‘[Lalu aku takut bahwa aku juga akan mati,]

[aku tumbuh takut akan kematian, dan maka mengembara di alam liar.]

Apa yang terjadi pada sahabatku [terlalu berat] untuk ditanggung,

[maka di jalan yang jauh aku mengembara di] alam liar;

apa yang terjadi pada [sahabatku] Enkidu [terlalu berat] untuk ditanggung,

[maka di jalan setapak yang jauh] aku mengembara [di alam liar.]

‘[Bagaimana aku bisa berdiam diri?] Bagaimana aku bisa tetap tenang?

[Sahabatku, yang kucintai, telah berubah] menjadi tanah liat,

sahabatku Enkidu, yang kucintai, telah [berubah menjadi] tanah liat.

[Tidakkah aku akan menjadi seperti] dia, dan juga berbaring,

[tak akan pernah] bangkit lagi, sepanjang keabadian?’

Berkatalah Gilgamesh kepadanya, kepada pemilik kedai itu:

‘Kini, Oh pemilik kedai, di manakah jalan menuju Uta-napishti?

Apakah penandanya? Beri tahu aku!

Berikan aku penandanya!

Jika itu bisa dilakukan, aku akan menyeberangi samudra,

jika itu tak bisa dilakukan, aku akan mengembara di alam liar!’

Berkatalah pemilik kedai itu kepadanya, kepada Gilgamesh:

‘Oh Gilgamesh, belum pernah ada jalan untuk menyeberang,

juga sejak zaman dahulu kala tak ada seorang pun yang bisa menyeberangi samudra.

Hanya Shamash sang pahlawan yang menyeberangi samudra:

selain sang Dewa Matahari, siapakah yang menyeberangi samudra?

‘Penyeberangan itu sungguh berbahaya, jalannya penuh dengan marabahaya,

dan di tengah-tengah terbentanglah Perairan Maut, menghalangi jalan ke depan.

Jadi selain itu, Gilgamesh, setelah engkau menyeberangi samudra,

ketika engkau mencapai Perairan Maut, apa yang kelak akan kau lakukan?

‘Gilgamesh, di sana ada Ur-shanabi, tukang perahu dari Uta- napishti,

dan Makhluk-makhluk Batu bersamanya,

saat dia mengupas kulit pohon pinus di tengah hutan.

Pergilah, biarkan dia melihat wajahmu!

Jika [itu dapat] dilakukan, seberangilah bersamanya,

jika itu tak dapat dilakukan, berbaliklah dan pulanglah!’

Gilgamesh mendengar kata-kata ini,

dia mengangkat kapaknya di tangannya,

dia menghunus pedang [dari] sabuk[nya,]

ke depan dia mengendap-endap dan menerjang [mereka.]

Laksana anak panah dia menerjang di antara mereka,

di tengah-tengah hutan teriakannya menggema.

Ur-shanabi melihatnya dan membalut dirinya dalam auranya,

dia memungut sebuah kapak, gemetar di hadapannya.

Namun dia, Gilgamesh, memukul kepalanya dan mencengkeram rambutnya,

dia menjepit lengannya ke dadanya.

Makhluk-makhluk Batu itu telah menyegel perahunya,

mereka yang tak punya rasa takut akan Perairan Maut.

Gilgamesh melangkah ke dalam Samudra, laut yang luas,

di dalam air dia menghentikan perahu dan Makhluk-makhluk Batu itu.

Dia menghancurkan Makhluk-makhluk Batu itu, menjungkirkan mereka ke dalam sungai,

dia mengikat perahu itu dengan seutas tali,

dan … duduklah dia di tepian.

Berkatalah Gilgamesh kepadanya, kepada Ur-shanabi:

‘Jadi, Ur-shanabi, engkau memungut sebuah kapak, gemetar di hadapanku!

Pertarungan dan pertempuran yang kau cari tak akan kulancarkan kepadamu.’

Berkatalah Ur-shanabi kepadanya, kepada Gilgamesh:

‘Mengapa pipimu begitu tirus, [wajahmu begitu] cekung,

suasana hatimu begitu sengsara, [raut wajahmu begitu layu?]

‘[Mengapa di dalam hatimu] berdiam kesedihan,

dan [wajahmu menyerupai seseorang yang] datang dari jauh?

Mengapa [raut wajahmu] terbakar oleh embun beku dan sinar mentari,

[dan mengapa] engkau [mengembara di alam liar dalam balutan pakaian singa?]’

Berkatalah [Gilgamesh kepadanya,] kepada [tukang perahu Ur-shanabi:]

‘[Mengapa seharusnya] pipiku [tidak tirus, wajahku] tidak [cekung,]

[suasana hatiku tidak sengsara, raut wajahku] tidak layu?

