Langsung ke konten utama

Postingan

Kematian Gilgamesh: ‘Banteng liar agung itu membaringkan dirinya’

Berkat penemuan beberapa naskah baru di Mê-Turan (Tell Haddad), puisi ini kini lebih dipahami oleh para ahli. Namun, beberapa bagian di dalamnya masih sangat sulit diterjemahkan. Oleh karena itu, sama halnya dengan kisah "Gilgamesh dan Banteng Surga", terjemahan puisi ini masih bersifat sementara dan belum sepenuhnya pasti. Kisah ini dibuka dengan pemandangan Gilgamesh yang sedang terpuruk. Ia jatuh sakit dan mengigau di ranjang kematiannya karena dicengkeram oleh Namtar, sang utusan maut. Dalam kondisi tersebut, dewa Enki (dalam wujud Nudimmud) memberikan sebuah penglihatan kepada Gilgamesh. Ia melihat dirinya berada dalam sidang para dewa yang sedang memperdebatkan takdirnya. Para dewa meninjau kembali segala pencapaian hebat sang pahlawan, mulai dari petualangannya di Hutan Aras, perjalanannya ke ujung dunia, hingga ilmu kuno yang ia dapatkan dari Ziusudra, sang penyintas Air Bah. Mereka menghadapi sebuah dilema. Mengingat Gilgamesh adalah putra dari seorang dewi, apakah...

Gilgamesh dan Dunia Bawah: ‘Pada masa itu, pada masa yang jauh di masa silam’

Puisi kuno yang dikenal dengan judul "Pada masa itu, pada masa yang jauh di masa silam" merupakan bacaan favorit di sekolah juru tulis Nippur dan Ur pada zaman Babilonia Lama. Berbeda dari kisah Sumeria lainnya, puisi ini memiliki prolog mitologi. Dikisahkan pada zaman dahulu kala, saat dewa Enki berlayar menuju Dunia Bawah menembus badai dahsyat, sebatang pohon dedalu tumbang di tepi sungai Efrat. Dewi Inanna memungut pohon itu dan menanamnya di Uruk dengan harapan kayunya kelak bisa dijadikan perabotan. Namun setelah pohon itu tumbuh besar, makhluk-makhluk jahat bersarang di sana. Karena dewa matahari Utu enggan menolongnya, Inanna meminta bantuan Gilgamesh. Sang pahlawan berhasil mengusir makhluk-makhluk itu, menebang pohonnya, dan menyerahkan kayunya kepada Inanna. Dari sisa kayu tersebut, Gilgamesh membuat dua alat permainan yang diyakini oleh para ahli sebagai bola dan palu pemukul. Gilgamesh dan para pemuda Uruk asyik bermain dengan mainan baru itu sepanjang hari sam...