‘[Tidakkah seharusnya] kesedihan [berdiam] di [dalam hatiku,]

[dan] wajah[ku tidak menyerupai seseorang yang datang dari jauh?]

[Tidakkah seharusnya raut wajahku] terbakar [oleh embun beku dan sinar mentari,]

dan tidakkah seharusnya aku [mengembara di alam liar dalam balutan pakaian singa?]

‘[Sahabatku, seekor keledai liar yang berlari,]

[keledai di dataran tinggi, macan tutul di alam liar,]

[sahabatku Enkidu, seekor keledai liar yang berlari,]

[keledai di dataran tinggi, macan tutul di alam liar –]

‘[adalah kita bersama-sama yang mendaki pegunungan,]

[mencengkeram dan membinasakan sang Banteng Surga,]

[menghancurkan Humbaba, yang berdiam di Hutan Aras,]

[membunuh singa-singa] di [celah-celah gunung –]

‘sahabatku [yang begitu kusayangi,]

[yang bersamaku melewati segala marabahaya,]

[sahabatku] Enkidu, [yang begitu kusayangi,]

[yang bersamaku melewati segala marabahaya:]

[takdir umat manusia] menimpa[nya.]

‘Enam hari [aku menangisinya dan tujuh malam:]

[Aku tidak menyerahkan tubuhnya untuk dimakamkan]

hingga [seekor belatung jatuh dari lubang hidungnya.]

Lalu aku takut [bahwa aku juga akan mati,]

[aku tumbuh takut akan kematian, maka mengembara di alam liar.]

‘Apa yang terjadi pada [sahabat]ku [terlalu berat untuk ditanggung,]

maka di jalan yang jauh aku [mengembara di alam liar;]

[apa yang terjadi pada sahabatku Enkidu terlalu berat untuk ditanggung,]

maka di jalan setapak yang jauh [aku mengembara di alam liar.]

‘Bagaimana aku bisa tetap [berdiam diri? Bagaimana aku bisa tetap tenang?]

Sahabatku, yang kucintai, telah [berubah menjadi tanah liat,]

[sahabatku Enkidu, yang kucintai, telah berubah menjadi tanah liat.]

Tidakkah aku akan menjadi seperti dia, dan juga [berbaring,]

[tak akan pernah bangkit lagi, sepanjang keabadian?]’

Berkatalah Gilgamesh kepadanya, kepada Ur-[shanabi, sang tukang perahu:]

‘Kini, Ur-shanabi, di manakah [jalan menuju Uta-napishti?]

Apakah penandanya? Beri tahu aku!

Berikan [aku penandanya!]

Jika itu bisa dilakukan, aku akan menyeberangi samudra,

jika itu tak bisa dilakukan, [aku akan mengembara di alam liar!]’

Berkatalah Ur-shanabi kepadanya, kepada Gilgamesh:

‘Tanganmu sendiri, Oh Gilgamesh, telah menghalangi [penyeberanganmu:]

engkau menghancurkan Makhluk-makhluk Batu, menjungkirkan [mereka ke dalam sungai,]

Makhluk-makhluk Batu itu telah hancur, dan pinus itu belum [dikupas.]

‘Ambillah, Oh Gilgamesh, kapakmu di [tanganmu,]

masuklah ke dalam hutan dan [tebanglah tiga ratus] galah-

penolak, masing-masing lima tongkat panjangnya.

Pangkaslah dan lengkapi masing-masing dengan sebuah bonggol,

lalu bawa [kemari ke hadapanku.]’

Gilgamesh mendengar kata-kata ini,

dia mengangkat kapaknya di tangannya,

dia menghunus [pedang dari sabuknya,]

dia masuk ke dalam hutan dan [menebang tiga ratus]

galah-penolak, masing-masing lima tongkat panjangnya.

Dia memangkasnya dan melengkapi masing-masing dengan sebuah bonggol,

lalu dia membawa[nya kepada Ur-shanabi, sang tukang perahu.]

Gilgamesh dan Ur-shanabi menaiki [perahu itu,]

mereka meluncurkan perahu itu, dan [mengawakinya] sendiri.

Dalam tiga hari, mereka menempuh jarak perjalanan

yang biasanya memakan waktu satu bulan setengah,

dan Ur-shanabi tiba di Perairan [Maut.]

[Berkatalah] Ur-shanabi kepadanya, [kepada Gilgamesh:]

‘Mulailah, Oh Gilgamesh! Ambil [galah-penolak] pertama!

Jangan biarkan tanganmu menyentuh Perairan Maut, jangan sampai engkau [melumpuhkan]

[tanganmu]!

‘Ambil galah-penolak kedua, Gilgamesh, ketiga dan keempat!

Ambil galah-penolak kelima, Gilgamesh, keenam dan ketujuh!

Ambil galah-penolak kedelapan, Gilgamesh, kesembilan dan kesepuluh!

Ambil galah-penolak kesebelas, Gilgamesh, dan kedua belas!’

Pada jarak seratus dua puluh furlong ganda

Gilgamesh telah menggunakan semua galah-penolak itu,

maka dia, [Ur-shanabi,] melonggarkan pakaiannya,

Gilgamesh melucuti pakaian[nya],

dengan lengan terangkat tinggi dia membuat sebuah tiang layar.

Uta-napishti memperhatikan [mereka] di kejauhan,

berbicara pada dirinya sendiri dia [mengucapkan] sepatah kata,

[berunding] di dalam benaknya sendiri:

‘Mengapa [Makhluk-makhluk Batu] perahu itu hancur semuanya,

dan yang berada di atasnya seseorang yang bukan majikannya?

‘Dia yang datang bukanlah anak buahku,

namun di sebelah kanan ……

Aku memperhatikan, namun dia bukan [anak buah]ku …’

‘Tukang perahu itu ….…..,

pria yang kuperhatikan ……,

Seseorang yang kuperhatikan ……’

Gilgamesh [mendekat] ke dermaga.

Berkatalah Gilgamesh kepadanya, [kepada Uta-napishti:]

‘[Panjang] umur Uta-napishti, putra Ubar-[Tutu!]

… yang setelah Prahara Air Bah ……

.….. apa ……?

 

.….….…’

[Berkatalah Uta-napishti kepada]nya, kepada [Gilgamesh:]

‘[Mengapa] pipimu [begitu tirus, wajahmu begitu] cekung,

[suasana hatimu] begitu sengsara, [raut wajahmu] begitu layu?

‘[Mengapa di dalam hatimu] berdiam kesedihan,

[dan wajahmu menyerupai] seseorang yang datang dari jauh?

[Mengapa raut wajahmu terbakar] oleh embun beku dan sinar mentari,

dan [mengapa engkau mengembara di alam liar] dalam balutan pakaian singa?’

[Berkatalah] Gilgamesh kepadanya, [kepada Uta-napishti:]

‘Mengapa seharusnya pipiku tidak tirus, [wajahku tidak cekung,]

suasana hatiku tidak sengsara, raut wajahku tidak layu?

‘Tidakkah seharusnya kesedihan berdiam di dalam hatiku,

dan [wajah]ku tidak menyerupai seseorang yang datang dari jauh?

[Tidakkah seharusnya] raut wajahku [terbakar] oleh embun beku dan sinar mentari,

[dan tidakkah seharusnya aku] mengembara di alam liar dalam balutan pakaian singa?

‘Sahabatku, seekor keledai liar yang berlari,

[keledai di dataran tinggi,] macan tutul di alam liar,

[sahabatku Enkidu,] seekor keledai liar yang berlari,

[keledai di dataran tinggi, macan tutul di alam liar –]

‘adalah kita bersama-sama yang mendaki pegunungan,

[mencengkeram dan] membinasakan [sang Banteng] Surga,

menghancurkan [Humbaba, yang] berdiam [di] Hutan Aras,

membunuh singa-singa [di celah-celah gunung –]

‘[sahabatku, yang begitu kusayangi,]

[yang bersamaku melewati] segala marabahaya,

[sahabatku Enkidu, yang begitu kusayangi,]

[yang bersamaku] melewati segala marabahaya:

[takdir umat manusia menimpanya.]

‘[Enam hari] aku menangisinya [dan tujuh malam:]

[Aku tidak menyerahkan tubuhnya untuk] dimakamkan

[hingga seekor belatung jatuh dari] lubang hidung[nya.]

[Lalu aku takut bahwa aku juga akan mati,]

[aku tumbuh] takut akan kematian, [maka mengembara di] alam liar.

‘Apa yang terjadi pada [sahabatku terlalu berat] untuk [ditanggung,]

maka di jalan yang jauh [aku mengembara di] alam liar;

apa yang terjadi pada sahabatku Enkidu [terlalu berat untuk ditanggung,]

maka di jalan setapak yang jauh [aku mengembara di alam liar.]

‘Bagaimana aku bisa berdiam diri? Bagaimana aku bisa tetap tenang?

Sahabatku, yang kucintai, telah berubah menjadi tanah liat,

sahabatku Enkidu, [yang kucintai, telah berubah menjadi tanah liat.]

[Tidakkah] aku akan menjadi seperti dia dan juga berbaring,

tak akan pernah bangkit lagi, sepanjang [keabadian?]’

Berkatalah Gilgamesh kepadanya, kepada Uta-napishti:

‘Aku berpikir, “Aku akan menemukan Uta-napishti yang Jauh,

yang tentangnya orang-orang bercerita”,

dan aku mengembara melakukan perjalanan melintasi setiap negeri.

Berulang kali aku melewati pegunungan yang mengerikan,

berulang kali aku menyeberangi semua samudra.

‘Dari tidur yang lelap wajahku terlalu sedikit mereguknya,

aku menyiksa diriku dengan tak tertidur.

Aku telah memenuhi urat nadiku dengan kesedihan,

dan apa yang telah kucapai dengan jerih payahku ini?

‘Belum lagi aku mencapai pemilik kedai itu, pakaianku telah usang.

[Aku membunuh] beruang, dubuk, singa, macan tutul, cheetah,

rusa, kambing gunung, binatang-binatang dan hewan buruan di alam liar:

aku memakan daging mereka, bulu-bulu mereka aku kuliti.

‘Kini biarkanlah gerbang kesedihan dipalangi,

biarkanlah [pintunya disegel] dengan ter dan gala-gala,

demi diriku mereka tak akan lagi [menghentikan] tarian,

[demi] diriku, yang bahagia dan tak bersusah hati ……’

Berkatalah Uta-napishti kepadanya, kepada [Gilgamesh:]

‘Mengapa, Gilgamesh, engkau selalu [mengejar] kesedihan?

Engkau, yang merupakan campuran dari daging dewa dan manusia,

yang mana para [dewa] telah membentuk laksana ayah dan ibumu!

‘Pernahkah mereka, Gilgamesh, membangun [istana] untuk seorang yang bebal,

menempatkan sebuah singgasana di majelis, dan berkata [kepadanya,] “Duduklah!”?

Orang yang bebal mendapat sisa ragi sebagai ganti minyak samin [segar,]

dedak dan gandum giling sebagai ganti [tepung terbaik.]

‘Dia terbalut dalam kain usang, sebagai ganti [pakaian yang megah,]

sebagai ganti sabuk pinggang, dia diikat [dengan tali usang.]

Karena dia tak memiliki penasihat [untuk membimbingnya,]

urusan-urusannya tak beroleh petuah ……

‘Renungkanlah untuknya, Gilgamesh, ……,

[yang merupakan] majikan mereka, sebanyak ……?

.….…….

… bulan dan dewa-dewa [malam.]

‘[Di] malam hari bulan menjelajah ……,

para dewa tetap terjaga, dan ……

Terjaga, tak tertidur, ……

sejak zaman dahulu kala telah ditetapkan ……

‘Kini pertimbangkanlah ……,

sokonganmu ….…..

Jika, Gilgamesh, kuil-kuil para dewa [tak memiliki]

penyedia kebutuhan,

kuil-kuil para dewi ……’

‘[Enkidu sungguh] telah mereka bawa menuju ajalnya.

‘[Namun engkau,] engkau bekerja keras, dan apa yang kau capai?

Engkau melelahkan dirimu dengan jerih payah yang tiada henti.

Engkau memenuhi urat nadimu dengan kesedihan,

membawa maju akhir dari hari-harimu.

‘Manusia dipatahkan bagai gelagah di ladang tebu!

Pemuda yang elok, pemudi yang cantik –

terlalu [cepat di] masa [jaya] mereka Maut menculik mereka!

‘Tak seorang pun pernah melihat Maut,

tak seorang pun pernah melihat wajah [Maut,]

tak seorang pun pernah [mendengar] suara Maut,

Maut yang begitu buas, yang membabat habis manusia.

‘Pernahkah kita membangun rumah tangga kita (selamanya),

pernahkah kita membuat sarang kita (selamanya),

pernahkah saudara laki-laki membagi warisan mereka (selamanya),

pernahkah perseteruan timbul di negeri ini (selamanya).

‘Pernahkah sungai meluap dan membawakan kita air bah,

lalat capung mengambang di atas air.

Di atas wajah matahari raut wajahnya menatap,

lalu tiba-tiba tak ada apa-apa di sana!

‘Mereka yang diculik dan yang mati, serupa nasib mereka!

Namun tak pernah digambarkan rupa Maut,

tak pernah di negeri ini orang mati menyapa seorang pria.

‘Para Anunnaki, dewa-dewa yang agung, menggelar sebuah majelis,

Mammitum, sang pembuat takdir, menetapkan nasib bersama mereka:

baik Kematian maupun Kehidupan mereka tetapkan,

namun hari Kematian tidak mereka singkapkan.’

Komentar